BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam membahas sesuatu masalah, pengertian atau definisi dari masalah yang akan dibicarakan harus dimengerti terlebih dahulu karena pengertian tersebut akan menentukan arah pembahasan dari masalah yang akan dibahas.
Konsep bimbingan konseling selanjutnya mengarah kepada pemahaman bahwa konsepsi bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu saling berkaikan. Keterkaitan itu lebih jauh akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep bimbingan konseling?
2. Bagaimana konsep perkembangan?
3. Apa yang dimaksud dengan dasar psikologis?
4. Apa pengertian DKB?
5. Apa pengertian lupa itu?
C. Tujuan
Membantu mahasiswa memperoleh pengalaman belajar tentang:
1. Penyelenggaraan Bimbingan Konseling Belajar yang efektif.
2. Perkembangan Peserta Didik.
3. Penyelenggaraan Kelompok Belajar.
4. Diagnosis Kesulitan Belajar.
5. Lupa dan Transfer Belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. MATERI 1
1. Konsep bimbingan konseling belajar
a. Pengertian Bimbingan
1) Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).
2) Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.
3) Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
Dapat disimpulakan bimbingan adalah Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”
b. Pengertian Konseling
Konseling berasal dari bahasa latin consillium berrarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan. Menurut para ahli konseling adalah;
1) Jones, 1951, konseling terdiri atas pengungkapan atau data tentang siswa serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi masalah-masaalah yang dihadapinya, Bantuan itu diberikan secara langsung kepada siswa, Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mengalami perkembangan yang semakin maju dan baik.
2) Mclean dalam sherter & stone 1974, Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan, Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka, Individu yang dikonseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah.,Dilakukan oleh orang yang ahli (profesional) yaitu orang yang terlatih baik dan telah memiliki pengalaman, Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah atau gangguan.
Berdasarkan pendapat dari para ahli diatas maka dapat disimpulkan secara singkat pengertian konseling yaitu: proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konsleing oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah klien.
c. Pengertian belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?
1) Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
2) Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
3) Jung , (1968) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
Dapat disimpulkan bahwa pelayanan bimbingan belajar adalah untuk membantu murid-murid yang mengalami masalah didalam memasuki proses belajar dan situasi belajar yang dihadapinya. Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi:
a. Mengembangakan pemahaman tentang diri terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahannya dan penanggulangannya dan usaha-usaha pencapaian cita-cita/ perencanaan masa depan.
b. Mengembaangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkahlaku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secra efektif dan efisien.
d. Teknik penguassaan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian.
e. Meembantu memantapkan pilihan karir yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan informasi karier, orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.
2. Prinsip efisiensi dalam belajar
Ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
a. Belajar memerlukan dorongan atau motivasi
b. Belajar memerlukan pemusatan perhatian pada hal-hal yang sedang dipelajari
c. Berusaha untuk lebih mengerti terlebih dahulu sebelum dihafal
d. Sering mengulang hal-hal yang telah dipelajari
e. Yakinkan bahwa yang setiap dipelajari akan berguna nantinya
f. Yakinkan bahwa hal-hal yang telah dipelajari dapat dimanfaatkan untuk mempelajari yang lain (transfer pengetahuan)
g. Belajar dengan ekspresi (mengutarakan kembali dengan bahasa sendiri)
3. Bimbingan prestasi belajar dengan intelegensi
Ada beberapa pendapat tentang inteligensi, diantaranya adalah:
1. Claparade dan Stern mengatakan inteligensi adalah “kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru”
2. K. Buhler, mengatakan inteligensi adalah “perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian”
3. David Wechsler, mengatakan bahwa “kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya” Pada kesempatan lain ia mengatakan “kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif”.
Dari definisi-definisi di atas kita dapat menarik kesimpulan yang menjelaskan ciri-ciri inteligensi:
1) Inteligensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
2) Inteligensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya. .
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
1. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
2. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
3. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak
4. Belajar berkat insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
5. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.
4. Faktor-faktor yang harus diperhatikan di dalam belajar
Agar dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya, haruslah diperhatikan faktor-faktor yang terdapat di dalam belajar itu. Di dalam belajar akan didapati adanya:
a. Faktor Anak/Individu
Faktor individu merupakan faktor paling penting. Anak jadi belajar atau tidak adalah tergantung pada anak itu sendiri. Individu terbentuk dari fisik dan psikis yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Satu dengan lainnya saling mempengaruhi. Ini berarti kalau ada gangguan baik dalam segi fisik maupun psikis, hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.
b. Faktor Fisik
Ini berhubungan erat dengan soal kesehatan fisik. Untuk menjaga kesehaan badan perlu ada aktivitas fisik (bergerak badan) sebagai selingan belajar untuk menjaga agar badan selalu dalam kondisi yang baik. Berhubung dengan hal tersebut maka apabila terasa ada gangguan fisik maka harus segera mendapatkan perhatian.
c. Faktor Psikis
Bahwa individu harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk menghadapi tugas. Kesiapan mental (mental set) ini sangat mempengaruhi motif, minat, perhatian, konsentrasi dan sebagainya.
1) Motif
Apabila anak mempunyai motif yang cukup kuat untuk belajar, maka ia akan berusah agar dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Motif ini akan cukup kuat apabila individu mempunyai kesadaran akan makna serta tujuan dari apa yang harus dilakukannya.
2) Minat
Apabila anak telah mempunyai minat maka akan mendorong individu untuk berbuat sesuai dengan minatnya.
3) Natural Curiosity
keinginan untuk mengetahui sacara alami. Kalau dalam diri anak sudah terselip rasa ingin tahu, ini berarti bahwa anak memiliki dorongan atau motif untuk mengetahui apa hakikat dari mata pelajaran yang dipelajari itu.
4) Intelegensi
Faktor ini akan turut menentukan taktik atau cara apa yang diambil di dalan menghadapi materi yang harus dipelajari. Belajar dengan pengertian akan jauh berbeda hasilnya apabila tanpa pengertian, dan pengertian ini erat hubungannya dengan intelegensi.
5) Ingatan
Tujuan belajar ialah agar apa yang dipelajari itu tetap tinggal dalam ingatan. Karenanya perlu adanya pengulangan dari apa yang telah pernah dipelajari. Makin sering apa yang dipelajari itu ditimbulkan di atas ambang kesadaran maka akan semakin baiklah meteri itu tetap tinggal dalam ingatan.
6) Faktor Lingkungan
Dalam proses belajar, faktor lingkungan juga memegang peran penting. Pengertian lingkungan di sini adalah termasuk peralatan. Oleh karenanya hal ini harus mendaparkan perhatian sebaik-baiknya. Faktor lingkungan ini berhubungan dengan:
a) Tempat
Tempat belajar yang baik adalah merupakan tempat yang tersendiri, yang terang, warna dindingnya sebaiknya jangan yang tajam dan mencolok, dan dalam ruangan jangan sampai ada hal-hal yang dapat mengganggu perhatian. Perlu pula diperhatikan tentang penerangan yang harus cukup dan ventilasi udara pun perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
b) Alat-alat untuk Belajar
Belajar tidak dapat berjalan dengan baik bilamana tanpa alat-alat yang cukup. Semakin lengkap alatnya maka akan semakin mudah untuk belajar sebaik-baiknya.
7) Faktor Bahan yang harus Dipelajari
Bahan yang dipelajari akan menentukan cara arau metode belajar apa yang akan ditempuh. Hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Pada umumnya belajar dengan cara keseluruhan lebih baik daripada belajar secara bagian-bagian.
b) Sebagian waktu belajar disediakan untuk melakukan ulangan. Ulangan ini digunakan untuk mengecek sampai di mana bahan yang dipelajari itu tinggal dalam ingatan.
c) Atas apa yang dipelajari hendaknya diadakan ulangan sekerap mungkin. Makin sering diulang maka akan makin baik tinggal dalam ingatan.
d) Di dalam mengulangi bahan pelalaran hendaknya dipakai spaced repetition, yaitu mengulangi dengan waktu tenggang. Umumya mengulangi dengan spaced repetition itu lebih baik hasilnya daripada dengan massed repetition. Pada spaced repetition, anak mempunyai energi baru setelah istirahat sebentar.
B. MATERI II
1. Konsep perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai proses berlangsungnya perubahan-perubahan dalam diri seseorang, yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya. Pada anak didik proses itu memuncak, bila dia telah mencapai kedewasaan. Sudah tentu bahwa, setelah itu, perkembangan masih berjalan terus sampai orang memasuki usia lanjut, tetapi yang terutama disoroti sekarang ini ialah proses perubahan yang berlangsung pada anak yang masih dalan taraf pendidikan.
2. Tahap-tahap perkembangan
Salah satu aspek pokok dari perkembangan ialah “pertumbuhan” yaitu proses perubahan yang berlangsungnya sejumlah perubahan jasmani pada diri seseorang dengan meningkatkan umur, sampai kejasmanian telah terbentuk sepenuhnya. Pertumbuhan berlangsung sehak saat terjadi pembuahan dan menyumbangkan struktur jasmaniah yang memungkinkan perkembangan mental/psikis, yang meliputi aspek perkembangan kognitif, perkembangan konatif, perkembangan afektif, perkembangan sosial dan perkembangan motorik.
a. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif meliputi peningkatan pengetahuan serta pemahaman, yang sering juga disebut “perkembangan intelektual”, dan perluasan kemampuan berbahasa.
2) Perkembangan Konatif
Perkembangan Konatif meliputi penghayatan berbagai kebutuhan, baik biologis maupun psikologis, dan penentuan diri sebagai makhluk yang bebas dan rasional penggerak yang memberikan arah pada beraneka aktivitas. Misalnya, penghayatan akan kebutuhan untuk makan menimbulkan daya penggerak untuk berbuat sesuatu, sehinnga kebutuhan akan makanan dapat dipenuhi.
3) Perkembangan Afektif
Perkembangan afektif menyangkut pemerkayaan alam perasaan. Kalau anak pada awal mula hanya mengenal perasaan senang atau perasaan tidak senang, lama kelamaan dia akan mengalami berbagai bentuk perasaan yang senang, seperti rasa puas, gembira, kagum; demikian pula perasaan tidak senang akan mengalami berbagai variasi, seperti rasa takut, benci, kesal, marah. Suatu reaksi perasaan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi kehidupan.
1. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial menyangkut kemampuan untuk bergaul secara memuaskan dengan seluruh anggota keluarga, semua teman di sekolah serta warga masyarakat.
2. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik meliputi kemampuan untuk menggunakan otot-otot, urat-urat dan persendian-persendian dalam tubuh sedemikian rupa, sehingga anak dapat merawat diri sendiri dan bergerak dalam lingkungan secara efisien dan efektif. Belajar itu meliputi tiga bidang belajar, yaitu:
a. Belajar di bidang kognitif
Anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman.
b. Belajar di bidang sensorik-motorik
Anak memperoleh setumpuk keterampilan yang melibatkan otot, urat serta persendian tubuhnya (motorik) dan alat-alat indera seperti mata serta telinga (sensorik), namun pemikiran, perasaan, dan kemauan berperan juga (psikomotorik).
c. Belajar di bidang dinamik-afektif
Anak memperoleh berbagai sikap dan perasaan yang ikut menetukan tindakan-tindakan yang akan diambil, sikap dan perasaan itu memberikan enersi psikis (dinamik) dan semangat melalui rasa-rasa tertentu yang meresapi tingkah lakunya (afektif).
3. Tugas-tugas perkembangan
Individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan. Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah kematangan fisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu. Pembagian tugas-tugas perkembangan untuk masing-masing fase dari sejak masa bayi sampai usia lanjut dikemukakan oleh Havighurst sebagai berikut:
1. Masa bayi dan anak-anak
a. Belajar berjalan
b. Belajar makan makanan padat
c. Belajar berbicara
d. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
e. Mencapai stabilitas fisiologis
2. Masa Anak Sekolah
a. Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
b. Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai organisme yang sedang tumbuh
c. Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya
d. Belajar peranan jenis kelamin
e. Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
3. Masa Remaja
a. Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif
b. Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai pria/wanita
c. Menginginkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab social
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
e. Pemilihan dan latihan jabatan
f. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
4. Masa Dewasa Awal
a. Mulai bekerja
b. Memilih pasangan hidup
c. Belajar hidup dengan suami/istri
d. Mulai membentuk keluarga
5. Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
a. Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
b. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
c. Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
C. MATERI III
1. Dasar psikologis
Pembahasan fungsi jiwa dalam tulisan ini adalah fungsi-fungsi jiwa yang bersifat umum. Hal ini dimaksudkan, bahwa didalam membicarakan fungsi-fungsi jiwa tidak akan mempermasalahkan fungsi-fungsi psikis secara teliti. Misalnya masalah kepribadian individu, tetapi hanya memandang suatu bentuk umum tentang kelakuan-kelakuan pribadi. Fungsi jiwa berbeda-beda, sehingga kita meninjau fungsi jiwa itu sebagian-sebagian, namun secara keseluruhan dari fungsi jiwa akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, kita sedang melihat suatu keindahan di pagi hari, melihat ini merupakan fungsi jiwa yang bersifat umum. Pada waktu melihat kita mengenal bahan-bahan, proses yang terjadi tidak akan terlepas dengan soal memikir, mendengar, dan merasa.
a. Pengertian Belajar.
Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar, baik potensial maupun aktual. Perubahan tersebut dalam bentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam u/aktu yang cukup lama. Dan perubahan itu terjadi karena berbagai usaha yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan. Berikut ini disampaikan beberapa pendapat ahli tentang belajar.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor penting yang sangat erat hubungannya dengan proses belajar adalah: pengalaman, perkembangan, berfikir/pikiran, dan tingkah laku, namun demikian kita harus dapat membedakan antarafaktor-faktor tersebut dengan pengertian belajar itu sendiri. Didalam definisi diatas dikatakan bahwa “belajar adalah perkembangan dari pada hubungan-hubungan baru sebagai hasil dari pengalaman”. Belajar dan pengalaman, keduanya proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita, tetapi, belajar dan memperoleh pengalaman adalah berbeda. Mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar dalam arti yang sebenarnya, meskipun kita dapat mengatakan bahwa tiap-tiap belajar berarti juga mengalami sesuatu. Sedangkan kata perkembangan yang digunakan di dalam definisi diatas dimaksudkan untuk mewujudkan bahwa perubahan hubungan-hubungan baru dalam belajar merupakan suatu yang positif merupakan perubahan progresif yang makin menuju ke tingkat yang lebih tinggi.
c. Teori-Teori Belajar.
1) Teori Conditioning Dari Pavlov.
Bahwa dalam belajar perlu adanya latihan-latihan dan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang telah melekat didalam diri dapat mempengaruhi dan bahkan mengganggu proses belajar terutama belajar yang bersifat ketangkasan atau skills.
2) Teori Conditioning: Watson
Untuk menjadikan seseorang itu belajar, haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. ‘Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinyu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis, Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari pada conditioning, Yaitu hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya didalam kehidupannya. Kelemahan dari pada teori conditioning ini ialah teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan pencetaan pribadi dari dalam diri tidak dihiraukannya.
3) Teori Conditioning dari Gutrie.
Gutrie dalam bukunya “The Psychology of Learning”, menguraikan bagaimana cara atau metode untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik berdasarkan teori conditioning. la mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Didalam rangkaian tersebut unit-unit tingkah laku itu merupakan reaksi terhadap perangsang/ stimulussebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi stimulus pula yang kemudian reaksi/respon bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga serangkaian unit-unit tingkah laku yang terus menerus. Jika dalam proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan. Ulangan atau latihan yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang tercepat antara unit tingkah laku yang satu denagan unit tingkah laku berikutnya.
2. Tujuan kelompok belajar
Belajar kelompok mempunyai tujuan utama agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama, terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran, juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau berbicara. Anak-anak ini akan merasa aman jika berbicara dalam kelompok kecil daripada secara klasikal. Melatih anak belajar kelompok, berarti juga menyiapkan anak untuk menjadi dewasa yang bisa bekerjasama dengan orang lain. Dalam kenyataan hidup yang membuat manusia sukses adalah kemampuannya menerapkan kecerdasan untuk bekerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Lebih-lebih dalam masyarakat modern, kemampuan bekerjasama semakin penting dan mutlak dibutuhkan (Schmuck,1985). Sebagai ilustrasi, terwujudnya sebuah gedung yang megah merupakan hasil kerjasama berbagai teknisi ahli.
Keuntungan | Kerugian (mungkin) |
a. alat efisien untuk ceramah, film dan demonstrasi b. mengembangkan rasa aman dan “saya berada dalam kelompok” c. mempermudah untuk pengajaran konsep baru d. meningkatkan otoritas guru e. mengesankan hanya satu sumber belajar | a. mengurangi tanggung-jawab individu b. mengesampingkan kebutuhan individu dan kebutuhan kelompok besar c. menghambat variasi pembelajaran d. menghambat partisipasi social e. meningkatkan masalah fisik (penglihatan, pendengaran) f. mengurangi keterlibatan dalam tugas/kegiatan. |
Keuntungan | Kerugian (mungkin) |
a. mempermudah komunikasi b. meningkatkan interaksi c. mendorong keterlibatan d. mendorong untuk membantu orang lain dan menerima tanggung-jawab e. melatih kemampuan bernegosiasi f. mengembangkan kemampuan mengambil keputusan g. mengembangkan rasa perlu berbagi pendapat h. meningkatkan kerjasama i. memungkinkan variasi pembelajaran j. guru berkesempatan untuk mengamati, mendengarkan dan mendiagnosis siswa |
3. Teknik pembentukan kelompok belajar
Untuk membentuk Kelompok belajar, ada beberapa cara atau tehnik yang dapat digunakan, yaitu pembentukan yang bersifat Otoriter, Bebas, Dan Terpimpin.
4. Teknik pembentukan secara otoriter
Dalam pembentukan kelompok belajar dengan cara ini kelompok ditentukan sedemikian rupa oleh guru atau pembimbing tanpa memperhatikan pendapat anak-anak.Dengan demikian maka kelompok itu besar kemungkinannya tidak sesuai dengan kehendak anak-anak.
Walau pembentukan dengan cara ini ada keuntunganya , tetapi ada juga kelemahannya.Keuntungannya ,dengan tehnik ini maka kelompok belajar dapat dengan segera terbentuk.Begitu kelompok terbentuk maka kelompok belajar akan segera dapat berlangsung. Kelemahannya, karena kelompok itu mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak-anak,hal itu akan menghambat keberlangsungan kelompok lebih lanjut dan besar kemungkinannya akan terjadinya desintegrasi dari kelompok itu.
5. Teknik pembentukan secara bebas
Teknik ini adalah dengan menyerahkan pembentukan kelompok belajar itu kepada anak-anak sementara guru atau pembimbing tidak ikut campur tangan.Tehnik ini merupakan tehnik yang sebaliknya dari yang pertama.Tehnik inipun mengandung segi-segi yang menguntungkan disamping juga ada segi-segi yang menguntungkan disamping juga ada segi-segi kelemahannya .
Keuntungannya ialah :
a. Anak-anak dapat memilih teman –teman yang betul-betul cocok sehingga mereka betul-betul kompak dan dapat diharapkan akan dapat berlangsung dengan baik.
b. Di dalamn kelompok itu ada kepercayaan yang mendalam sehingga anta mereka dapat berterus terang mengenai segala sesuatu.
Kelemahannya ialah :
1) Mungkin akan ada anak yang tidak dipilih sama sekali untuk masuk ke kdalam kelompok. Bila hal ini terjadi maka akan membawa akibat yang kurang baik.
2) Ada kemungkinan bahwa kelompok yang satu dengan yang lain akan saling tertutup menutupi sehingga akan dapat menimbulkan ekses yang kurang baek.
3) Ada kemungkinan bahwa anak-anaka yag pandai akan menjadi satu kelompok, demikian pula dengan anak-anak yang bodoh.situasi yang demikian tentu akan berakibat tidak baik.
4) Ada kemungkinan anak –anak dari lingkungan sosial yang baik, terutama dari segi sosial-ekonomi, menjadi satu dan demikian juga sebaliknya.keadaan yang demikian ini jelas tidak baik dari segi pendidikan karena pada anak-anak akan tertanam sifat atau sikap yang kurang baik.anak yang satu akan memandang rendah anak yang lain
6. Teknik pembentukan kelompok secara terpimpin
Pembentukan kelompok belajar dengan teknik pembentukan terpimpin ini merupakan teknik yang sebaik-baiknya. Teknik ini merupakan perpaduan dari teknik pembentukan secara otoriter dan teknik pembentukan secara bebas. Disamping memperhatikan pendapat-pendapat atau keinginan anak-anak, guru atau pembimbing ikut campur secara aktif didalam proses pembentukan kelompok tersebut. Untuk dapat mengetahui keinginan atau kehendak dari anak-anak dapat dapat ditempuh dengan jalan:
a. Observasi
7. Prosedur pembentukan
Di dalam pembentukan kelompok belajar ini perlulah di ambil prosedur sebagai berikut :
a. Memberikan kuesioner sosiometrik kepada anak-anak mengenai pilihan teman belajar beserta alasan-alasannya mengapa memilih teman tersebut
b. setelah hasil kuesioner ,asuk, kita buat tabulasi arah pilih anak-anak, untuk mengetahui frekuensi pemilihan anak-anak.
c. Dari tabulasi arah pilih anak lalu di buat sosigram, untuk mengetahui jaringan interaksi sosial anak di dalam pemilihan kelompok belajar itu.
8. Besarnya kelompok
Besar kecilnya kelompok tergantung pada besar-kecilnya kelas dan lancer tidaknya proses belajar. Dalam besar kecilnya kelompok peru diperhatikan pula factor-faktor seperti:
a. Tempat tonggal anak
b. Kemampuan di dalam belajarnya
c. Interaksi social anak
d. Intelegensi anak
e. Sifat-sifat lain dari anak (misalnya, sifat kepemimpinan)
1) Peranan anggota dalam suatu kelompok adalah sebagai berikut :
a) Membantu terbinanya keakraban dalam kelompok.
b) Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kelompok
c) Berusaha agar setiap yang dilakukan membantu tercapainya tujuan bersama
d) Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik
2) Berhasil tidaknya sebuah kelompok tergantung pada :
a) Hubungan yang dinamis antar anggota kelompok
b) Tujuan bersama
c) Hubungan besarnya kelompok dengan sifat kegiatan kelompok
d) Itikat dan sikap terhadap orang lain
e) Kemampuan mandiri
3) Dalam rangka bimbingan kelompok dibedakan dua jenis kelompok yaitu :
a) Kelompok Tugas
Kelompok tugas yaitu kelompok yang terbentuk berdasarkan adanya suatu tugas yang akan dilaksanakan atau diselesaikan.
b) Kelompok bebas
Kelompok bebas yaitu kelompok yang pada waktu terbentuknya (berkumpulnya beberapa orang untuk membentuk kelompok), belum mempunyai tugas yang akan diseleaikan dalam hal ini anggota bersama pemimpin kelompok merumuskan bersama apa-apa yang akan mereka kerjakan.
4) Berdasarkan jumlah siswa dibagi sebagi berikut :
a) Kelompok besar, dengan jumlah siswa antara 20-40 orang, misalnya komunitas percakapan bahasa inggris
b) Kelompok kecil, dengan jumlah siswa antara 5-10 orang
c) Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja)
5) Kelompok belajar berdasarkan kemampuan belajar siswa
a) Kelompok belajar sedang adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan bimbingan dan dorongan secara utuh.
b) Kelompok belajar cukup, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan belajar siswa yang masih membutuhkan motivasi dan perhatian
c) Kelompok belajar baik adalah kelmpok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang sudah mulai mandiri dalam menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain sudah bias melaksanakan pekerjaan yang diberikan dengan baik
6) Tipe kelompok
Tipe kelompok dalam belajar atau kehidupan social manusia mungkin diklasifikasikan dari bermacam-macam pandangan. Secara garis besarnya tipe-tipe kelompok social dibedakan menjadi :
a) Kelompok Primer, yaitu dimana anggota-anggotanya dapat mengadakan hubungan yang bersifat face to face dengan penuh keakraban, saling bantu membantu, dan mengajukan pertanyaan serta tuntutannya secara bertatap muka.
b) Contoh dari kelompok primer meliputi : keluarga, teman sepermainan, perkumpulan dan kelmpok belajar. Suatu kelompok disebut primer apabila memiliki karakteristik sebagai berikut diantaranya :
1) Ukurannya kecil
2) Anggotanya memiliki kesamaan latar belakang
3) Kepewntingan diri sendiri yang terbatas
4) Intensitas minat yang sama
c) Kelompok sekunder
yaitu kelompok dimana anggota-anggotanya dapat mengadakan interaksi dan kontak lebih banyak secara tak langsung, berjauhan dan formal, serta kurang mencerminkan interaksi pribadi secara akrab. Contoh dari kelompok sekunder meliputi : ceramah kelompok besar, komite, kelompok keagamaan, kelompok ahli, kelompok politik, dan sebagainya.
9. Diskusi kelompok
Moh. Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini tertanam pula tanggung jawab dan harga diri.
Jadi, diskusi kelompok adalah suatu cara atau teknik bimbingan yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbankan pikiran masing-masing serta berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Dalam diskusi kelompok anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan/ketua diskusi), menentukan tujuan, dan agenda yang harus ditaati.
Diskusi Kelompok dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Menurut Suryosubroto (2009: 168) macam-macam bentuk diskusi yaitu :
a. The social problema meeting
Para siswa berbincang-bincang memecahkan masalah sosial dikelasnya atau disekolahnya dengan harapan setiap siswa akan merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
b. The open-ended meeting
Para siswa berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan kehidupan mereka disekolah, atau dengan sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.
c. The educational-diagnosis meeting
Para siswa berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang telah diterima agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang baik/benar.
Pelaksanaan diskusi kelompok sedapat mungkin harus mendapatkan pengawasan dari guru atau pembimbing, lebih-lebih kalau kelompok itu baru dalam taraf permulaan yang anggotanya masih belum begitu mapan.
Dalam taraf permulaan, perlu ada bimbingan seharusnya kelompok itu berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah. Sebagai pengawas, guru atau pembimbing dapat segera membantu anak-anak apabila mereka memerlukannya. Lambat laun sacara berangsur-angsur, pengawasan tersebut dapat ditinggalkan apabila anak-anak telah mampu diberi kepercayaan, terutama di dalam menjaga kelancaran diskusi itu.
Dalam diskusi kelompok, diperlukan adanya seorang anak yang memimpin diskusi itu. Diskusi tidak harus dipimpin oleh ketua kelompok, tetapi justru oleh anak yang dipandang mempunyai pengetahuan lebih di dalam bidang yang sedang didiskusikan atau dibicarakan itu. Ini yang disebut sebagai “pusat kelompok”.
1) Keuntungan Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan salah satu pengalaman belajar yang diterapkan di semua bidang studi dalam batasan-batasan tertentu, pengalaman diskusi kelompok memberikan keuntungan bagi para siswa sebagai berikut:
a) siswa dapat berbagi berbagai informasi dalam menjalani gagasan baru atau memecahkan masalah,
b) dapat meningkatkan pemahaman atas masalah-masalah penting,
c) dapat mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi,
b) Kelemahan Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan dalam arti tidak tercapai tujuan yang diinginkan. Wardani (Dalam Puger, 1997:9) dinyatakan bahwa kelemahan-kelemahan dalam diskusi kelompok antara lain:
1. diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar yang biasa,
2. dapat memboroskan waktu terutama bila terjadi hal-hal yang negatif seperti pengarahan yang kurang tepat,
3. anggota yang kurang agresif (pendiam, pemalu) sering tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya sehingga terjadi frustasi atau penarikan diri, dan
10. Ketua kelompok
Suatu kelompok diskusi harus ada yang memimpin. Pemimpin dalam kelompok itulah yang disebut “ketua kelompok”. Siapakah yang dapat/pantas menjadi ketua kelompok? Hal ini tergantung pada beberapa faktor, antara lain:
a. interaksi sosial, dimana ketua kelompok bisa menghidupkan suasana kelompok, mempengaruhi anggota kelompok lain untuk ikut berpartisipasi
b. inteligensi, yaitu keahlian untuk memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi
c. sifat kepemimpinan, yang menjadi modal utama untuk menjadi seorang pemimpin/ketua dan lain-lain.
ketua atau pemimpin dalam kelompok belajar ini juga mempunyai tugas tugas yang tertentu pula, antara lain:
1) Sebagai plan maker atau pembuat rencana.
2) Sebagai coordinator, yaitu mengkoordinasikan anggota kelompoknya.
3) Sebagai penghubung antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sekaligus sebagai penghubung dengan guru atau pembimbing.
4) Memupuk semangat kelompok untuk selalu menghidupkan sifat kegotong-royongan.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin kelompok, yaitu:
a) Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka, jika terdapat perbedaan pendapat yang menimbulkan perselisihan hendaknya ketua kelompok memberi pengertian kepada anggotanya dan tetap sabar, tidak malah terbawa emosi.
b) Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaannya tanpa mempedulikan pendapat dari anggotanya.
c) Memberika dorongan dan motivasi.
11. Pemeliharaan kelompok
Kelompok yang sudah terbentuk tentu saja harus dipelihara. Hal inilah yang sering kurang mendapatkan perhatian. Banyak orang mengira bahwa bila kelompok telah terbentuk maka akan berlangsung dengan sendirinya dan akan hidup dengan sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian merupakan pandangan yang salah. Agar suatu kelompok dapat hidup dan berlangsung dengan baik, kelompok itu perlu dipelihara dengan sabaik-baiknya.
Dalam upaya pemeliharaan kelompok, harus dijaga jangan sampai terjadi hal-hal sabagai berikut:
a. Desintegrasi Kelompok
Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda tanda bahwa para anggotanya sudah tidak memiliki tujuan yang bulat, tidak mempunyai anggota tim kerja yang baik, muncul kontradisi-kontradisi, dan tidak saling mempercayai satu sama lain maka ini merupakan suatu tanda adanya desintegrasi dalam kelompok itu. Keadaan ini dapat meningkat kearah terjadinya kelumpuhan kelompok.
b. Kelumpuhan Kelompok
Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat suatu dan tidak dapat memberikan hasil, apabila hasil yang baik. Jadi, kelompok sudah lumpuh dan tidak dapat lagi berlangsung. Untuk mencegah jangan sampai timbul gejala-gejala semacam ini, kelompok perlu dipelihara sebaik-baiknya, baik dengan cara preventif maupun korektif sekalipun suatu kelompok itu telah berlangsung baik, ini tidak berarti bahwa kelompok itu telah terlepas dari pemeliharaan. Kelompok yang telah berjalan baik harus diusahakan agar menjadi lebih baik, atau paling tidak agar kebaikan itu dapat dipertahankan, jangan sampai mengalami kemunduran.
Dalam pemeliharaan kelompok, untuk menghindari adanya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok selain ketua kelompok dibutuhkan pula seorang pembimbing yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Setiap anggota kelompok harus menyadari perannya masing-masing, tidak hanya numpang nama sebagai anggota saja.
12. Desintergrasi kelompok
Suatu kelompok mengalami desintergrasi jika :
a. Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda-pertanda bahwa para anggotanya sudah tidak memiliki tujuan yang bulat,
b. tidak mempunyai tim kerja yang baik sehingga tidak ada kerjasama yang baik, muncul kontradiksi-kontradiksi,
c. tidak saling mempercayai satu sama lain, maka ini merupakan suatu tanda adanya desintergrasi dalam kelompok tersebut.
d. Tidak adanya hubungan yang dinamis antar kelompok
e. Tidak adanya etikat dan sikap yang baik terhadap orang lain.
Keadaan yang seperti ini dapat meningkat ke arah terjadinya kelumpuhan kelompok. Oleh karena segala upaya harus dilakukan untuk tidak terjadi kelumpuhan kelompok. Untuk mencegah sebelum terjadinya desintergrasi kelompok adalah :
1) Setiap anggota ataupun pemimpin harus mampu menjaga rahasia masing-masing anggotanya
2) Memiliki etikad yang baik yaitu tidak mau menang sendiri, memberikan waktu kepada anggota lain untuk berpendapat.
3) Pemimpin kelompok memiliki kesediaan untuk menerima berbagai pandangan yang mungkin berlawanan dengan pandangan pemimpin.
4) Berfikirlah tentang kemajuan kelompok dan selalu berfikir positif.
13. Kelumpuhan kelompok
Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat sesuatu, sudah tidak dapat memberikan hasil, apalagi hasil yang baik. Jadi kelompok sudah lumpuh, tidak dapat berlangsung lagi. Untuk mencegah jangan sampai timbul gejala-gejala semacam ini, maka kelompok perlu dipelihara sebaik-baiknya, baik dengan cara preventif maupun korektif. Sekalipun suatu kelompok itu telah berlangsung baik, ini tidak berarti bahwa kelompok itu telah terlepas dari pemeliharaan. Kelompok yang telah berjalan baik harus diusahakan agar lebih menjadi lebih baik, atau paling tidak agar kebaikan itu dapat dipertahankan, jangan sampai mengalami kemunduran.
Dalam pemeliharaan kelompok, untuk menghindari adanya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok selain ketua kelompok dibutuhkan pula seorang pembimbing yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Setiap anggota kelompok harus menyadari perannya masing-masing, tidak hanya numpang nama sebagai anggota saja.
Manfaatnya yaitu siswa akan dapat menyadari tantangan yang akan dihadapi, lebih berani mengemukakan pendapatnya saat berada dalam kelompok; diberikan kesempatan untuk mendiskusikan sesuatu bersama; lebih bisa menerima suatu pandangan atau pendapat anggota lain sehingga tidak menimbilkan perselisihan yang berlarut-larut, melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain dan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat berkomunikasi dengan teman sebaya dan pembimbing.
14. Usaha-usaha perbaikan
Kalau telah terjadi disentegrasi atau pun kelumpuhan kelompok, maka perlu dilakukan langkah-langkah usaha untuk memperbaikinya, yaitu dengan :
a. Perbaikan kedalam
Perbaikan kedalam merupakan langkah perbaikan di dalam kelompok itu sendiri. Misalnya, bila pimpinan yang kurang tegas yang menyebabkan disentregrasi itu ataupun kelumpuhan dari kelompok itu. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki sikap sebagai berikut :
1) kesediaan menerima orang lain tanpa pamrih,
2) kesediaan memandang berbagai pandangan yang berbeda,
3) menumbuhkan dan memelihara hubungan antara anggota kelompok,
4) mengarahkan pada tujuan yang akan dicapai,
5) memberikan bantuan pada anggota yang memerlukan bantuan,
Selain diperlukan ketrampilan dan kemampuan pemimpin untuk menanggulangi terjadinya desintegrasi dan kelumpuhan kelompok. Ketrampilan setiap angota kelompok juga sangat diperlukan dalam perbaikan contohnya seperti :
a) menciptakan kebersamaan dan kerjasama antar
b) anggota, membantu terbinanya suasana keakraban dalam kelompok,
c) memberikan dorongan dan motivasi antar anggota satu dengan yang lain,
d) berusaha agar apa yang dilakukan itu membantu tercapainya tujuan kelompok,
e) setiap anggota harus mampu untuk menjalankan setiap tugasnya masing-masing.
b. Perbaikan keluar
Kalau kelompok sudah tidak mungkin diperbaiki dari dalam, maka perbaikan melangkah ke luar kelompok. Misalnya dengan menukarkan anggota kelompok yang satu dengan yang lain. Jadi akan ada perubahan susunan dalam kelompok itu, pembimbing mengarahkan kembali tujuan yang akan dicapai oleh kelompok seperti memberikan arahan kepada anggota atau pemimpin tujuan utama dalam pembentukan kelompok, pembimbing memberikan dorongan dan motivasi supaya kelompok dapat berjalan kembali. Perbaikan keluar ditempuh apabila perbaikan ke dalam sudah tidak mungkin lagi dilakukan.
Selain perbaikan dari luar atau dari dalam ada pendapat lain Menurut Floyd Ruch dalam memperbaiki kelompok yang sudah terpecah atu lumpuh yaitu :
a. Keadaan fisik tempat/kelompok, seperti tersedianya fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan anggota seperti tempat untuk berdiskusi, computer untuk mengetik hasil tugas dll.
b. Rasa aman (Treat reduction), menyangkut ketentraman anggota untuk tinggal di dalam kelompoknya, meliputi: tidak adanya ancaman, tidak ada saling curiga dan tidak ada saling bermusuhan ini diperlukan rasa saling menghormati, mampu menjaga rahasia kelompok, memiliki pikiran yang positif terhadap setiap anggota.
c. Goal formulation (perumusan tujuan), tujuan merupakan tujuan bersama, yang menjadi arah kegiatan bersama, karena tujuan ini merupakan integrasi dari tujuan individu masing-masing
d. Consensus (mufakat), dengan mufakat yang ada dalam kelompok, semua perbedaan pendapat dari anggota dapat teratasi sehingga tercapai keputusan yang memuaskan berbagai pihak
D. MATERI IV
1. Pengertian dkb (diaknosis kesulitan belajar)
Kata diagnosa berasal dari bahasa Yunani yaitu penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres.
a. The national joint committee for learning disabilities merumuskan bahwa:
Kesulitan belajar adalah kesulitan nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, berfikir, kemampuan matematis karena disfungsi sistem saraf pusat
b. Dalam bahasa yang sangat sederhana dan ringkas, kesulitan belajar adalah:
Suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses belajar sebagaimana mestinya disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.
c. Dengan demikian secara terminologis Diagnosa kesulitan belajar adalah:
Pemeriksaan yang dilakukan oleh guru atau penyuluhan terhadap murid yang diduga mengalami kesulitan belajar untuk menentukan jenis dan kekhususan kesulitan belajar yang dihadapi.
Syahril (1991 : 45 ) mengemukakan bahwa “Diagnosis kesulitan belajar itu merupakan usaha untuk meneliti kasus, menemukan gejala, penyebab dan menemukan serta menetapkan kemungkinan bantuan yang akan diberikan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar.
2. Kedudukan diagnosis kesulitan belajar dalam pembelajaran
Ketidak berhasilan dalam proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan bahan tidak dapat dikembalikan kepada hanya pada satu faktor akan tetapi kepada banyak faktor yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Faktor yang dapat kita persoalkan adalah siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi siswa dan kegiatan yang terlibat dalam proses. Yang penting dalam kegiatan proses diagnosis kesulitan adalah menemukan letak kesulitan dan jenis kesulitan yang dihadapi siswa agar pengajaran perbaikannya(learning corrective) yang dilakukan dapat dilaksanakan secara efektif.
Bila telah ditemukan bahwa sejumlah siswa tidak memenuhi kriteria persyaratan ketuntasan yang telah ditetapkan,kegiatan diagnosis terutama harus ditujukan kepada :
a. Bakat yang dimiliki siswa yang berbeda antara yang satu dari yang lainnya.
b. Ketekunan dan tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam menguasai bahan yang dipelajarinya.
c. Waktu yang tersedia untuk menguasai ruang lingkup tertentu sesuai dengan bakat siswa yang sifanya individual dan usaha yang dilakukannya
d. Kualitas pengajaran yang tersedia yang dapat sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan serta karakteristik individu.
3. Pengertian kesulitan belajar
a. Pengertian kesulitan belajar menurut Warkitri ddk:
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut.
1) Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
2) Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding sebelumnya.
3) Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
4) Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
Kesulitan belajar (learning Difficulty adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Kondisi yang demikian umumnya disebabkan oleh faktor biologis atau fisiologis, terutama berkenaan dengan kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan belajar spesifik, serta faktor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar.
c. Pengertian kesulita belajr menurut Clement:
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003).
Adalah hambatan/ gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf integensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.
Pengertian Kesulitan belajar secara umum dalam konteks ini adalah jenis-jenis kesulitan belajar yang pada umumnya terjadi pada anak-anak disekolah.
4. Jenis-jenis kesulitan belajar
Jenis-jenis Kesulitan Belajar Darsono (2000:41) dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran menyatakan terdapat beberapa jenis-jenis kesulitan belajar di antaranya:
a. Learning Disorder
Mengandung makna suatu proses belajar yang terganggu karena adanya respon-respon tertentu yang bertentangan atau tidak sesuai. Gejala semacam ini kemungkinan dialami oleh siswa yang kurang berminat terhadap suatu mata pelajaran tertentu, tetapi harus mempelajari karena tuntutan kurikulum. Kondisi semacam ini menimbulkan berbagai gangguan seperti berkurangnya intensitas kegiatan-kegiatan belajar atau bahkan mogok belajar.
b. Learning Disability
Kesulitan ini berupa ketidakmampuan belajar karena berbagai sebab. Siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil yang dicapai berada di bawah potensi intelektualnya. Penyebabnya beraneka ragam, mungkin akibat perhatian dan dorongan orang tua yang kurang mendukung atau masalah emosional dan mental.
c. Learning Disfunction
Gangguan belajar ini berupa gejala proses belajar yang tidak berfungsi dengan baik karena adanya gangguan syaraf otak sehingga terjadi gangguan pada salah satu tahap dalam proses belajarnya. Kondisi semacam ini mengganggu kelancaran proses belajar secara keseluruhan.
d. Slow Learner atau siswa lamban
Siswa semacam ini memperlihatkan gejala belajar lambat atau dapat dikatakan proses perkembangannya lambat. Siswa tidak mampu menyelesaikan pelajaran atau tugas-tugas belajar dalam batas waktu yang sudah ditetapkan. Mereka membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan sekelompok siswa lain yang normal.
e. Under Achiever
Siswa semacam ini memiliki hasrat belajar rendah di bawah potensi yang ada padanya. Kecerdasannya tergolong normal, tetapi karena sesuatu hal, proses belajarnya terganggu sehingga prestasi belajar yang diperolehnya tidak sesuai dengan kemampuan potensial yang dimilikinya.
Dengan mengetahui adanya jenis-jenis kesulitan belajar, guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan mampu mengenali kesulitan belajar yang dihadapi anak didiknya dan berupaya memberi bantuan seoptimal mungkin. Dengan demikian diharapkan siswa yang bermasalah dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik.
5. Faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
a. Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
1) Faktor kejiwaan, antara lain : minat terhadap mata kuliah kurang, motif belajar rendah, rasa percaya diri kurang, disiplin pribadi rendah, sering meremehkan persoalan, sering mengalami konflik psikis, integritas kepribadian lemah.
2) Faktor kejasmanian, antara lain :
a) keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
b) adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
c) adanya gangguan pada fungsi indera;
d) kelelahan secara fisik.
c). Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
1. Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :
a) Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
b) Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
c) Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
d) Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
a. Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
b. Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
c. Teman-teman bergaul yang tidak baik
6. LANGKAH-LANGKAH DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN PENANGANANNYA
a. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndik e dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai :
1) Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
2) Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
3) Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tercakup pula konsep prognosisnya. Dengan demikian dalam proses diagnosis bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar, maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut.
b. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Menurut Rosss dan Stanley (Abin S.M., 2002 : 309), tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
a. Who are the pupils having trouble ? (Siapa siswa yang mengalami gangguan ?)
b. Where are the errors located ? (Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan ?)
c. Why are the errors occur ? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi ?)
d. What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?)
e. How can errors be prevented ? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ?)
c. Penanganan Kesulitan Belajar
Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut.
4) Identifikasi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :
a) Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila : pertama, indeks prestasi (IP) yang bersangkutan lebih rendah dibanding IP rata-rata klasnya; kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya; dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.
b) Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku mahasiswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
c) Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.
b. Melokalisasi letak kesulitan belajar
Setelah mahasiswa-mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
1) pada mata kuliah apa yang bersangkutan mengalami kesulitan.
2) pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
3) pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi.
4) pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
c. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini oleh para ahli dipandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun (Koestoer dan A. Hadisuparto, 1998 : 21).
Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulita belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi; 2) wawancara; 3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis.
d. Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut.
1) Apakah mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ?
2) Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
3) Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ?
4) Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ?
5) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?
d. Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi.
e. Pelaksanaan pemberian pertolongan
Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar mahasiswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan.
E. MATERI V
1. Lupa
Lupa merupakan istilah yang sangat populer di masyarakat. Dari hari ke hari dan bahkan setiap waktu pasti ada orang-orang tertentu yang lupa akan sesuatu, entah hal itu tentang peristiwa atau kejadian di masa lampau atau sesuatu yang akan dilakukan, mungkin juga sesuatu yang baru saja dilakukan. Fenomena dapat terjadi pada siapapun juga, tak peduli apakah orang itu anak-anak, remaja, orang tua, guru, pejabat, profesor, petani dan sebaginya. (syaiful Bahri Djamarah, 2008: 206)
Soal mengingat dan lupa biasanya juga ditunjukkan dengan satu pengertian saja, yaitu retensi, karena memang sebenarnya kedua hal tersebut hanyalah memandang hal yang satu dan sama dari segi berlainan. Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan, dan hal yang dilupakan adalah hal yang tidak diingat. (Sumadi Suryabrata, 2006: 47)
Lupa ialah peristiwa tidak dapat memproduksikan tanggapan-tanggapan kita, sedang ingatan kita sehat. (Agus Suyanto, 1993: 46), adapula yang mengartikan lupa sebagai suatu gejala di mana informasi yang telah disimpan tidak dapat ditemukan kembali utnuk digunakan. (Irwanto, 1991: 150).
Muhibbinsyah (1996) dalam bukunya yang berjudul psikologi pendidikan mengartikan lupa sebagai hilangnya kemampuan untuk menyebut kembali atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari secara sederhana. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dialami atau dipelajari, dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
2. Lupa hilang
Hasil penelitian dan refleksi atas pengalaman belajar di sekolah, memberikan petunjuk bahwa segala sesuatu yang pernah dicamkan dan dimasukan dalam ingatan, tetap menjadi milik pribadi dan tidak menghilang tanpa bekas. Dengan kata lain, kenyataan bahwa seseorang tidak dapat mengingat sesuatu, belum berarti hal itu hilang dari ingatannya, seolah-olah hal yang pernah dialami atau dipelajari sama sekali tidak mempunyai efek apa-apa. (Winkel, 1989: 291) sejumlah kesan yang telah didapat sebagai buah dari pengalaman belajar tidak akan pernah hilang, tetapi kesan-kesan itu mengendap ke alam bawah sadar. Bila diperlukan kembali kesan-kesan terpilih akan terangkat ke alam sadar. Penggalian kesan-kesan terpilih bisa karena kekuatan “asosiasi” atau bisa juga karena kemauan yang keras melakukan “reproduksi” dengan pengandalan konsentrasi. Oleh karena itu, tepat apa yang pernah dikemukakan oleh gula (1982) dan Reber (1988) bahwa lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. (Muhibbin Syah, 1999: 151) jadi, lupa bukan berarti hilang, sesuatu yang terlupakan tentu saja masih dimiliki dan tersimpan di alam bawah sadar, sedangkan sesuatu yang hilang tentu saja tidak tersimpan dalam alam bawah sadar.
3. Kapan lupa terjadi
Kita bisa lupa akan sesuatu dari ingatan karena sejumlah sebab. Di antaranya adalah:
a. Aus (Decay Theory)
Teori ini adalah teori yang beranggapan bahwa ingatan yang telah disimpan bisa rusak dan menghilang. Dikatakan bahwa, ingatan menjadi aus dengan berlalunya waktu bila tidak pernah diulang kembali (rehearsal). Informasi yang disimpan dalam ingatan akan meninggalkan jejak-jejak (memory traces), dengan berlalunya waktu proses yang berlaku dalam otak mengakibatkan jejak-jejaknya makin terkikis yang menyebabkan mundurnya daya mengingat.
b. Adanya penumpukan ingatan (Interferensi Theory)
Ingatan yang tidak atur atau organisir dengan baik akan menumpuk Di satu tempat dan kusut. Teori interferensi berseberangan dengan teori decay dalam hal kerusakan ingatan dalam penyimpanan di otak. Menurut teori ini, Informasi inderawi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan), hanya saja jejak-jejak ingatan saling bercampur aduk, mengganggu satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan orang bisa lupa. Misalnya seseorang yang sedang berusaha mempelajari tentang materi pelajaran Biologi, setelah itu ia disuruh mempelajari materi pelajaran Fisika. Saat orang tersebut disuruh kembali mengingat materi pelajaran Biologi, mungkin ia akan kesulitan karena adanya gangguan dari materi Fisika yang dipelajarinya. Bila informasi yang baru kita terima menyebabkan kita sulit mencari informasi yang suda ada dalam ingatan kita disebut interferensi retroaktif. Sedangkan bila informasi yang baru kita terima sulit diingat karena adanya pengaruh ingatan yang lama disebut proses interferensi proaktif. Saat kita lupa karena interferensi ini berarti terjadi penumpukan ingatan di satu tempat, dan kusut ketika akan dikeluarkan.
c. Represi
Represi adalah proses pemblokiran ingatan tentang suatu kejadian yang menyakitkan atau memalukan oleh alam sadar. Artinya, represi adalah kesengajaan melupakan suatu kejadian oleh seseorang karena kejadian yang dialami dirasa merugikan. Teori tentang penyebab lupa berupa represi ini berangkat dari konsep Sigmund Freud tentang pertahanan ego (ego defences). Jadi secara sederhananya, salah satu penyebab lupa pada seseorang mengenai suatu pengalaman lampau yang dialaminya bisa terjadi karena orang yang bersangkutan menyengaja untuk melupakannya.
d. Ketergantungan petunjuk (Retrieval Failure)
Satu lagi hal yang dianggap menjadi penyebab lupa, yaitu ketergantungan pada petunjuk. Proses mengingat kembali dari ingatan jangka panjang dibutuhkan suatu petunjuk. Kegagalan mengingat kembali lebih disebabkan oleh tidak adanya petunjuk yang memadai untuk merangsang ingatan tersebut muncul. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali. Misalnya anda pernah mempunyai suatu pengalaman tertentu, anda bisa teringat kembali pengalaman tersebut dengan melihat tempat di mana pengalaman itu terjadi. Petunjuk yang dimaksud bisa berupa visual (pemandangan misalnya), audio (suara) ataupun bau-bauan. Petunjuk yang diperlukan tidak selalu berasal dari luar. Kadang-kadang kita teringat sesuatu ketika suasana hati atau kondisi psikologis kita sama seperti saat kita sedang mengalami sesuatu, sehingga hal itu menyebabkan kita teringat pengalaman masa lampau.
e. Penyaringan
Pada proses terjadinya ingatan, informasi yang masuk tidak serta merta disimpan, melainkan melewati proses penyaringan atau penyeleksian. Pada saat penyaringan ini banyak kesan-kesan yang hilang, menyisakan informasi-informasi yang dianggap penting saja. Proses penyaringan itu menjaga kesanggupan mengingat agar tidak berat. Yang terpilih dari kesan-kesan itu hanya bagian yang relevan saja untuk diolah. Kesan-kesan yang telah disaring itu kemudian baru masuk ke dalam tempat simpanan jangka panjang. Proses penyaringan ini kemudian di satu sisi mengakibatkan orang menjadi lupa atau gagal mengingat kembali informasi yang masuk ke dalam ingatan jangka pendek tadi karena mungkin sudah tereliminasi oleh ingatan yang lain.
f. Gangguan Fisiologis
Penyebab lupa selanjutnya adalah karena adanya gangguan fisiologis pada sesorang. Salah satu gangguan fisiologis yang mungkin terjadi adalah Amnesia. Amnesia adalah gangguan pada otak yang menyebabkan orang lupa masa lalunya. Ada dua penyebab dasar amnesia: organik, di mana terjadi kerusakan pada fungsi-fungsi otak dan penyebab psikologis. Amnesia bisa terjadi pada siapa pun, pada usia berapa pun.
Jenis-jenis amnesia yang umum terjadi adalah:
a. Amnesia Traumatic
biasanya bersifat sementara dan terjadi setelah cedera kepala. Durasi dan intensitas amnesia ini terkait dengan jenis cedera yang diterima, tapi memori sering kembali setelah orang yang bersangkutan sembuh.
b. Amnesia disosiatif
umumnya terjadi pada orang yang mengalami peristiwa traumatik seperti pemerkosaan. Pada amnesia ini orang yang bersangkutan akan memblokir kejadian trauma yang dialaminya dari ingatan.
c. Amnesia Global
jenis amnesia yang paling total, sering disertai gangguan stress pasca-trauma. Biasanya walaupun pasien sembuh, ingatannya tidak sepenuhnya kembali, pasien kadang-kadang dapat mengalami kilatan ingatan yang spontan, sering dari peristiwa traumatis itu sendiri. Amnesia global yang paling sering terlihat pada orang tua.
4. Mengapa terjadi lupa
Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya sukar diambil atau diingat kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang hal ini merupakan tanda-tanda keadaan abnormal.
Factor-faktor penyebab lupa yang lain :
a. Lupa karena perubahan situasi lingkungan
b. Lupa karena perubahan sikap dan minat
c. Lupa karena perubahan urat saraf otak
d. Lupa karena kerusakan informasi sebelum masuk ke memori
5. Usaha-usaha mengurangi lupa
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi lupa antara lain:
a. Menumbuhkembangkan motivasi belajar intrinsik yang kuat, kesadaran akan tujuan yang harus dicapai dan mendorong keterlibatan pebelajar.
b. Memberikan perhatian khusus pada unsur-unsur yang relevan pada fase konsentrasi.
c. Mengolah materi pelajaran dengan baik dan segera, sedapat mungkin mengurangi penundaan pengolahan karena informasi lain yang masuk sesudahnya dapat mendesak keluar materi pelajaran dari short-term memory. Makin baik pengolahan materi (encoding), makin baik pula penyimpanannya (storage) dan proses penggaliannya dari ingatan (retrieval).
d. Mengaktualisasi pengetahuan dengan cara menggalinya dari ingatan, mengolahnya kembali dan menyimpannya lagi ke dalam ingatan.
e. Jangan belajar saat badan anda dalam kondisi yang lelah, karena rasa lelah tidak dapat menerima pengetahuan.
6. Kiat-Kiat Mengurangi Lupa
a. Overlearning Overlearning
Upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning dapat terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Sebagai contoh pembacaan Pancasila setiap hari Senin pada Upacara Bendera memungkinkan siswa memiliki pemahanan lebih mengenai materi Pendidikan Pancasila.
b. Extra Study Time Extra Study Time adalah
Upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi ( kekerapan ) waktu aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu, berarti siswa menambah jam belajarnya. Misalnya, dengan menambah 30 menit waktu belajar siswa. Sedangkan penambahan frekuensi belajar berarti meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari.
c. Mnemonic Device Muslihat memori atau mnemonic device
Lebih sering disebut mnemonic saja berarti kiat-kiat khusus yang biasa dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi kedalam memori siswa.
7. Transfer belajar
Istilah “transfer belajar” berasal dari bahasa inggris “Transfer of Learning” dan berarti: pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari di luar lingkup pendidikan sekolah. Pemindahan atau pengalihan itu menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatu bidang atau situasi di luar lingkup bidang studi di mana hasil itu mula-mula diperoleh.
Hasil studi yang dipindahkan atau dialihkan itu dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik dan sikap. Berkat pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu, seseorang memperoleh keuntungan atau mengalami hambatan dalam mempelajari sesuatu di bidang studi yang lain atau dalam pengaturan kehidupan sehari-hari.
Memperoleh keuntungan berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperanan positif, yaitu mempermudah dan menolong dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah, atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari;
8. Transfer belajar
Demikian disebut “transfer positif”. Misalnya, pengetahuan tentang letak geografis suatu daerah, akan sangat membantu dalam memahami masalah perekonomian yang dihadapi oleh penghuni daerah itu. “Mengalami hambatan” berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperan negatif, yaitu mempersukar dan mempersulit dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah, atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari; transfer belajar demikian disebut “transfer negatif”. Misalnya, pengetahuan akan sejumlah kata dalam bahasa Belanda, akan menghambat dalam mempelajari sejumlah kata dalam bahasa Jerman.
9. Arti dan perananan transfer belajar
Istilah transfer belajar berasal dari bahasa inggris “transfer of learning” dan berarti : pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkup pendidikan sekolah. Pemindahan atau pengalihan ini menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatau bidang atau situasi diluar lingkup bidang studi dimana hasil itu mula-mula diperoleh. Misalnya, hasil belajar bidang studi geografi, digunakan dalam mempelajari bidang studi ekonomi; hasil belejar dicabang olahraga main bola tangan, digunakan dalam belajar main basket; hasil belajar dibidang fisika dan kimia, digunakan dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hasil studi yang dipindahkan atau dialihkan itu dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, ketrampilan motorik dan sikap. Berkat pemindahan dan pengalihan hasil belajar itu, seseorang memperoleh keuntungan atau mengalami hambatan dalam mempelajari sesuatu dibidang studi yang lain.
Transfer dalam belajar ada yang bersifat psitif dan ada yang negatif. Transfer belajar disebut positif jika pengalaman-pengalaman atau kecakapan-kecakapan yang telah dipelajari dapat diterapkan untuk mempelajari situasi yang baru, contoh ketampilan mengendarai sepeda motor, akan mempermudah belajar mengendarai kendaraan bermotor roda empat. Atau dengan kata lain, respon yang lama dapat memudahkan untuk menerima timulus yang baru. Disebut transfer negatif jika pengalaman atau kecakapan yang lama menghambat untuk menerima pelajaran/kecakapan yang baru. Contoh ketrampilan mengemudikan kendaraan bermotor dalam arus lalu lintas yang bergerak di sebelah kiri jalan, yang diperoleh seseorang selama tinggal di indonesia, akan menimbulkan kesulitan bagi orang itu bila ia dipindah ke salah satu negara eropa barat, yang arus lalu lintasnya bergerak disebelah kanan jalan.
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer dapat digolongkan dalam empat kategori yaitu :
a. Transfer positip dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang lain.
b. Transfer negatif dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubungan dengan ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindarkan siswa-siswanya dari situasi belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar dimasa depan.
c. Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tsb. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari dengan materi lain yang akan dipelajari dikelas yang lebih tinggi diharapkan ia akan mengikuti pelajaran ini dengan lebih serius.
d. Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat kerumitan yang hampir sama.
10. Teori disiplin formal
Pandangan ini bertitik tolak pada anggapan aliran psikologi daya, tentang psike/ kejiwaan manusia. Psike itu dipandang sebagai kumpulan dari sejumlah bagian atau aneka daya yang berdiri sendiri, seperti daya berfikir, daya menginggat, daya berkemauan, daya merasa dan lain sebagainya. Masing – masing daya itu dapat di kembangkan dan di perkuat diri sendiri melalui program latihan yang sesuai, misalnya daya pikir dapat di tingkatkan dengan cara melatih diri memecahkan berbagai persoalan yang sukar dan daya berkemauan dapat di perkuat dengan berkali – kali dihadapkan pada tantangan yang berat. Sebagaimana otot- otot tubuh dapat dilatih supaya menjadi kuat dengan cara melatih diri mengangat besi yang beratnya semakin ditambah, sehingga orang akhirnya mampu mengangkat segala macam benda berat, demikian pula daya mental di anggap dapat dilatih dengan melalui materi yang sukar. Sekali dilatih, daya mental itu dianggap mampu untuk melakukan apa saja yang sesuai bagi daya mental itu, misalnya daya berfikir, sekali terlatih melalui pemecahan soal –soal ilmu pasti yang sukar, akhirnya akan mampu memecahkan persoalan di bidang apapun yang menuntut pikiran tajam.
11. Teori elemen identik
Teori elemen indetik mengandung banyak kebenaran, tetapi tidak dapat menjelaskan keseluruhan gejala transfer belajar, karena juga terdapat transfer belajar yang disebut non spesifik, yaitu transfer yang tidak meliputi kesamaan dalam unsur-unsur khusus, sebagaimana akan dijelaskan kemudian. Selain itu adanya kesamaan dalam suatu unsur khusus antara beberapa bidang studi, tidak harus berarti bahwa siswa juga melihat atau menangkap kesamaan dalam aneka unsur khusus itu; dengan kata lain, adanya kesamaan belum merupakan jaminan akan terjadi transfer belajar. Apakah siswa akan memindahkan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu kebidang studi yang lain, tidak hanya tergantung dari adanya kesamaan dalam unsur-unsur tertentu, tetapi juga dari kemampuan siswauntuk melihat/menangkap kesamaan itu dan dari minat serta kadar konsentrasi belajar. Dengan demikian, aneka faktor subyektif dipihak siswa ikut menentukan , apakah dia mengadakan transfer belajar atau tidak. Disamping itu, transfer belajar, sebagaimana digambarkan oleh thorn dike, tidak harus bersifat positiv (transfer belajar positif); transfer belajar juga dapat bersifat negativ , yaitu justru timbul hambatan karena kesamaan antara suatu unsur khusus di beberapa bidang studi (transfer belajar negativ). Dalam uraian diatas, telah diberikan contoh tentang transfer negativ yang bersumber pada kesamaan dalam hal ucapan/ejaannya,yaitu pada “leren” dalam bahasa belanda dan kata “lehren” dalam bahasa Jerman.
12. Teori generalisasi
Pandangan ini di kemukakan oleh Charless Judd, yang berpendapat bahwa transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok. Pola dan suatu prinsip umum. Apabila seorang sisswa mampu mengembangkan konsep,kaidah,prinsip dan variasi siasat untuk memecahkan persoalan, siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan kebidang-bidang laen diluar bidang studi dimana konsep, kaidah,prinsip,dan siasat mula-mula diperoleh. Siswa itu mampu mengadakan “generalisasi”, yaitu menangkap ciri-cirri atau suatu sifat umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi sudah terjadi bila siswa membetuk konsep kaidah,prinsip “kemahiran intelektual” dananeka siasat untuk memecahkan problem atau masalah (pengaturan kegiatan kognitif). Jadi kesamaan antara dua bidang studi, tidak terdapat dalam suatu unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam prinsip.
13. Faktor-faktor yang berperan dalam transfer belajar
a. Proses belajar
b. Hasil belajar
c. Bahan/materi bidang-bidang studi
d. Faktor-faktor subyektifitas dipihak siswa
e. Sikap dan usaha guru
14. Program pengajaran remidial dan program pengayaan
Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar misalnya tidak mampu menyerap bahan pembelajaran dengan baik, tidak dapat konsentrasi dalam belajar, tidak mampu mengerjakan tes dan sebagainya. Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sehingga prestasi belajarnya rendah, maka guru atau konselor harus memberikan layanan bimbingan dengan baik. Layanan tersebut lebih dikenal dengan pengajaran remedial.
Bagi peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar tidak berarti harus didiamkan saja, mereka juga perlu mendapatkan penanganan tersendiri, kalau tidak mereka akan mengalami penyimpangan karena kepuasan intelektual mereka tidak terpenuhi. Layanan bimbingan belajar bagi peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar lebih dikenal dengan pengayaan atau enrichement.
a. Pengajaran Remedial dalam Pembelajaran
Pengajaran remedial merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program pembelajaran. Melalui program remedial, guru breusaha membantu peserta didik untuk mencapai kesuksesan belajar secara optimal.
Remedial merupakan bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik.
Remedial merupakan bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik.
Menurut Warkitri dkk. (1990), pengajaran remedial sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena :
a) Tidak semua peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai kemampuannya.
b) Adanya kesulitan belajar berarti belum dapat tercapai perubahan tingkah laku siswa secara bulat sebagai hasil belajar
c) Untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut diperlukan suatu teknik bimbingan belajar. Salah satu teknik bimbingan belajar adalah pengajaran remedial.
Dengan demikian dalam pengajaran remedial, guru harus mampu menciptakan situasi yang memungkinkan peserta didik lebih mampu mengembangkan diri.
Secara umum, pengajaran remedial bertujuan membantu siswa mencapai mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Secara khusus, pengajaran remedial bertujuan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi yang diharapkan melalui proses penyembuhan dalam aspek kepribadian atau dalam proses belajar mengajar.
Pengajaran remedial merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pembelajaran, mempunyai banyak fungsi dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, antara lain
Pengajaran remedial merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pembelajaran, mempunyai banyak fungsi dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, antara lain
1) Fungsi korektif, adalah usaha untuk memperbaiki atau meninjau kembali sesuatu yang dianggap keliru.
2) Fungsi pemahaman, dalam pengajaran remedial terjadi proses pemahaman terhadap pribadi peserta didik, baik dari pihak guru, pembimbing, maupun peserta didik itu sendiri.
3) Fungsi penyesuaian, dalam pnegajaran remedial peserta didik dibantu untuk belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan yang dimiliki sehingga tidak merupakan beban bagi peserta didik.
Terdapat pendekatan-pendekatan dalam pengajaran remedial, antara lain
a. Pendekatan kuratif dalam pengajaran remedial
Pendekatan ini dilakukan setelah program pembelajaran yang pokok selesai dilaksanakan dan dievaluasi, guru akan menjumpai beberapa bagian dari peserta didik yang tidak mampu menguasai seluruh bahan yang disampaikan. Pelaksanaan pendekatan kuratif dapat dilakukan dengan cara :
1) Pengulangan (repetation), dapat dilakukan setiap akhir jam pertemuan, akhir unit pelajaran atau setiap pokok bahasan.
2) Pengayaan dan pengukuhan (enrichment dan reinforcement), Layanan pengayaan dapat ditujukan kepada peserta didik yang mempunyai kelemahan ringan dan secara akademik mungkin peserta didik tersebut cerdas. Dapat dilakukan dengan memberikan pekerjaan
3) Percepatan (acceleration), Layanan percepatan ini diberikan kepada peserta didik yang berbakat namun menunjukkan kesulitan psikososial.
b. Pendekatan preventif dalam pengajaran remedial
Pendekatan preventif diberikan kepada peserta didik yang diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan program yang akan ditempuh. Guru meng-klasifikasikan kemampuan siswa didik menjadi tiga golongan, yaitu peserta didik yang mampu menyelesaikan program sesuai waktu yang ditentukan, peserta didik yangdiperkirakan akan mampu menyelesaikan program lebih cepat dari waktu yang ditentukan, dan peserta didik yang tidak dapat menyelesaikan program sesuai waktu yang ditentukan.Sesuai penggolongan tersebut maka teknik layanan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Kelompok belajar homogen, dalam kelompok ini peserta didik diberi pelajaran, waktu, dan tes yang sama.
2) Kelompok individual, pengajaran disesuaikan dengan keadaan peserta didik, sehingga setiap peserta didik mempunyai program tersendiri.
3) Layanan pengajaran dengan kelas khusus, peserta didik mengikuti program pembelajaran yang sama dalam satu kelas. Peserta yang mengalami kesulitan dalam bidang tertentu disediakan kelas khusus
c. Pendekatan pengembangan dalam pengajaran remedial.
Pengajaran remedial yang bersifat pengembangan merupakan upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya pembelajaran. Sasarannya agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan-hambatan yang dialami selama mengikuti pembelajaran.
Dalam pengajaran remedial juga terdapat beberapa metode. Metode pengajaran remedial merupakan metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan kesulitan belajar mulai dari langkah identifikasi kasus sampai dengan langkah tindak lanjut. Metode yang digunakan dalam pengajaran remedial yaitu: :
a) Metode pemberian tugas.
Metode ini dilaksanakan dengan cara memberi tugas atau kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Jenis dan sifat tugas harus sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang
b) Metode diskusi
Diskusi adalah suatu bentuk interaksi antarindividu dalam kelompok untuk membahas suatu masalah. Diskusi digunakan dalam pengajaran remedial untuk memperbaiki kesulitan belajar dengan memanfaatkan interaksi individu dalam kelompok.
c) Metode tanya-jawab
Tanya jawab dalam pengajaran remedial dilakukan dalam bentuk dialog antara guru dengan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Tanya jawab dilakukan secara individu maupun secara kelompok dengan peserta didik.
d) Metode kerja kelompok
Kerja kelompok dalam pengajaran remedial diusahakan agar terjadi interaksi diantara anggota dalam kelompok. Kelompok sebaiknya heterogen artinya dalam satu kelompok terdiri dari pria dan wanita, peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dan peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar. Metode ini dapat meningkatkan pemahaman diri masing-masing anggota, minat belajar dan rasa tanggung jawab peserta didik.
e) Metode tutor sebaya
Tutor sebaya ialah peserta didik yang ditunjuk untuk membantu teman-temannya atau peserta didik lainnya yang mengalami kesulitan belajar. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tutor sebaya adalah
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.Setiap individu pasti mengalami apa itu LUPA, lupa mungkin bukan merupakan suatu elainan melainkan hanya merupakan suatu kelelahan pada otak karena banyaknya masalah yang kita hadapi serta banyaknya oatak kta menampung banyak memori-memori lama yang menganggu pikiran individu itu sendiri.
Sehinga kekuatanmemori yang ada dalam otak kita tidak menampung banyaknya memori yang kita simpan dalam memori otak kita. Walaupun kita adalah makhluk yang dikatakn sempurna tapi kita pun punya batas dimana otak kita seberapa kuat untuk menampung memori-memori tsb.
Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak dibutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan.
Individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan. Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah kematangan fisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu.
Fakto-faktor Yang Berperan Dalam transfer belajar yaitu:
1. Proses belajar
2. Hasil belajar
3. Bahan/materi bidang-bidang studi
4. Faktor-faktor subyektifitas dipihak siswa
5. Sikap dan usaha guru
B. SARAN
1. Saran penulis kepada pembaca makalah ini agar diambil nilai positifnya saja, karena penulis sadar akan kekurangan dan kelemahan dalam menguraikan kata-kata atau kalimat.
2. Penulis juga mohon masukan dan kritikan jika ada yang kurang dan ada kesalahan dalam penulisan untuk dijadikan perbaikan di masa yang akan datang agar dapat berupaya untuk jadi lebih baik.
3. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing atas masukan dan motivasinya selama ini.Kami juga berharap kepada dosen agar tidak pernah merasa bosan untuk memberikan arahan dan masukan kepada penulis.
DAFTAR PUSTAKA
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Yogyakarta : Media Abadi, 2004)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Mahmud, M. Dimyati. 1991. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Terapan. Yogyakarta: PBFE.
Purwanto, M. Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suyanto, Agus. 1993. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. 9
Syah,Muhibbin. 2007. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://shandy07.wordpress.com/2010/12/22/pengajaran-remedial-dan-program-pengayaan-dalam-proses-pembelajaran/
http://otakmuda.blogspot.com/ mengapapenyakitlupabisaterjadi.html
http:// sciencebiotetech.net/search/lupa

Tidak ada komentar:
Write komentar