PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Sepanjang semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang
otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah
laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai
“inner entity” ini barangkali adalah
jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dengan substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dengan substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Dengan
berkembangnya psikologi yang positivistis pengertian tentang jiwa atau
aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti “mind”, “ego”, “will”, “self”, itu
cenderung untuk ditolak, terlebih-lebih di Amerika Serikat.
Tetapi
akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian
terhadap pengertian “self” itu. W. James dalam bukunya : Principles of Psychologi (1890, chapter X) merumuskan pengertian
“self” itu, dan banyak teori tentang “self” dan “ego” dewasa ini secara
langsung atau tidak diasalkan dari James. James memberi batasan mengenai self
atau yang disebutnya empirical me itu dalam arti yang umum sekali, yaitu
sebagai keseluruhan dari segala yang oleh orang laian disebut “nya” (his) :
tubuhnya, sifat-sifatnya, kemampuan-kemampuannya, milik-milik kebendaannya,
kekeluarganya, teman-temannya, musuh-musuhnya, pekerjaannya dan
kenganggurannya, dan lain-lain lagi.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka timbul
masalah-masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana pandangan umum tentang Self ?
2.
Bagaimana pendapat para ahli mengenai
ego ?
3.
Bagaimana pendapat Carl Rogers mengenai
Self ?
4.
Bagaimana pokok-pokok teori Carl Rogers
?
C.Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari makalah ini adalah :
1.
Mengetahui pandangan umum tentang Self.
2.
Menarik kesimpulan dari pendapat para
ahli mengenai Ego.
3.
mengetahui pendapat Carl Rogers mengenai
Self.
4.
Mengetahui pokok-pokok teori Carl
rogers.
D.
Manfaat
Manfaat
dari penulisan makalah ini adalah, diharapkan agar pemabaca lebih mengerti
lebih dalam lagi mengenai Self dan Ego. Dapat membedakan antara keduanya.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI
CARL ROGERS
“PSIKOLOGI
SELF”
A.PANDANGAN UMUM TENTANG PENGERTIAN
SELF
Sepanjang semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang
otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah
laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai
“inner entity” ini barangkali adalah jiwa (soul). Menurut teori “jiwa”
gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan
(manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dengan substansi
kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan
asalnya suci.
Dengan berkembangnya
psikologi yang positivistis pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan
yang lain seperti “mind”, “ego”, “will”, “self”, itu cenderung untuk ditolak,
terlebih-lebih di Amerika Serikat.
Tetapi akhir-akhir ini
diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian
“self” itu. W. James dalam bukunya : Principles
of Psychologi (1890, chapter X) merumuskan pengertian “self” itu, dan
banyak teori tentang “self” dan “ego” dewasa ini secara langsung atau tidak
diasalkan dari James. James memberi batasan mengenai self atau yang disebutnya
empirical me itu dalam arti yang umum sekali, yaitu sebagai keseluruhan dari
segala yang oleh orang laian disebut “nya” (his) : tubuhnya, sifat-sifatnya,
kemampuan-kemampuannya, milik-milik kebendaannya, kekeluarganya,
teman-temannya, musuh-musuhnya, pekerjaannya dan kenganggurannya, dan lain-lain
lagi.
James mempersoalkan
self itu kedalam 3 hal :
1. Its
constituent (dasar, bagian-bagian)
2. Self-feeling
(rasa diri)
3. The
action of self seeking and self preservation (mengembangkan diri dan
mempertahankan diri)
Dasar
(komponen) self ialah material self, sosial self, spiritual self, dan pure ego.
Material self terdiri dari material possession, social self, yaitu bagaimana
anggapan teman-teman “orang” lain terhadapnya, spiritual self ialah
kemampuan-kemampuan serta kecakapan-kecakapan psikologisnya. Ego adalah pikiran
yang menjadi dasar daripada personal identity.
Istilah self di dalam psikologi mengandung dua arti,
yaitu :
a.
Sikap dan perasaan seseorang terhadap
dirinya sendiri,
b.
Suatu keseluruhan proses psikologis yang
menguasai tingkah laku dan penyesuaian diri.
Arti yang pertama itu dapat disebut pengertian self sebagai obyek, karena pengertian
itu menunjukkan sikap, perasaan pengamatan dan penelitian seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai obyek. Dalam
hal ini self itu berarti apa yang dipikairkan orang tentang dirinya. Arti yang
kedua dapat kita sebut pengertian self
sebagai proses. Dalam hal ini self itu ialah suatu kesatuan yang terdiri
dari proses-proses aktif seperti berfikir, mengingat dan mengamati.
Kedua pengertian itu demikian berbedanya sehingga
ada penulis-penulis yang mempergunakan istilah yang berkelainan. Kalau
bermaksud untuk menunjuk pengertian terhadap diri sendiri dipakai kata self, sedangkan kalau bermaksud untuk
menunjukkan kelompok daripada proses-proses psikologis dipakai istilah ego. Akan tetapi cara ini tidak selalu
diikuti, kadang-kadang self dan ego dipakai dalam arti yang berkebalikan dengan
apa yang dikemukakan diatas itu, atau dapat juga terjadi baik pengertian self
maupun pengertian ego dipakai dipakai untuk menunjukkan kedua-duanya.
Dalam pada itu haruslah diingat, bahwa tidak ada
teori modern mengenai self yang berpendapat bahwa ada aspek kejiwaan sebagai
suatu yang ada di dalam (sebagai isi) yang mengatur perbuatan-perbuatan
manusia. Self, baik itu dimaksudkan sebagai obyek maupun sebagai proses,
ataupun kedua-duanya bukanlah suatu homunculus atau “manusia di dalam dada”
atau jiwa, tetapi pengertian tersebut terutama dimaksudkan untuk menunjuk
kepada obyek proses-proses psikologi itu ssendiri, dan proses-proses tersebut
dianggap dikuasai oleh hukum sebab akibat. Dengan kata lain, pengertian self
itu tidak dipakai dalam arti metafisis atau keagamaan, tetapi dipakai dalam
arti psikologis ilmiah (positif). Teori self menunjukkan usaha yang
sungguh-sungguh untuk menyelidiki gejala-gejala dan membuat konsepsi dari hasil
penyelidikan mengenai tingkah laku itu. Jadi, di dalam menunjukkan self sebagai
proses, itu yang dimaksud tidak lain daripada nama bagi sekelompok proses.
B.PENDAPAT-PENDAPAT
MENGENAI PENGERTIAN EGO
1.
Self dan Ego menurut Symond
Dengan
bersandar kepada teori psikoanalisis Symond dalam bukunya yang berjudul : The ego and the self (1951) memberi
batasan Ego sebagai suatu kelompok proses, yaitu proses-proses mengamati,
mengingat dan berfikir, yang perlu untuk membuat dan melaksanakan rencana
tindakan untuk mencapai kepuasan sebagai response terhadap dorongan dari dalam,
dan self sebagai cara-cara bagaimana seseorang bereaksi terhadap dirinya
sendiri. Self itu mengandung empat aspek, yaitu :
1.
Bagaimana orang mengamati dirinya
sendiri,
2.
Bagaimana orang berfikir tentang dirinya
sendiri,
3.
Bagaimana orang menilai dirinya sendiri,
4.
Bagaimana orang berusaha dengan berbagai
cara untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri.
Symond menunjukkan bahwa orang mungkin tidak sadar
akan reaksi-reaksi pengamatan, pemikiran, penilaian serta mempertahankan atau
menyempurnakan itu. Secara sadar orang dapat mempunyai suatu konsepsi mengenai
dirinya sendiri sedangkan secara tidak sadar Bagaimana orang berfikir tentang
dirinya sendiri,
dia mungkin
mempunyai konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi sadarnya itu, hal ini
terbukti misalnya dari kenyataan bahwa dia bersikap defensif. Symond
memperingatkan bahwa apa yang dikatakan seseorang itu merupakan pencerminan
yang tepat mengenai apa yang dirasanya, itu adalah tidak tepat. Peringatan ini
diperkuat dengan mengutip hasil-hasil eksperimen Volf (1933, 1935) dan Huntikv
(1940) yang menunjukkan bahwa penilaian secara sadar mengenai diri sendiri itu
tidak mesti sama dengan penilaian diri sendiri secara tidak sadar.
Symond berpendapat, bahwa ada kerjasama antara self
dan ego. Apabila proses-proses ego berhasil menyelesaikan masalah kebutuhan
(dalam) dan kenyataan (luar), maka orang cenderung untuk berfikir, bahwa
dirinya adalah baik. Demikian juga jika sekiranya orang mempunyai pendapat
bahwa dirinya adalah tinggi, maka proses-proses egonya cenderung untuk
berfungsi secara baik. Tetapi pada umumnya berhasilnya ego harus ada terlebih
dahulu supaya orang merasa dirinya bernilai dan yakin akan dirinya.
2.
Self phenomenal menurut Snygg dan Combs
Snygg
dan Combs menamakan diri phenomenologist. Mereka yakin bahwa semua tingkah laku
manusia itu, tak ada kecualinya, semata-mata ditentukan oleh dan berhubungan
dengan medan phenomenal dimana organisme itu bertingkah laku. Medan phenomenal
itu terdiri dari keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi (orang).
kesadaran itu dapat tinggi atau rendah tarafnya, tetapi kalau sama sekali tidak
sadar itu tidak pernah. Kedua ahli itu yakin bahwa psikologi harus menerima
pendapat umum bahwa kesadaran itu merupakan sebab daripada tingkah laku,
artinya bahwa apa yang dipikir dan dirasa oleh orang itu menentukan apa yang
akan dikerjakannya.
Self
phenomenal berbeda dari (terpisah, tidak menjadi satu dengan) medan phenomenal.
Self phenomenal ini meliputi segala bagian daripada medan phenomenal itu yang
dialami oleh individu sebagai bagian dari dirinya atau khas bagi dirinya.
Sepintas lalu self phenomenal menurut pendapat Snygg dan Combs itu seakan-akan
self sebagai obyek, tetapi sebenarnya adalah meliputi kedua pengertian self
seperti yang telah dikemukakan di depan, yaitu self sebagai obyek dan self
sebagai proses.
3.
Subyective self menurut Lundholm
Lundholm
dalam karyanya yang berjudul : Reflection
upon the nature of the psychological theory (1940) membuat perbedaan antara
self subyektif dan self obyektif. Self subyektif terdiri dari lambang-lambang,
misalnya kata-kata, yang dipakai oleh individu untuk menyadari diriny sendiri,
sedangkan self obyektif terdiri dari kata-kata yang dipergunakan oleh orang
lain untuk mencandra dia. Dengan kata lain self subyektif adalah “apa yang
dipikirkan orang mengenai diriku” dan self obyektif adalah apa yang dipikirkan
orang mengenai aku. Self subyektif itu berubah-ubah tergantung kepada
faktor-faktor kooperasi, konflik dengan orang lain dan taraf usaha yang
diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas.
4. Ego
menurut Sherif dan Cantril
Di dalam buku yang berjudul The Psychology of ego
involvement (1947) Sherif dan Cantril memberi batasan ego itu sebagai suatu
konstelasi sikap-sikap yang dapat digolongkan pada “apa yang akan aku pikirkan
tentang diriku, apa yang kunilai, apa yang aku miliki dan apa yang kujadikan
obyek identifikasi”. Kedua ahli itu tidak membedakan self sebagai obyek dan self
sebagai proses.
5.
Self menurut Sarbin
Sarbin
(1952) menyelidiki self sebagai struktur kognitif yang terdiri dari
pengertian-pengertian orang tentang berbagai aspek dari kodratnya (dirinya).
Orang dapat punya pengertian tentang tubuhnya (simatic self) tentang panca
indera dan otot-ototnya (receptor-effector self) dan tingkah laku sosialnya
(social self). Self-self ini yang merupakan sub struktur daripada struktur
kognitif diterima pengalaman. Sarbin mempergunakan istilah ego dan self secara
bertukar-tukar.
6.
Inferred self menurut Hilgard
Hilgard
berpendapat bahwa untuk mengerti benar-benar tentng mekanisme pertahanan ego
dalam pengertian Freudian orang harus mempelajari self. Semua mekanisme itu
menurut Hilgard menunjuk kepada self. “ merasa salah ialah memahami self
sebagai sesuatu yang dapat memilih baik buruk. Apabila orang ingin tahu
pertahanan orang terhadap rasa susah, dia harus tahu tentang gambaran orang itu
mengenai dirinya.
Selanjutnya
Hilgard mencari jawaban tentang soal bagaimana orang dapat menentukan sefat
gambaran diri (self-image) dan pengertian diri (self-concept). Hilgard menolak
cara yang dengan menanyakan kepada orangnya tentang apa yang difikirkan tentang
dirinya karena pada anggapan Hilgard gambaran diri sendiri yang disadari itu
dapat dipalsukan oleh faktor-faktor yang tak disadari. Hilgard memilih
menyimpulkan gambaran diri itu dari bahan-bahan non-introspektif, seperti bahan
dari teknik proyeksi, interview klinis, dan sebagainya. Gambaran yang diperoleh
dengan cara ini disebut the inferred self.
Hilgard
juga membedakan self sebagai obyek dan self sebagai proses. Dia mengatakan
bahwa pribadi itu cenderung untuk melihat dirinya sendiri (sebagai obyek)
sebagai pelaksana aktif daripada tingkah lakunya.
7.
Self menurut Stephenson
Stephenson
yakin bahwa orang dapat berfikir dan berbicara tentang dirinya sendiri
sebagaimana dia berfikir dan berbicara tentang benda-benda lain, dan
self-reflection ini adalah sebagian dari tingkah lakunya seperti hal-hal lain
yang dilakukannya.
Stephenson
mengemukakan alasan dan dasar alat yang pokok untuk mempelajari self reflection
itu secara kuantitatif yang disebutnya Q-methodology. Metodologi ini kemudian
banyak digunakan orang.
8.
Self dan ego menurut Chein
Menurut
Chein self itu bukan obyek kesadarn seperti tubuh, akan tetapi lebih merupakan
isi kesadaran dan tidak mempunyai realitas terpisah dari kesadaran. Self tidak
mengerjakan apa-apa, yang mengerjakan semua itu adalah ego. Ego adalah struktur
kognitif bermotif ( motivated-cognitive-structure) yang terbentuk di sekitar
self. Motif dan pikiran ego memberikan tujuan bagi kegiatan, mempertahankan,
menyempurnakan dan memelihara self. Apabila self dibahayakan, maka lalu ego
membantunya. Tetapi tidak semua motif dan pikiran orang itu dicakup dalam ego,
ada juga bagian kepribadian non-ego yang juga menentukan perbuatan. Akibat dari
hal yang demikian itu ialah ada perbuatan-perbuatan yang melibat ego (ego
involved) ada yang tidak.
9.
Self menurut Mead
George
Herbard Mead, seorang filsuf sosial mengemukakan konsepsi self yang besar
pengaruhnya dalam pemikiran obyek kesadaran daripada suatu sistem
proses-proses. Self itu berkembang dengan cara sebagai berikut : Mula-mula self
itu tidak ada karena orang tak dapat masuk kepengalamannya secara langsung,
artinya orang tidak menurut bakatnya sadar diri (self concious). Dia dapat
mengalami orang lain sebagai obyek tetapi mula-mula tidak menganggap dirinya
sebagai obyek. Tetapi orang lain bereaksi terhadapnya sebagai obyek, dan reaksi
ini dialami oleh orang yang diarahinya (diberi reaksi). Sebagai akibat
pengalaman-pengalaman ini, dia belajar berfikir tentang dirinya sendiri sebagai
obyek dan mempunyai sikap serta perasan mengenai dirinya sendiri. Seseorang
berrespond sebagaimana orang lain berrespond terhadapnya. Jadi menurut Mead ini
adalah self yang terbebtuk secara sosial, self ini hanya dapat timbul dalam
pergaulan sosial. “ He becomes a self in so far as he can take the attitude of
another and toward him as another act”.
Ada
banyak self yang dapat terbentuk, misalnya familiy self, school self, dan lain
sebagainya.
10. Ego
dan self menurut Koffka
Menurut
Koffka, ego adalah suatu bagian yang terpisah dari keseluruhan medan. Ego itu
terdapat dalam medan tingkah laku dan saling mempengaruhi dengannya. Pemisahan
ego dari keseluruhan medan ini timbul dalam pengalaman karena keadaannya adalah
heterogen. Pribadi mengamati dirinya sebagai sesuatu yang menempati ruang
antara apa yang didepan dan di belakangnya, apa yang di kiri dan di kanannya.
Pengalaman ini dapat sadar dan dapat tidak. Pengalaman sadar membentuk
ego-phenomenal, yaitu self sebagai obyek. Tetapi bagi koffka kecuali self
sebagi obyek itujuga ada self sebagai proses. Perubahan tingkah laku merupakan
fungsi dari perubahan Gestalt Ego-medan. ( pendapat ini sangat mirip dengan pendapat
LEWIN). Inti dari pada ego ini ialah self. Kecuali apa yang telah dikemukakan
di atas, masih banyak ahli-ahli yang berbicara soal tersebut, misalnya Freud,
Adler, Jung, Allport Murphy, dan lain-lain.
C.TEORY
SELF CARL ROGERS
PENGANTAR
1.
Riwayat Rogers
Rogers
lahir di Oak Park, Illinois, pada 8-1-1902. Pada umur
12
tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada
pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya ke perguruan tinggi, dan pada
tahun-tahun pertama dia sangat gemar akan ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah
menyelesaikan pelajaran di Un. of Wisconsin pada 1924 dia lalu masuk Union
Theological Seminary di New York City, dimana dia mendapat pandangan yang
liberal dan filsafah mengenai agama. Kemudian pindak ke Teachers College of
Columbia, di sana ia terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal
psikologi klinis dengan bimbingan L. Hollingworth. Dia mendapat gelar M.A. pada
1928 dan doktor pada 1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama
diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya
Freudian. Rogers menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak
cocok dengan pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan
pemikiran menurut aliran Thorndike.
Setelah
mendapat doktor dalam psikologi Rogers menjadi anggota staf daripada Rochester
Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Selama masa ini Rogers
dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang Psychoanalyst yang memisahkan diri dari
Freudian yang ortodox.
Pada
tahun 1940 Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio
State University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini
dirasa oleh Rogers sendiri sangat tajam. Karena rangsangan-rangsangannya dia
merasa terpaksa harus membuat pandangan-pandangannya dalam psikoterapi itu
menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku : Counseling and
Psychotherapy. Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru psikologi di Un. of
Chicago. Tahun 1946-1947 menjadadi presiden the American Psychological
Association.
2.
Pandangan orang terhadap Rogers
Dalam
dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode psikoterapi yang
dikemukakan dan dikembangkannya. Terapi yang dikembangkannya itu dinamakan :
nondirective therapy atau client-centered therapy.
Nondirective
therapy ini menjadi populer karena :
a.
Secara historis lebih terikat kepada
psikologi daripada kedokteran,
b.
Mudah dipelajari,
c.
Untuk mempergunakannya dibutuhkan
sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian,
d.
Lamanya perawatan lebih singkat jika
dibandingkan misalnya dengan terapi psikoanalitis.
3.
Penyelidikan-penyelidikan serta
metode-metode penyelidikan Rogers
Rogers
adalah pelopor di dalam counseling dan psikoterapi, dan memberikan banyak
dorongan kearah penyelidikan mengenai sifat-sifat dari proses yang terjadi
selama perawatan klinis. Penyelidikan mengenai psikoterapi sebenarnya sangat
sukar oleh karena sifat individualnya, suasana psikoterapi itu, therapist
terpaksa tundu kepada kesejahteraan pasien dan mengabaikan syarat-syarat
research dengan mengizinkan masuknya semua hal yang individual yang diperlukan
oleh pasien ke dalam ruang perawatan. Tetapi Rogers mendapatkan bahwa
pencatatan secara elektris mengenai terapi itu, dengan seizin pasien tidak akan
mengganggu jalanya perawatan. Nyatanya baik pasien maupun therapist segera
mengabaikan adanya microphon itu dan bertingkah laku secara wajar. Pencatatan
yang tepat mengenai jalannya terapi ini memungkinkan Rogers dan teman-temannya
menyelidiki jalannya perawatan secara obyektif dan kuantitatif. Walaupun
penyelidikan empiris yang dilakukan oleh Rogers dengan teman-temannya itu
terutama dimaksudkan untuk memahami dan menjelaskan sifat psikoterapi dan nilai
hasil-hasilnya, namun banyak dari hasil-hasil penyelidikan ini menjadi dasar
teori self mengenai kepribadian yang disusun oleh Rainy dan Rogers. Dalam
kenyataannya perumusan sistematis mengenai teori self yang disusun Rogers itu
ditentukan oleh penemuan-penemuan research. Semenjak penemuan teori self itu
Rogers memperluas researchnya yang meliputi pula macam-macam
kesimpula-kesimpulan dari teori kepribadiannya.
a.
Penyelidikan kuantitatif
Banyak
gagasan-gagasan Rogers tentang kepribadian disimpulkan dengan cara kuantitatif
dari catatan-catatan mengenai pernyataan pasien mengenai gambaran dirinya
sendiri (self picture) serta perubahan-perubahannya selama terapi.
b.
Analisis isi (content analysis)
Metode
ini terdiri dari perumusan sejumlah kategori yang dipakai untuk
mengklasifikasikan verbalisasi pasien. Pernyataan-pernyataan pasien selama
interview dalam terapi diklasifikasikan, Rainy (1948) misalnya membuat
kategori-kategori yang mengenai self-reference :
-
Positive or approval self-reference
-
Negative or disapproval self reference
-
Ambivalent self-reference
-
Ambiguous self reference
-
Reference to external objects and
person, and question.
Dalam penyelidikan Rainy itu pikiran
pokonya ialah demikian. Selama terapi (counseling) maka ada perubahan
self-reference itu. Biasanya disapproval atau ambivalent menuju ke arah
approval.
Dalam penyelidikan-penyelidikan lain
analisis isi itu diusahakan untuk membuktikan dalil bahwa apabila orang makin
menerima (bersikap positif) terhadap dirinya, dia juga makin menerima orang
lain. Hasil penyelidikan mengenai kolerasi antara konsepsi mengenai diri
sendiri dan konsepsi mengenai orang lain (sikap terhadap diri sendiri dan sikap
terhadap orang lain) itu menunjuk akan angka signifikan. Hasil penyelidikan
Sheere menunjuk angka kolerasi 0,51 dan hasil penyelidika Stock menunjuk angka
kolerasi 0,66. Ini berarti bahwa apabila orang berfikir baik tentang dirinya
sendiri, dia juga berfikir baik tentang orang lain, dan apabila dia mencela
dirinya sendiri (disapprove) dia juga cenderung untuk mencela orang lain.
c. Penyelidikan-penyelidikan
dengan Q technique
Karena
pengaruh William Stephenson (ahli psikologi Inggris yang bekerja di Un.
Chicago) Rogers dengan kawan-kawannya banyak menggunakan Q technique itu.
Apakah Q technique itu ? pada pokoknya Q technique adalah suatu metode untuk
menyelidiki secara sistematis mengenai pengertian orang (gambaran orang)
mengenai dirinya sendiri, walaupun sebenarnya metode ini juga dapat dipakai
untuk menyelidiki hal-hal itu. Orang yang diselidiki diberi sejumlah pertanyaan
(statement),lalu disuruh menyusun menurut urutan tertentu.Misalnya Butler dan
Heigh (1954:murid-murid Rogers) dengan maksud mentest assuption bahwa orang
yang datang pada counseling itu kurang puas terhadap diri sendiri, dan kalau
telah mengalami counseling yang berhasil ketidakpuasan itu akan berkurang
mengerjakannya demikian : dibuat pernyataan-pernyataan yang diambilkan dari
pertanyaan-pertanyaan pasien di dalam terapu seperti:
“I
am a submissive person”
“I am a hard worker”
“I am a likable”
“I am a impulsive person”.
Sebelum
mulai counseling pasien disuruh memilih mengatur kartu yang berisi peryataan
itu dalam dua cara:
1. Self-sort
: Aturlan kartu-kartu ini untuk menggambarkan dirimu sendiri sebagaimana kau
lihat hari ini dari yang paling tidak mirip dengan kamu sampai yang paling
mirip dengan kamu.
2. Ideal-sort
: Nah,sekarang aturlah kartu-kartu itu untuk menggambarkan oarang yang kamu
cita-citakan, orang yang ingin kamu tiru,kamu ingin seperti dia.
Kemudian
distribusi dari kedua cara pengaturan ini dikorelasikan.Korelasi rata-rata
antara self-sort dan ideal-sort itu = 0,0 berarti tidak ada kesamaan antara
penglihatan dirinya sendiri dengan orang yang dicita-citakannya. Pada control
group, angka korelasi itu = 0,53 , hal
ini berarti bahwa orang-orang ini lebih puas dengan dirinya sendiri. Setelah
counseling selesai (rata-rata 3 kali counseling), pasien itu diminta lagi
mengatur kartu-kartu itu, dan ternyata angka korelasi rata-rata menjadi 0,34
,jadi meningkat dengan jelas, walaupun masih belum sama dengan control group. Control
group di tesr lagi dan tak ada perubahan.
Untuk
mengecek terapi itu diadakan penyelidikan lanjutan (fellow up study) selama
antara 6 bulan sampai 12 bulan dan ternyata angka korelasi rata-rata 0,31; hal
ini berartimasih dekat sekali dengan akhir counseling, yaitu 0,34. Penyelidikan-penyelidikan
itu menyimpulkan bahwa self-esteem (persamaan antara self sort dan ideal sort)
meningkat sebagai hasil langsung dari clien-centered counseling.
D.POKOK-POKOK TEORI ROGERS
Konsepsi-konsepsi
pokok dalam teori Rogers adalah :
1. Organism, yaitu keseluruhgan individu (the
total individual)
2. Medan phenomenal, yaitu keseluruhan
pengalaman (the totality of experience)
3. Self,yaitu bagian medan phenomenal yang
terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar
daripada “I” atau “me”.
1.
Organism
Organisme
memiliki sifat-sifat berikut:
a)
Organisme bereaksi sebagai keseluruhan
terhadap medan phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b)
Organisme mempunyai satu motif dasar
yaitu : mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
c)
Organisme mungkin melambangkan
pengalamannya, sehingga hal itu disadari, atau mungkin menolak pelambangan itu,
sehingga pengalaman-pengalaman itu tak disadari, atau mungkin juga organisme
itu tidak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.
2. Medan phenomenal punya sifat disadari atau tak
disadari, tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu
dilambangkan atau tidak.
a)
Self berkembang dari interaksiorganisme
dengan lingkungannya.
b)
Self mungkin menginteraksikan
nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dakam cara (bentuk) yang tidak wajar.
c)
Self mengejar (menginginkan) consistency
(keutuhan/kesatuan) dengan self.
d)
Organisme bertingkah laku dalam cara
yang selaras (consistent) dengan self.
e)
Pengalaman-pengalaman yang tak selaras
dengan struktur self diamati sebagaimana ancaman.
f)
Self mungkin berubah sebagai hasil dari
pematangan (maturation) dan belajar.
Sifat-sifat
dari ketiga konsepsi itu dan saling hubungannya dirumuskan oleh Rogers dalam 19
dalil dalam buku “Client-centered therapy” (1951), dan inilah yang merupakan
teori Rogers mengenali self. Adapun dalil-dalil Rogers adalah sebagai berikut :
1. “Tiap
individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi
pusatnya”.
Rogers berpendapat, bahwa mungkin
hanya sebagian kecil saja daripada dunia pengalaman itu yang disadari. Istilah
pengalaman disini diartikan sebagai segala sesuatu yang terjadi dalam organisme
dalam sesuatu saat, termasuk proses-proses psikologis, kesan-kesan sensoris, dan
aktivitas-aktivitas motoris. Kebanyakan dari pengalaman tak sadar itu dapat
dijadikan sadar apabila perlu (dalam istilah psikoanalitis : ini dalam alam
pra-sadar, bukannya ia sadar). Bagi Rogers, kesadaran itu terdiri dari hal-hal
yang dapat dilambangkan (symbolized) : kesadaran itu merupakan figure daripada
medan phenomenal dengan latar belakang ketidak-sadaran.
Rogers,
yakin bahwa dunia pengalaman individual ini hanya dapat benar-benar dikenal
oleh individu yang bersangkutan sendiri. Hanya saja belum tentu individu yang
bersangkutan dapat mengembangkan pengalaman diri ini sebaik-baiknya, walaupun secara
potensial telah dimiliki.
Menurut
dalil ini, orangnya sendiri adalah sumber yang terbaik dari penyelidikan bagi
pribadinya. Karena pernyataannya adalah lambang dari pengalaman batinnya, maka
ahli psikologi dapat mempelajari apa yang ada dalam dunia pribadi orang itu
dengan mendengarkannya apa yang dikatakan. Untuk ini client-centered therapy
adalah jalan yang sebaik-baiknya.
2. ”Organisme
bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dinamai dan diamatinya. Bagi
individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)”.
Dalil ini
menunjukkan, bahwa pribadi tidak bereaksi terhadap perangsang-perangsang dari
luar dan pendorong dari dalam sebagaimana adanya (as such, an sign), tetapi dia bereaksi
terhadap hal yang merangsang dan mendorongnya seperti apa yang dialaminya. Apapun
yang dipikirnya sebagai benar,baik itu betul-betul benar atau tidak, adalah
kenyataan, dan kenyataan subyektif inilah yang menentukan tingkah lakunya.
Konsekuensi
perumusan ini ialah bahwa pengetahuan mengenai stimulus saja tidak cukup untuk
meramalkan tingkah laku ; orang harus mengetahui bagaimana pribadi mengamati
stimulus itu.
Misalnya orang tak dapat meramalkan bahwa seorang akan
memasukkan garam ke dalam kopi, kalau orang tak tahu behwa orang tersebut
mengamati garam itu sebagai gula. Dalil ini juga menerangkan mengapa orang
bereaksi berbeda-beda terhadap situasi yang sama, dan bereaksi sama terhadap
situasi yang berbeda-beda.
Rogers
membenarkan, bahwa pribadi cenderung untuk mengecek dunia pengalamannya dengan
dunia yang sebenarnya. Mengetes kenyataan ini memberinya pengetahuan yang dapat
disangkutkan pada dunia sehingga dia dapat bertingkah laku secara realistis. Namun,
beberapa pengamatan tetap tidak ditest atau ditest secara tak baik, dan
pengalaman yang tak ditest ini dapat menyebabkan paerbuatan yang tak realistis.
Bagaimanakah orang dapat membedakan antara gambaran subyektif yang tidak
merupakan representasi yang tepat dari realitas dan yang benar-benar merupakan
representasi darinya. Apakah yang
memungkinkan orang membedakan fakta dan fiksi ? Inilah paradox phenomenologi.
Rogers
mengatasi paradox ini dengan menyimpang dari rangka pikiran phenomenologi murni.Menurut
Rogers apa yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya bukan kenyataan bagi
orang itu ; hal itu hanyalah hipotesis tentang kenyataan yang harus ditest, yang
dapat benar atau tidak. Orang menunda penilaiannya sampai dia mentest hipotesis
itu.Apakah test ini ? Mentest ini terdiri dari menchek ketepatan informasi yang
diterimanya yang merupakan dasar dari hipotesisinya dengan sumber-sumber
informasi yang lain. Misalnya seseorang yang akan menggarami makanannya
berhadapan dengan dua tempat bumbu. Dia berangggapan tempat yang besar
berisikan garam, karena itu dia memilih ini. Apabila ternyata isinya putih dia
lebih yakin bahwa itu garam. Orang yang teliti mungkin mencicipinya sedikit, sebab
mungkin juga bukan garam (misalnya
merica atau gula).
Mentest
dalam contoh ini ialah menchek informasi yang kurang pasti dengan pengetahuan
yang lebih langsung.
3.“Organisme
bereaksi terhadap medan phenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi
(organized whole)”.
Istilah
organized whole ini konsepsi holistis
yang berasal dari psikologi Gestalt (Goldstein). Pendapat ini menunjukkan bahwa
Rogers tidak sefaham dengan cara penyelidikan segmental, misalnya
stimulus-response (psikologi). Organisme selalu merupakan suatu sitem yang
terorganisasi, sehingga perubahan pada tiap bagiannya akan menimbulkan
perubahan pada lain-lain bagian.
4.”Organisme
mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan,
dan mengembangkan diri”.
Dalil
ini dari Snygg dan Combs dan sesuai dengan gagasan yang serupa yang dikemukakan
Angyal dan Maslow, dan kalau dibandingkan dengan pendapat ahli-ahli dari Eropa
daratan mirip dengan pendapat Stern.
Dalil
ini bersandar pada pangkal duga bahwa organisme adalah semata-mata sistem
monitis-dinamis dimana satu pendorong cukup untuk segala macam tingkah laku. Jadi
ada satu pendorong dan satu tujuan.
Organisme
mengaktualisasikan diri menurut garis yang diwarisi. Makin dewasa organisme itu
dia makin terdiferensiasikan, makin luas, makin otonom, makin
tersosialisasikan. Jadi ada semacam gerakan maju pada kehidupan tiap orang dan
kekuatan inilah yang dapat dipakai sebagai modal oleh therapist untuk
memperbaiki pasiennya.
Rogers
menambahkan lagi,bahwa kecenderungan bergerak maju itu hanya akan berfungsi
kalau pemilihan diamati dengan jelas dan dilambangkan secara baik. Orang tak
dapat mengaktualisasi diri kalau dia tak dapat membedakan antara tingkah laku
yang progesif dan yang regresif. Dia harus tahu sebelum memilih dan kalau dia
tahu umumnya memilih yang progesif.
5.”Pada
dasarnya tingkah lak itru adalah usaha organisme yang berarah tujuan
(goa-directed,doelgerich), yaitu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan
sebagaimana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatinya”.
Walaupun
ada banyak kebutuhan-kebutuhan namun itu tidak semua mengabdi kepada tujuan
organisme untuk mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
6.”Emosi
menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas tingkah laku berarah tujuan
itu”.
Dalil
ini didasarkan kepada pandangan tentang emosi yang dikemukakan oleh Prescott
(1938) dan Leeper (1948) yang menyatakan, bahwa emosi itu tidak mengganggu
bahkan berguna bagi penyesuaian diri. Emosi yang merangsang seperti misalnya
marah, membantu pribadi dalam tingkah lakunya berusaha, sedang emosi
menenangkan, seperti misalnya : lega, membantu penggunaan apa yang dikejar. Misalnya
kemarahan dapat mendorong orang mencari makan dengan lebih giat, sedang
kelegaan karena memiliki membantu orang mencernakan makanan yang telah dimakan.
Intensitas emosi ini beragam-ragam sesuai dengan arti situasi bagi pribadi. Apabila
bahaya mengancam hidupnya, kekuatannya akan besar, tetapi apabila bahaya itu
tak berarti/kecil ketakutan akan kecil.
7.”Jalan
yang paling baik untuk memahami tingkah laku ialah dengan melalui internal
frame or reference orangnya sendiri”.
Mencobamemahami
pribadi dari external frame or referecenya, yaitu dengan melalui kesimpulan
yang ditarik dari bahan-bahan test, observasi, tingkah laku ekspresif kurang
memuaskan jika dinbanding dengan mempergunakan internal frame or referencenya
sebagai ternyata dari sikap dan perasaan yang dinyatakannya dalam suasana bebas
(permissive,non threatening) client-centered therapy.
Rogers
berpendapat, bahwa self-report tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai
kepribadian. Karena :
·
Orang mungkin kurang sadar akan alasan tingkah
lakunya akan tetapi tak dapat menyatakannya dalam kata-kata.
·
Orang mungkin tidak menyadarinya.
·
Orang mungkin menyadari pengalamannya
dan dapat menyatakannya, tetapi dia tidak mau berbuat demikian. Apabila
dipaksakan memberi jawaban dia mungkin memperdayakan.
Karena
kelemahan-kelemahan self-report itu maka Rogers memilih mencoba memahami
kepribadian dan tingkah laku dari internal-frame of reference orangnya sebagaimana
manifest dalam client-centered therapy. Ketujuh dalil yang sudah dikemukakan
itu terutama bersifat phenomenologis dan mengenai organisme yang bertingkah
laku (behaving organism).
Delapan
dalil berikutnya mengemukakan konsepsi tentang self, sedang empat lagi membahas
konsepsi self itu lebih jauh.
8.”Suatu
bagian dari seluruh medan pengamatan sedikit demi sedikit terdiferensiasikan
sebagai self”.
Disini
Rogers mengikuti Snygg dan Combs, yaitu berpendapat, bahwa self phenomenal
terdiferensiasikan dari medan phenomenal. Self ini ialah kesadaran orang akan
adanya dan berfungsinya ; jadi self sebagai obyek pengalaman-pengalaman yang
menunjuk “I” atau “me”.
Bagaimana
self itu terdiferensiasi dari medan phenomenal ? Hal itu dijelaskan oleh dalil
yang berikut.
9.”Sebagai
hasil saling pengaruh (interaction) dengan lingkungan,terutama sebagai hasil
dari saling pengaruh yang bersifat menilai dengan orang-orang lain, struktur
self itu terbentuk pola pengamatan yang teratur, lentur (fluid),selaras dalam hubungan
dengan “I” atau “me”, beserta nilai-nilai yang dihadapi dengan konsepsi ini”.
Di
antara diskriminasi-diskriminasi yang dipelajari oleh anak-anak kecil ialah
yang memungkinkan dia membedakan dirinya sebagai obyek dari lingkungannya. Setelah
dia mempelajari diskriminasi ini kemudian dia mengamat, bahwa beberapa benda
termasuk padanya dan benda-benda yang lainnya tidak (termasuk dalam
lingkungannya). Selanjutnya dia juga membentuk konsepsi mengenai dirinya
sendiri dalam hubungan dengan lingkungan. Pengalaman-pengalaman ini dinilainya,
ada yang positif (I like it) ada yang negatif (I dislike it). Struktur self itu
selanjutnya merupakan gambaran yang teratur ada dalam pribadi sebagai figure
(kesadaran) atau sebagai background (psasadar) beserta nilai-nilai negatif atau
positif.
Nilai-nilai
tidak hanya menambah gambaran self (self picture) sebagai hasil pengalaman
langsung dengan lingkungan tetapi juga diambil dari orang-orang lain dengan
cara introyeksi.
10.”Nilai-nilai
terikat kepada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian dari struktur
self, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh
organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintroyeksikan atau
diambil dari orang lain,tetapi diamati sebagai dialaminya langsung”.
Anak
suka mengerjakan banyak hal, yang mendapat hadiah atau hukuman dari orang tua. Anak
yang mendapat hukuman karena mengerjakan sesuatu merasa karena dihadapkan
kepada konflik antara keinginan mengejar kesenangan dan keinginan menghindarkan
kesakitan. Dalam menyelesaikan konflik ini mungkindia mengubah gambaran
mengenai dirinya (self image) dan nilai-nilai dalam dirinya sedemikian rupa, sehingga
perasaan dan nilai-nilainya yang sebenarnya dipalsukan. Hal tersebut terdapat
misaklnya dalam cara sebagai berikut :
Seseorang
anak laki-laki mempunyai gambaran diri bahwa dia adalah anak yang baik dan
dicintai oleh kedua orang tuanya, tetapi juga senang menyiksa adiknya dan
karena perbuatan itu dia mendapat hukuman. Sebagai akibat dari hukuman ini dia
harus meninjau kembali gambaran dirinya dan nilai-nilainya dalam salah satu
dari cara-cara yang berikut:
·
“Saya adalah anak yang jahat”
·
Orang tua saya tidajk menyukai saya”
·
Saya tak suka mengganggu adik saya”
Masing-masing
sikap di atas itu dapat memalsukan kebenaran. Misalnya saja anak itu mengambil
sikap “Saya tak suka menggangu adik”, maka ini berarti dia menolak perasaannya
yang sebenarnya. Penolakan ini tidak berarti bahwa perasaan itu lalu
hilang;perasaan itu akan tetap
mempengaruhinya dalam berbagai cara, kendatipun itu mungkin tak
disadari. Jadi lalu akan ada konflik antara nilai yang diintroyeksikan yang
disadari dengan hal yang tak disadari. Apabila nilai yang sebenarnya itu makin
banyak diganti oleh nilai yang diambil dari orang lain yang diamatinya sebagai
nilainya sendiri, maka self orang itu akan terpecah. Orang yang demikian itu
akan merasa tegang,tak tenang. Dia akan merasa seakan-akan tahu apa yang
diinginkan.
11.”Pengalaman
yang terjadi dalam kehidupan individu itu dapat dihadapi demikian :
·
Dilambangkan,diamati dan diatur dalam
hubungannya dengan self;
·
Diabaikan karena tak ada hubungan yang
terlihat dengan struktur self;
·
Ditolak atau dilambangkan secara palsu
oleh karena pengalaman itu tak selaras dengan struktur self”.
Dalil
ini menyatakan bahwa pengamatan itu selektif dan kriteria utama untuk seleksi
ini ialah apakah pengalaman itu selaras dengan gambaran diri orang pada saat
itu. Apabila mempunyai gambaran diri sebagai orang lapar, dia akan memilih
stimulus-stimulus yang dialaminya yang penting/berguna bagi pemuasan rasa
laparnya dan mengabaikan yang tak berguna.
Menolak
dan mengabaikan pengalaman tidaklah sama. Penolakan berarti pemalsuan kenyataan
baik dengan menyatakan itu tidajk ada, maupun yang tak wajar. Seseorang mungkin
menolak rasa agresifnya, karena hal itu tidak selaras dengan gambaran dirinya
sebagai orang suka damai, baik hati. Dalam hal demikian itu orang mungkin
dibiarkan menyatakan diri dalam pelambangan tak wajar, misalnya dengan
memproyeksikan kepada orang lain. Rogers menunjukkan bahwa orang sering suka
mempertahankan dan mengembangkan diri yang menyimpang dari kenyataan
(realitas).
Orang
yang merasa dirinya tak berharga akan mengeluarkan dari kesadarannya
bukti-bukti yang bertentangan dengan gambaran itu, atau akan menafsirkannya
sesuai dengan rasa tak berharga itu. Misalnya orang yang mendapat kenaikan
tingkat mengatakan “Perbesar saya kasihan pada saya” atau “saya tak
mengharapkan hal itu”. Bahkan ada orang yang dalam jabatan baru itu berusaha
menunjukkan kepada dirinya sendiri dan orang lain bahwadia tidak baik. Bagaimana
orang dapat menolak ancaman terhadap gambaran dirinya tanpa mula-mula menyadari
ancaman itu ? Rogers mengatakan bahwa ada taraf diskriminasi yang dibawah
pengenalan secara sadar, dan obyek yang mengancam itu mungkin diterima secara
tak sadar. Misalnya : obyek atau situasi yang mengancam itu menimbulkan reaksi
debaran jantung,yang secara sadar dirasa sebagai gejala ketakutan, tanpa orang
mengetahui apa yang ditakutkan itu. Perasaan takut menimbulkan mekanisme
penolajkan atau penekanan yang mencegah pengalaman yang mengancam itu menjadi
didasari.
12.”Kebanyakan
cara-cara bertingkah laku yang diambil orang ialah yang selaras dengan konsepsi
self”.
Apabila
dalil ini betul,maka cara yang paling baik untuk mengubah tingkah laku ialah
dengan mengubah konsepsi self ini. Dalil inilah memang yang dikerjakan oleh
Rogers, karena client-centered therapy itu sebenarnya adalah self-centered
therapy.
13.”Dalam
beberapa hal tingkah laku itu mungkin didorong oleh pengalaman-pengalaman dan
kebutuhan-kebutuhan organis yang tidak dilambangkan. Tingkah laku yang demikian
itu mungkin tidak serasi dengan struktur self, akan tetapi dalam hal yang
demikian itu tingkah laku itu tidak diakui (dimiliki, own) oleh individu yang
bersangkutan.”
Jadi
ada tingkah laku-tingkah laku yang tidak selaras dengan struktur self. Apabila
orang bertingkah laku yang tak selaras dengan struktur self itu maka orang
menolak mengaku tingkah laku itu : ”Saya terpaksa”, ”Saya tak bermaksud
demikian”, ”Kenapakah itu saya kerjakan?” dan sebagainya.
Kalau
dalil 12 dan 13 itu ditinjau bersama-sama maka nyata bahwa Rogers mengakui
adanya dua sistem pengatur tingkah laku, yaitu : Self dan sistem organis. Kedua
sistem itu dapat bekerja secara selaras dan dapat bertentangan satu sama lain. Apabila
kedua sistem itu bertentangan satu sama lain, maka hasilnya adalah ketegangan
satu sama lain, maka hasilnya adalah ketegangan dan penyesuaian diri yang tak baik (tension dan meladjustment) seperti
tersebut pada dalil 14. Kalau keduanya bekerjasama, hasilnya penyesuaian, seperti
pada dalil 15.
14.”Psychological
maladjustment terjadi apabila organisme menolak menjadi sadarnya pengalaman
sensoris dan visceral yang kuat,yang selanjutnya tidak dilambangkan dan diorganisasikan
ke dalam gestalt struktur self.Apabila hal ini terjadi, maka akan terjadi
psychological tension.”
15.”Psychological
adjusment terjadi apabila konsepsi self itu sedemikian rupa, sehingga segala
pengalaman sensoris dan visceral diasimilasikan pada taraf lambang(sadar) ke
dalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self” (bandingkan dengan Freud : ego
dan id yang sadar dan tak sadar).
16.”Tiap
pengalaman yang selaras dengan organisasi atau struktur self akan diamati
sebagai ancaman, dan makin meningkat pengamatan itu akan makin tegas struktur
self itu untuk mempertahankan diri”.
Self
membentuk pertahanan-pertahanan terhadap pengalaman-pengalaman yang mengancam
dengan menolaknya masuk ke kesadaran. Apabila ini terjadi,gambaran diri (self
image) itu makin kurang cocok dengan kenyataan organismis dan ini akan
berakibat dibutuhkan lebih banyak
pertahanan untuk mempertahankan gambaran palsu yang dibuat self itu. Karena
itu self kehilangan hubungannya dengan pengalaman organisme yang sebenarnya dan
meningkatnya pertentangan antara kenyataan dan self itu menimbulkan tegangan
(tension). Akibatnya pribadi menjadi lebih maladjusted.
17.”Dalam
kondisi tertentu,pertama-tama tiadanya ancaman terhadap struktur self, pengalaman-pengalaman
yang tak selaras dengan struktur self dapat diamati, dan diuji, dalam struktur
self direvisi untuk dapat mengasimilasi dan melingkupi pengalaman-pengalaman
yang demikian itu”.
Di
dalam client centered therapy pribadi merasa dalam situasi yang tanpa
bahaya/ancaman karena counselor menerima sepenuhnya pasien. Sikap counselor
yang demikian ini mendorong pasien untuk menjelaskan perasaan-perasaan tak
sadarnya dan menyadarinya. Lambat laun dia mengenal perasaan tak sadar yang
bmengancam keamanannya. Dalam situasi terapi yang baik dapat diasimilasikan ke
dalam struktur self. Asimilasi ini mungkin menghendaki reorganisasi yang
drastis mengenai konsepsi self daripada pasien dengan maksud supaya sejalan
dengan kenyataan pengalaman organismis.
“He
will be, in more unified fashion what he organismically is, and this seems to
be essence of therapy”.
Keuntungan
sosial yang dicapai dengan terapi cara ini ialah bahwa orang yang
mengasimilasikan pengalaman yang dulu ditolaknya itu makin mengerti dan
menerima orang lain.
18.”Apabila
orang mengalami dan menerima segala pengalaman sensoris dan visceralnya ke
dalam sistemnya yang intregral dan selaras, maka dia akan lebih memahami orang
lain dan menerima orang lain sebagai individu”.
Orang
yang defensif cenderung untuk merasa bermusuhan terhadap orang yang tingkah
lakunya, dalam penglihatannya, mencerminkan perasaannya sendiri yang
ditekannya. Apabila orang merasa terancam oleh impuls-impuls seksual ia akan
cenderung untuk mengkritik orang lain yang pada penglihatannya menonjolkan
seksualitas. Sebaliknya kalau dia menerima perasaan seksual dan permusuhannya
itu dia akan lebih tolerant terhadap orang lain yang mengekspresikan perasaan
itu. Akibatnya hubungan sosialnya akan lebih baik.
19.”Kalau
individu lebih banyak lagi mengamati dan menerima ke dalam struktur selfnya
pengalaman-pengalaman organisnya, dia akan mengetahui bahwa dia mengganti
sistem nilai-nilainya kini yang pada umumnya didasarkan pada introyeksi yang
telah diterimanya dalam bentuk yang tidak wajar dengan proses penilaian yang
terus-menerus (cotinuing valuing procces)”.
Tekanan
disini diletakkan pada sistem dan proses. Sistem menunjukkan sesuatu yang
tetap, statis, sedang proses menunjukkan adanya perubahan.
Untuk
adanya adjusment yang sehat dan integral orang harus selalu menilai pengalaman-pengalamannya
untuk mengetahui apakah perlu adanya perubahan dalam sistem nilai-nilai. Tiap
struktur nilai-nilai yang tetap cenderung untuk mencegah pribadi untuk bereaksi
secara baik (efektif) terhadap pengalaman-pengalaman baru. Jadi orang harus
flexible supaya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi kehidupan yang
selalu berubah. Apakah proses penilaian terus-menerus secara individual
terhadap pengalaman itu tidak akan menimbulkan anarki sosial ? Menurut
keyakinan Rogers tidak. Karena semua orang mempunyai kebutuhan dasar/pokok yang
sama termasuk juga kebutuhan diterima oleh orang lain. Akibatnya nilai-nilai
mereka mempunyai banyak kesamaan.
“Teori
ini pada dasarnya bersifat phenomenologis dan terutama berhubungan dengan
konsepsi untuk menerangkan. Teori ini menggambarkan titik akhir daripada
perkembangan kepribadian yaitu adanya kesamaan pokok antara medan pengalaman
phenomenal dan struktur self secara konseptual –suatu situasi yang apabila
tercapai berisikan kebebasan dari ketegangan yang potensial, yang akan
menunjukkan adaptasi realistis yang maksimum, yang akan berarti pembentukan
sistem nilai-nilai individual yang mempunyai kesamaan dengan sistem nilai-nilai
orang lain dan menjadi pribadi yang
well-adjusted”.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
HASIL MAKALAH
Pengertian
self itu tidak dipakai dalam arti metafisis atau keagamaan, tetapi dipakai
dalam arti psikologis ilmiah (positif). Teori self menunjukkan usaha yang
sungguh-sungguh untuk menyelidiki gejala-gejala dan membuat konsepsi dari hasil
penyelidikan mengenai tingkah laku itu. Jadi, di dalam menunjukkan self sebagai
proses, itu yang dimaksud tidak lain daripada nama bagi sekelompok proses.
Ego
adalah struktur kognitif bermotif ( motivated-cognitive-structure) yang
terbentuk di sekitar self. Motif dan pikiran ego memberikan tujuan bagi
kegiatan, mempertahankan, menyempurnakan dan memelihara self. Apabila self
dibahayakan, maka lalu ego membantunya. Tetapi tidak semua motif dan pikiran
orang itu dicakup dalam ego, ada juga bagian kepribadian non-ego yang juga
menentukan perbuatan. Akibat dari hal yang demikian itu ialah ada
perbuatan-perbuatan yang melibat ego (ego involved) ada yang tidak.
B. SARAN-SARAN
Selama proses makalah
ini dibuat ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis. Catatan ini menjadi
hal yang perlu diperhatikan sekaligus sebagai saran, baik bagi pembaca maupun
penulis.
Ø Saran
bagi pembaca
Diharapkan kepada
pembaca khususnya para pendidik, agar
dapat memahami makalah ini dan menerapkannya bagi dunia pendidkan guna
meningkatkan pemahaman siswa dalam pemecahan suatu masalah.
Ø Saran
bagi penulis
Semoga
dengan kritik dan saran yang diberikan pembaca kepada penulis, selanjutnya
penulis akan membuat makalah yang lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
1.Alwilsol
(2004) Psikologi Kepribadian.Malang:UM
press
2.Suryabrata,
Sumadi (1982), Psikologi Kepibadian.Jakarta:Rajawali
3.Garrdner
Linzey dan Calvin S.Hall (1993) , Teori-teori Holistik.Yogyakarta:Kanisius

Tidak ada komentar:
Write komentar