0852-5712-4644

CALL/SMS

TEORI CARL ROGERS “PSIKOLOGI SELF”

Posted by   on Pinterest



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sepanjang  semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai “inner entity” ini barangkali adalah
jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dengan substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Dengan berkembangnya psikologi yang positivistis pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti “mind”, “ego”, “will”, “self”, itu cenderung untuk ditolak, terlebih-lebih di Amerika Serikat.
Tetapi akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian “self” itu. W. James dalam bukunya : Principles of Psychologi (1890, chapter X) merumuskan pengertian “self” itu, dan banyak teori tentang “self” dan “ego” dewasa ini secara langsung atau tidak diasalkan dari James. James memberi batasan mengenai self atau yang disebutnya empirical me itu dalam arti yang umum sekali, yaitu sebagai keseluruhan dari segala yang oleh orang laian disebut “nya” (his) : tubuhnya, sifat-sifatnya, kemampuan-kemampuannya, milik-milik kebendaannya, kekeluarganya, teman-temannya, musuh-musuhnya, pekerjaannya dan kenganggurannya, dan lain-lain lagi.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka timbul masalah-masalah sebagai berikut :
1.          Bagaimana pandangan umum tentang Self ?
2.          Bagaimana pendapat para ahli mengenai ego ?
3.          Bagaimana pendapat Carl Rogers mengenai Self ?
4.          Bagaimana pokok-pokok teori Carl Rogers ?

C.Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari makalah ini adalah :
1.          Mengetahui pandangan umum tentang Self.
2.          Menarik kesimpulan dari pendapat para ahli mengenai Ego.
3.          mengetahui pendapat Carl Rogers mengenai Self.
4.          Mengetahui pokok-pokok teori Carl rogers.

D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah, diharapkan agar pemabaca lebih mengerti lebih dalam lagi mengenai Self dan Ego. Dapat membedakan antara keduanya.







BAB II
PEMBAHASAN

TEORI CARL ROGERS
“PSIKOLOGI SELF”

A.PANDANGAN UMUM TENTANG PENGERTIAN SELF

Sepanjang  semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai “inner entity” ini barangkali adalah jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dengan substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Dengan berkembangnya psikologi yang positivistis pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti “mind”, “ego”, “will”, “self”, itu cenderung untuk ditolak, terlebih-lebih di Amerika Serikat.
Tetapi akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian “self” itu. W. James dalam bukunya : Principles of Psychologi (1890, chapter X) merumuskan pengertian “self” itu, dan banyak teori tentang “self” dan “ego” dewasa ini secara langsung atau tidak diasalkan dari James. James memberi batasan mengenai self atau yang disebutnya empirical me itu dalam arti yang umum sekali, yaitu sebagai keseluruhan dari segala yang oleh orang laian disebut “nya” (his) : tubuhnya, sifat-sifatnya, kemampuan-kemampuannya, milik-milik kebendaannya, kekeluarganya, teman-temannya, musuh-musuhnya, pekerjaannya dan kenganggurannya, dan lain-lain lagi.
James mempersoalkan self itu kedalam 3 hal :
1.      Its constituent (dasar, bagian-bagian)
2.      Self-feeling (rasa diri)
3.      The action of self seeking and self preservation (mengembangkan diri dan mempertahankan diri)
Dasar (komponen) self ialah material self, sosial self, spiritual self, dan pure ego. Material self terdiri dari material possession, social self, yaitu bagaimana anggapan teman-teman “orang” lain terhadapnya, spiritual self ialah kemampuan-kemampuan serta kecakapan-kecakapan psikologisnya. Ego adalah pikiran yang menjadi dasar daripada personal identity.
Istilah self di dalam psikologi mengandung dua arti, yaitu :
a.       Sikap dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri,
b.      Suatu keseluruhan proses psikologis yang menguasai tingkah laku dan penyesuaian diri.
Arti yang pertama itu dapat disebut pengertian self sebagai obyek, karena pengertian itu menunjukkan sikap, perasaan pengamatan dan penelitian seseorang  terhadap dirinya sendiri sebagai obyek. Dalam hal ini self itu berarti apa yang dipikairkan orang tentang dirinya. Arti yang kedua dapat kita sebut pengertian self sebagai proses. Dalam hal ini self itu ialah suatu kesatuan yang terdiri dari proses-proses aktif seperti berfikir, mengingat dan mengamati.
Kedua pengertian itu demikian berbedanya sehingga ada penulis-penulis yang mempergunakan istilah yang berkelainan. Kalau bermaksud untuk menunjuk pengertian terhadap diri sendiri dipakai kata self, sedangkan kalau bermaksud untuk menunjukkan kelompok daripada proses-proses psikologis dipakai istilah ego. Akan tetapi cara ini tidak selalu diikuti, kadang-kadang self dan ego dipakai dalam arti yang berkebalikan dengan apa yang dikemukakan diatas itu, atau dapat juga terjadi baik pengertian self maupun pengertian ego dipakai dipakai untuk menunjukkan kedua-duanya.
Dalam pada itu haruslah diingat, bahwa tidak ada teori modern mengenai self yang berpendapat bahwa ada aspek kejiwaan sebagai suatu yang ada di dalam (sebagai isi) yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia. Self, baik itu dimaksudkan sebagai obyek maupun sebagai proses, ataupun kedua-duanya bukanlah suatu homunculus atau “manusia di dalam dada” atau jiwa, tetapi pengertian tersebut terutama dimaksudkan untuk menunjuk kepada obyek proses-proses psikologi itu ssendiri, dan proses-proses tersebut dianggap dikuasai oleh hukum sebab akibat. Dengan kata lain, pengertian self itu tidak dipakai dalam arti metafisis atau keagamaan, tetapi dipakai dalam arti psikologis ilmiah (positif). Teori self menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyelidiki gejala-gejala dan membuat konsepsi dari hasil penyelidikan mengenai tingkah laku itu. Jadi, di dalam menunjukkan self sebagai proses, itu yang dimaksud tidak lain daripada nama bagi sekelompok proses.

B.PENDAPAT-PENDAPAT MENGENAI PENGERTIAN EGO

1.      Self dan Ego menurut Symond
Dengan bersandar kepada teori psikoanalisis Symond dalam bukunya yang berjudul : The ego and the self (1951) memberi batasan Ego sebagai suatu kelompok proses, yaitu proses-proses mengamati, mengingat dan berfikir, yang perlu untuk membuat dan melaksanakan rencana tindakan untuk mencapai kepuasan sebagai response terhadap dorongan dari dalam, dan self sebagai cara-cara bagaimana seseorang bereaksi terhadap dirinya sendiri. Self itu mengandung empat aspek, yaitu :
1.      Bagaimana orang mengamati dirinya sendiri,
2.      Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri,
3.      Bagaimana orang menilai dirinya sendiri,
4.      Bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri.
Symond menunjukkan bahwa orang mungkin tidak sadar akan reaksi-reaksi pengamatan, pemikiran, penilaian serta mempertahankan atau menyempurnakan itu. Secara sadar orang dapat mempunyai suatu konsepsi mengenai dirinya sendiri sedangkan secara tidak sadar Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri,
 dia mungkin mempunyai konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi sadarnya itu, hal ini terbukti misalnya dari kenyataan bahwa dia bersikap defensif. Symond memperingatkan bahwa apa yang dikatakan seseorang itu merupakan pencerminan yang tepat mengenai apa yang dirasanya, itu adalah tidak tepat. Peringatan ini diperkuat dengan mengutip hasil-hasil eksperimen Volf (1933, 1935) dan Huntikv (1940) yang menunjukkan bahwa penilaian secara sadar mengenai diri sendiri itu tidak mesti sama dengan penilaian diri sendiri secara tidak sadar.
Symond berpendapat, bahwa ada kerjasama antara self dan ego. Apabila proses-proses ego berhasil menyelesaikan masalah kebutuhan (dalam) dan kenyataan (luar), maka orang cenderung untuk berfikir, bahwa dirinya adalah baik. Demikian juga jika sekiranya orang mempunyai pendapat bahwa dirinya adalah tinggi, maka proses-proses egonya cenderung untuk berfungsi secara baik. Tetapi pada umumnya berhasilnya ego harus ada terlebih dahulu supaya orang merasa dirinya bernilai dan yakin akan dirinya.


2.      Self phenomenal menurut Snygg dan Combs
Snygg dan Combs menamakan diri phenomenologist. Mereka yakin bahwa semua tingkah laku manusia itu, tak ada kecualinya, semata-mata ditentukan oleh dan berhubungan dengan medan phenomenal dimana organisme itu bertingkah laku. Medan phenomenal itu terdiri dari keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi (orang). kesadaran itu dapat tinggi atau rendah tarafnya, tetapi kalau sama sekali tidak sadar itu tidak pernah. Kedua ahli itu yakin bahwa psikologi harus menerima pendapat umum bahwa kesadaran itu merupakan sebab daripada tingkah laku, artinya bahwa apa yang dipikir dan dirasa oleh orang itu menentukan apa yang akan dikerjakannya.
Self phenomenal berbeda dari (terpisah, tidak menjadi satu dengan) medan phenomenal. Self phenomenal ini meliputi segala bagian daripada medan phenomenal itu yang dialami oleh individu sebagai bagian dari dirinya atau khas bagi dirinya. Sepintas lalu self phenomenal menurut pendapat Snygg dan Combs itu seakan-akan self sebagai obyek, tetapi sebenarnya adalah meliputi kedua pengertian self seperti yang telah dikemukakan di depan, yaitu self sebagai obyek dan self sebagai proses.

3.      Subyective self menurut Lundholm
Lundholm dalam karyanya yang berjudul : Reflection upon the nature of the psychological theory (1940) membuat perbedaan antara self subyektif dan self obyektif. Self subyektif terdiri dari lambang-lambang, misalnya kata-kata, yang dipakai oleh individu untuk menyadari diriny sendiri, sedangkan self obyektif terdiri dari kata-kata yang dipergunakan oleh orang lain untuk mencandra dia. Dengan kata lain self subyektif adalah “apa yang dipikirkan orang mengenai diriku” dan self obyektif adalah apa yang dipikirkan orang mengenai aku. Self subyektif itu berubah-ubah tergantung kepada faktor-faktor kooperasi, konflik dengan orang lain dan taraf usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas.

4.      Ego menurut Sherif dan Cantril
Di dalam buku yang berjudul The Psychology of ego involvement (1947) Sherif dan Cantril memberi batasan ego itu sebagai suatu konstelasi sikap-sikap yang dapat digolongkan pada “apa yang akan aku pikirkan tentang diriku, apa yang kunilai, apa yang aku miliki dan apa yang kujadikan obyek identifikasi”. Kedua ahli itu tidak membedakan self sebagai obyek dan self sebagai proses.

5.      Self menurut Sarbin
Sarbin (1952) menyelidiki self sebagai struktur kognitif yang terdiri dari pengertian-pengertian orang tentang berbagai aspek dari kodratnya (dirinya). Orang dapat punya pengertian tentang tubuhnya (simatic self) tentang panca indera dan otot-ototnya (receptor-effector self) dan tingkah laku sosialnya (social self). Self-self ini yang merupakan sub struktur daripada struktur kognitif diterima pengalaman. Sarbin mempergunakan istilah ego dan self secara bertukar-tukar.

6.      Inferred self menurut Hilgard
Hilgard berpendapat bahwa untuk mengerti benar-benar tentng mekanisme pertahanan ego dalam pengertian Freudian orang harus mempelajari self. Semua mekanisme itu menurut Hilgard menunjuk kepada self. “ merasa salah ialah memahami self sebagai sesuatu yang dapat memilih baik buruk. Apabila orang ingin tahu pertahanan orang terhadap rasa susah, dia harus tahu tentang gambaran orang itu mengenai dirinya.
Selanjutnya Hilgard mencari jawaban tentang soal bagaimana orang dapat menentukan sefat gambaran diri (self-image) dan pengertian diri (self-concept). Hilgard menolak cara yang dengan menanyakan kepada orangnya tentang apa yang difikirkan tentang dirinya karena pada anggapan Hilgard gambaran diri sendiri yang disadari itu dapat dipalsukan oleh faktor-faktor yang tak disadari. Hilgard memilih menyimpulkan gambaran diri itu dari bahan-bahan non-introspektif, seperti bahan dari teknik proyeksi, interview klinis, dan sebagainya. Gambaran yang diperoleh dengan cara ini disebut the inferred self.
Hilgard juga membedakan self sebagai obyek dan self sebagai proses. Dia mengatakan bahwa pribadi itu cenderung untuk melihat dirinya sendiri (sebagai obyek) sebagai pelaksana aktif daripada tingkah lakunya.

7.      Self menurut Stephenson
Stephenson yakin bahwa orang dapat berfikir dan berbicara tentang dirinya sendiri sebagaimana dia berfikir dan berbicara tentang benda-benda lain, dan self-reflection ini adalah sebagian dari tingkah lakunya seperti hal-hal lain yang dilakukannya.
Stephenson mengemukakan alasan dan dasar alat yang pokok untuk mempelajari self reflection itu secara kuantitatif yang disebutnya Q-methodology. Metodologi ini kemudian banyak digunakan orang.


8.      Self dan ego menurut Chein
Menurut Chein self itu bukan obyek kesadarn seperti tubuh, akan tetapi lebih merupakan isi kesadaran dan tidak mempunyai realitas terpisah dari kesadaran. Self tidak mengerjakan apa-apa, yang mengerjakan semua itu adalah ego. Ego adalah struktur kognitif bermotif ( motivated-cognitive-structure) yang terbentuk di sekitar self. Motif dan pikiran ego memberikan tujuan bagi kegiatan, mempertahankan, menyempurnakan dan memelihara self. Apabila self dibahayakan, maka lalu ego membantunya. Tetapi tidak semua motif dan pikiran orang itu dicakup dalam ego, ada juga bagian kepribadian non-ego yang juga menentukan perbuatan. Akibat dari hal yang demikian itu ialah ada perbuatan-perbuatan yang melibat ego (ego involved) ada yang tidak.

9.      Self menurut Mead
George Herbard Mead, seorang filsuf sosial mengemukakan konsepsi self yang besar pengaruhnya dalam pemikiran obyek kesadaran daripada suatu sistem proses-proses. Self itu berkembang dengan cara sebagai berikut : Mula-mula self itu tidak ada karena orang tak dapat masuk kepengalamannya secara langsung, artinya orang tidak menurut bakatnya sadar diri (self concious). Dia dapat mengalami orang lain sebagai obyek tetapi mula-mula tidak menganggap dirinya sebagai obyek. Tetapi orang lain bereaksi terhadapnya sebagai obyek, dan reaksi ini dialami oleh orang yang diarahinya (diberi reaksi). Sebagai akibat pengalaman-pengalaman ini, dia belajar berfikir tentang dirinya sendiri sebagai obyek dan mempunyai sikap serta perasan mengenai dirinya sendiri. Seseorang berrespond sebagaimana orang lain berrespond terhadapnya. Jadi menurut Mead ini adalah self yang terbebtuk secara sosial, self ini hanya dapat timbul dalam pergaulan sosial. “ He becomes a self in so far as he can take the attitude of another and toward him as another act”.
Ada banyak self yang dapat terbentuk, misalnya familiy self, school self, dan lain sebagainya.

10.  Ego dan self menurut Koffka
Menurut Koffka, ego adalah suatu bagian yang terpisah dari keseluruhan medan. Ego itu terdapat dalam medan tingkah laku dan saling mempengaruhi dengannya. Pemisahan ego dari keseluruhan medan ini timbul dalam pengalaman karena keadaannya adalah heterogen. Pribadi mengamati dirinya sebagai sesuatu yang menempati ruang antara apa yang didepan dan di belakangnya, apa yang di kiri dan di kanannya. Pengalaman ini dapat sadar dan dapat tidak. Pengalaman sadar membentuk ego-phenomenal, yaitu self sebagai obyek. Tetapi bagi koffka kecuali self sebagi obyek itujuga ada self sebagai proses. Perubahan tingkah laku merupakan fungsi dari perubahan Gestalt Ego-medan. ( pendapat ini sangat mirip dengan pendapat LEWIN). Inti dari pada ego ini ialah self. Kecuali apa yang telah dikemukakan di atas, masih banyak ahli-ahli yang berbicara soal tersebut, misalnya Freud, Adler, Jung, Allport Murphy, dan lain-lain.



C.TEORY SELF CARL ROGERS

PENGANTAR
1.      Riwayat Rogers
Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8-1-1902. Pada umur
12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya ke perguruan tinggi, dan pada tahun-tahun pertama dia sangat gemar akan ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah menyelesaikan pelajaran di Un. of Wisconsin pada 1924 dia lalu masuk Union Theological Seminary di New York City, dimana dia mendapat pandangan yang liberal dan filsafah mengenai agama. Kemudian pindak ke Teachers College of Columbia, di sana ia terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan bimbingan L. Hollingworth. Dia mendapat gelar M.A. pada 1928 dan doktor pada 1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya Freudian. Rogers menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan pemikiran menurut aliran Thorndike.
Setelah mendapat doktor dalam psikologi Rogers menjadi anggota staf daripada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Selama masa ini Rogers dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang Psychoanalyst yang memisahkan diri dari Freudian yang ortodox.
Pada tahun 1940 Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh Rogers sendiri sangat tajam. Karena rangsangan-rangsangannya dia merasa terpaksa harus membuat pandangan-pandangannya dalam psikoterapi itu menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku : Counseling and Psychotherapy. Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru psikologi di Un. of Chicago. Tahun 1946-1947 menjadadi presiden the American Psychological Association.


2.      Pandangan orang terhadap Rogers
Dalam dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkannya. Terapi yang dikembangkannya itu dinamakan : nondirective therapy atau client-centered therapy.
Nondirective therapy ini menjadi populer karena :
a.       Secara historis lebih terikat kepada psikologi daripada kedokteran,
b.      Mudah dipelajari,
c.       Untuk mempergunakannya dibutuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian,
d.      Lamanya perawatan lebih singkat jika dibandingkan misalnya dengan terapi psikoanalitis.

3.      Penyelidikan-penyelidikan serta metode-metode penyelidikan Rogers
Rogers adalah pelopor di dalam counseling dan psikoterapi, dan memberikan banyak dorongan kearah penyelidikan mengenai sifat-sifat dari proses yang terjadi selama perawatan klinis. Penyelidikan mengenai psikoterapi sebenarnya sangat sukar oleh karena sifat individualnya, suasana psikoterapi itu, therapist terpaksa tundu kepada kesejahteraan pasien dan mengabaikan syarat-syarat research dengan mengizinkan masuknya semua hal yang individual yang diperlukan oleh pasien ke dalam ruang perawatan. Tetapi Rogers mendapatkan bahwa pencatatan secara elektris mengenai terapi itu, dengan seizin pasien tidak akan mengganggu jalanya perawatan. Nyatanya baik pasien maupun therapist segera mengabaikan adanya microphon itu dan bertingkah laku secara wajar. Pencatatan yang tepat mengenai jalannya terapi ini memungkinkan Rogers dan teman-temannya menyelidiki jalannya perawatan secara obyektif dan kuantitatif. Walaupun penyelidikan empiris yang dilakukan oleh Rogers dengan teman-temannya itu terutama dimaksudkan untuk memahami dan menjelaskan sifat psikoterapi dan nilai hasil-hasilnya, namun banyak dari hasil-hasil penyelidikan ini menjadi dasar teori self mengenai kepribadian yang disusun oleh Rainy dan Rogers. Dalam kenyataannya perumusan sistematis mengenai teori self yang disusun Rogers itu ditentukan oleh penemuan-penemuan research. Semenjak penemuan teori self itu Rogers memperluas researchnya yang meliputi pula macam-macam kesimpula-kesimpulan dari teori kepribadiannya.
a.             Penyelidikan kuantitatif
Banyak gagasan-gagasan Rogers tentang kepribadian disimpulkan dengan cara kuantitatif dari catatan-catatan mengenai pernyataan pasien mengenai gambaran dirinya sendiri (self picture) serta perubahan-perubahannya selama terapi.
b.      Analisis isi (content analysis)
Metode ini terdiri dari perumusan sejumlah kategori yang dipakai untuk mengklasifikasikan verbalisasi pasien. Pernyataan-pernyataan pasien selama interview dalam terapi diklasifikasikan, Rainy (1948) misalnya membuat kategori-kategori yang mengenai self-reference :
-          Positive or approval self-reference
-          Negative or disapproval self reference
-          Ambivalent self-reference
-          Ambiguous self reference
-          Reference to external objects and person, and question.
Dalam penyelidikan Rainy itu pikiran pokonya ialah demikian. Selama terapi (counseling) maka ada perubahan self-reference itu. Biasanya disapproval atau ambivalent menuju ke arah approval.
Dalam penyelidikan-penyelidikan lain analisis isi itu diusahakan untuk membuktikan dalil bahwa apabila orang makin menerima (bersikap positif) terhadap dirinya, dia juga makin menerima orang lain. Hasil penyelidikan mengenai kolerasi antara konsepsi mengenai diri sendiri dan konsepsi mengenai orang lain (sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap orang lain) itu menunjuk akan angka signifikan. Hasil penyelidikan Sheere menunjuk angka kolerasi 0,51 dan hasil penyelidika Stock menunjuk angka kolerasi 0,66. Ini berarti bahwa apabila orang berfikir baik tentang dirinya sendiri, dia juga berfikir baik tentang orang lain, dan apabila dia mencela dirinya sendiri (disapprove) dia juga cenderung untuk mencela orang lain.
c.       Penyelidikan-penyelidikan dengan Q technique
Karena pengaruh William Stephenson (ahli psikologi Inggris yang bekerja di Un. Chicago) Rogers dengan kawan-kawannya banyak menggunakan Q technique itu. Apakah Q technique itu ? pada pokoknya Q technique adalah suatu metode untuk menyelidiki secara sistematis mengenai pengertian orang (gambaran orang) mengenai dirinya sendiri, walaupun sebenarnya metode ini juga dapat dipakai untuk menyelidiki hal-hal itu. Orang yang diselidiki diberi sejumlah pertanyaan (statement),lalu disuruh menyusun menurut urutan tertentu.Misalnya Butler dan Heigh (1954:murid-murid Rogers) dengan maksud mentest assuption bahwa orang yang datang pada counseling itu kurang puas terhadap diri sendiri, dan kalau telah mengalami counseling yang berhasil ketidakpuasan itu akan berkurang mengerjakannya demikian : dibuat pernyataan-pernyataan yang diambilkan dari pertanyaan-pertanyaan pasien di dalam terapu seperti:
“I am a submissive person”
        “I am a hard worker”
        “I am a likable”
        “I am a impulsive person”.
Sebelum mulai counseling pasien disuruh memilih mengatur kartu yang berisi peryataan itu dalam dua cara:
1.    Self-sort : Aturlan kartu-kartu ini untuk menggambarkan dirimu sendiri sebagaimana kau lihat hari ini dari yang paling tidak mirip dengan kamu sampai yang paling mirip dengan kamu.
2.    Ideal-sort : Nah,sekarang aturlah kartu-kartu itu untuk menggambarkan oarang yang kamu cita-citakan, orang yang ingin kamu tiru,kamu ingin seperti dia.
Kemudian distribusi dari kedua cara pengaturan ini dikorelasikan.Korelasi rata-rata antara self-sort dan ideal-sort itu = 0,0 berarti tidak ada kesamaan antara penglihatan dirinya sendiri dengan orang yang dicita-citakannya. Pada control group, angka korelasi itu  = 0,53 , hal ini berarti bahwa orang-orang ini lebih puas dengan dirinya sendiri. Setelah counseling selesai (rata-rata 3 kali counseling), pasien itu diminta lagi mengatur kartu-kartu itu, dan ternyata angka korelasi rata-rata menjadi 0,34 ,jadi meningkat dengan jelas, walaupun masih belum sama dengan control group. Control group di tesr lagi dan tak ada perubahan.
Untuk mengecek terapi itu diadakan penyelidikan lanjutan (fellow up study) selama antara 6 bulan sampai 12 bulan dan ternyata angka korelasi rata-rata 0,31; hal ini berartimasih dekat sekali dengan akhir counseling, yaitu 0,34. Penyelidikan-penyelidikan itu menyimpulkan bahwa self-esteem (persamaan antara self sort dan ideal sort) meningkat sebagai hasil langsung dari clien-centered counseling.

D.POKOK-POKOK TEORI ROGERS

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah :
 1. Organism, yaitu keseluruhgan individu (the total individual)
 2. Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman (the totality of experience)
 3. Self,yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.

1.    Organism
Organisme memiliki sifat-sifat berikut:
a)         Organisme bereaksi sebagai keseluruhan terhadap medan phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b)        Organisme mempunyai satu motif dasar yaitu : mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
c)         Organisme mungkin melambangkan pengalamannya, sehingga hal itu disadari, atau mungkin menolak pelambangan itu, sehingga pengalaman-pengalaman itu tak disadari, atau mungkin juga organisme itu tidak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.
2.       Medan phenomenal punya sifat disadari atau tak disadari, tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu dilambangkan atau tidak.
a)         Self berkembang dari interaksiorganisme dengan lingkungannya.
b)        Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dakam cara (bentuk) yang tidak wajar.
c)         Self mengejar (menginginkan) consistency (keutuhan/kesatuan) dengan self.
d)        Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras (consistent) dengan self.
e)         Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagaimana ancaman.
f)         Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.
Sifat-sifat dari ketiga konsepsi itu dan saling hubungannya dirumuskan oleh Rogers dalam 19 dalil dalam buku “Client-centered therapy” (1951), dan inilah yang merupakan teori Rogers mengenali self. Adapun dalil-dalil Rogers adalah sebagai berikut :
1.      “Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi pusatnya”.
Rogers berpendapat, bahwa mungkin hanya sebagian kecil saja daripada dunia pengalaman itu yang disadari. Istilah pengalaman disini diartikan sebagai segala sesuatu yang terjadi dalam organisme dalam sesuatu saat, termasuk proses-proses psikologis, kesan-kesan sensoris, dan aktivitas-aktivitas motoris. Kebanyakan dari pengalaman tak sadar itu dapat dijadikan sadar apabila perlu (dalam istilah psikoanalitis : ini dalam alam pra-sadar, bukannya ia sadar). Bagi Rogers, kesadaran itu terdiri dari hal-hal yang dapat dilambangkan (symbolized) : kesadaran itu merupakan figure daripada medan phenomenal dengan latar belakang ketidak-sadaran.
Rogers, yakin bahwa dunia pengalaman individual ini hanya dapat benar-benar dikenal oleh individu yang bersangkutan sendiri. Hanya saja belum tentu individu yang bersangkutan dapat mengembangkan pengalaman diri ini sebaik-baiknya, walaupun secara potensial telah dimiliki.
Menurut dalil ini, orangnya sendiri adalah sumber yang terbaik dari penyelidikan bagi pribadinya. Karena pernyataannya adalah lambang dari pengalaman batinnya, maka ahli psikologi dapat mempelajari apa yang ada dalam dunia pribadi orang itu dengan mendengarkannya apa yang dikatakan. Untuk ini client-centered therapy adalah jalan yang sebaik-baiknya.

2.      ”Organisme bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dinamai dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)”.
Dalil ini menunjukkan, bahwa pribadi tidak bereaksi terhadap perangsang-perangsang dari luar dan pendorong dari dalam sebagaimana adanya  (as such, an sign), tetapi dia bereaksi terhadap hal yang merangsang dan mendorongnya seperti apa yang dialaminya. Apapun yang dipikirnya sebagai benar,baik itu betul-betul benar atau tidak, adalah kenyataan, dan kenyataan subyektif inilah yang menentukan tingkah lakunya.
Konsekuensi perumusan ini ialah bahwa pengetahuan mengenai stimulus saja tidak cukup untuk meramalkan tingkah laku ; orang harus mengetahui bagaimana pribadi mengamati stimulus itu.
Misalnya  orang tak dapat meramalkan bahwa seorang akan memasukkan garam ke dalam kopi, kalau orang tak tahu behwa orang tersebut mengamati garam itu sebagai gula. Dalil ini juga menerangkan mengapa orang bereaksi berbeda-beda terhadap situasi yang sama, dan bereaksi sama terhadap situasi yang berbeda-beda.
Rogers membenarkan, bahwa pribadi cenderung untuk mengecek dunia pengalamannya dengan dunia yang sebenarnya. Mengetes kenyataan ini memberinya pengetahuan yang dapat disangkutkan pada dunia sehingga dia dapat bertingkah laku secara realistis. Namun, beberapa pengamatan tetap tidak ditest atau ditest secara tak baik, dan pengalaman yang tak ditest ini dapat menyebabkan paerbuatan yang tak realistis. Bagaimanakah orang dapat membedakan antara gambaran subyektif yang tidak merupakan representasi yang tepat dari realitas dan yang benar-benar merupakan representasi darinya. Apakah  yang memungkinkan orang membedakan fakta dan fiksi ? Inilah paradox phenomenologi.
Rogers mengatasi paradox ini dengan menyimpang dari rangka pikiran phenomenologi murni.Menurut Rogers apa yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya bukan kenyataan bagi orang itu ; hal itu hanyalah hipotesis tentang kenyataan yang harus ditest, yang dapat benar atau tidak. Orang menunda penilaiannya sampai dia mentest hipotesis itu.Apakah test ini ? Mentest ini terdiri dari menchek ketepatan informasi yang diterimanya yang merupakan dasar dari hipotesisinya dengan sumber-sumber informasi yang lain. Misalnya seseorang yang akan menggarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Dia berangggapan tempat yang besar berisikan garam, karena itu dia memilih ini. Apabila ternyata isinya putih dia lebih yakin bahwa itu garam. Orang yang teliti mungkin mencicipinya sedikit, sebab mungkin juga bukan garam  (misalnya merica atau gula).
Mentest dalam contoh ini ialah menchek informasi yang kurang pasti dengan pengetahuan yang lebih langsung.
3.“Organisme bereaksi terhadap medan phenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)”.
Istilah organized whole ini konsepsi holistis yang berasal dari psikologi Gestalt (Goldstein). Pendapat ini menunjukkan bahwa Rogers tidak sefaham dengan cara penyelidikan segmental, misalnya stimulus-response (psikologi). Organisme selalu merupakan suatu sitem yang terorganisasi, sehingga perubahan pada tiap bagiannya akan menimbulkan perubahan pada lain-lain bagian.

4.”Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri”.
Dalil ini dari Snygg dan Combs dan sesuai dengan gagasan yang serupa yang dikemukakan Angyal dan Maslow, dan kalau dibandingkan dengan pendapat ahli-ahli dari Eropa daratan mirip dengan pendapat Stern.
Dalil ini bersandar pada pangkal duga bahwa organisme adalah semata-mata sistem monitis-dinamis dimana satu pendorong cukup untuk segala macam tingkah laku. Jadi ada satu pendorong dan satu tujuan.
Organisme mengaktualisasikan diri menurut garis yang diwarisi. Makin dewasa organisme itu dia makin terdiferensiasikan, makin luas, makin otonom, makin tersosialisasikan. Jadi ada semacam gerakan maju pada kehidupan tiap orang dan kekuatan inilah yang dapat dipakai sebagai modal oleh therapist untuk memperbaiki pasiennya.
Rogers menambahkan lagi,bahwa kecenderungan bergerak maju itu hanya akan berfungsi kalau pemilihan diamati dengan jelas dan dilambangkan secara baik. Orang tak dapat mengaktualisasi diri kalau dia tak dapat membedakan antara tingkah laku yang progesif dan yang regresif. Dia harus tahu sebelum memilih dan kalau dia tahu umumnya memilih yang progesif.


5.”Pada dasarnya tingkah lak itru adalah usaha organisme yang berarah tujuan (goa-directed,doelgerich), yaitu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatinya”.
Walaupun ada banyak kebutuhan-kebutuhan namun itu tidak semua mengabdi kepada tujuan organisme untuk mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.

6.”Emosi menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas tingkah laku berarah tujuan itu”.
Dalil ini didasarkan kepada pandangan tentang emosi yang dikemukakan oleh Prescott (1938) dan Leeper (1948) yang menyatakan, bahwa emosi itu tidak mengganggu bahkan berguna bagi penyesuaian diri. Emosi yang merangsang seperti misalnya marah, membantu pribadi dalam tingkah lakunya berusaha, sedang emosi menenangkan, seperti misalnya : lega, membantu penggunaan apa yang dikejar. Misalnya kemarahan dapat mendorong orang mencari makan dengan lebih giat, sedang kelegaan karena memiliki membantu orang mencernakan makanan yang telah dimakan. Intensitas emosi ini beragam-ragam sesuai dengan arti situasi bagi pribadi. Apabila bahaya mengancam hidupnya, kekuatannya akan besar, tetapi apabila bahaya itu tak berarti/kecil ketakutan akan kecil.

7.”Jalan yang paling baik untuk memahami tingkah laku ialah dengan melalui internal frame or reference orangnya sendiri”.
Mencobamemahami pribadi dari external frame or referecenya, yaitu dengan melalui kesimpulan yang ditarik dari bahan-bahan test, observasi, tingkah laku ekspresif kurang memuaskan jika dinbanding dengan mempergunakan internal frame or referencenya sebagai ternyata dari sikap dan perasaan yang dinyatakannya dalam suasana bebas (permissive,non threatening) client-centered therapy.
Rogers berpendapat, bahwa self-report tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai kepribadian. Karena :
·           Orang mungkin kurang sadar akan alasan tingkah lakunya akan tetapi tak dapat menyatakannya dalam kata-kata.
·            Orang mungkin tidak menyadarinya.
·           Orang mungkin menyadari pengalamannya dan dapat menyatakannya, tetapi dia tidak mau berbuat demikian. Apabila dipaksakan memberi jawaban dia mungkin memperdayakan.

Karena kelemahan-kelemahan self-report itu maka Rogers memilih mencoba memahami kepribadian dan tingkah laku dari internal-frame of reference orangnya sebagaimana manifest dalam client-centered therapy. Ketujuh dalil yang sudah dikemukakan itu terutama bersifat phenomenologis dan mengenai organisme yang bertingkah laku (behaving organism).
Delapan dalil berikutnya mengemukakan konsepsi tentang self, sedang empat lagi membahas konsepsi self itu lebih jauh.

8.”Suatu bagian dari seluruh medan pengamatan sedikit demi sedikit terdiferensiasikan sebagai self”.
Disini Rogers mengikuti Snygg dan Combs, yaitu berpendapat, bahwa self phenomenal terdiferensiasikan dari medan phenomenal. Self ini ialah kesadaran orang akan adanya dan berfungsinya ; jadi self sebagai obyek pengalaman-pengalaman yang menunjuk “I” atau “me”.
Bagaimana self itu terdiferensiasi dari medan phenomenal ? Hal itu dijelaskan oleh dalil yang berikut.

9.”Sebagai hasil saling pengaruh (interaction) dengan lingkungan,terutama sebagai hasil dari saling pengaruh yang bersifat menilai dengan orang-orang lain, struktur self itu terbentuk pola pengamatan yang teratur, lentur (fluid),selaras dalam hubungan dengan “I” atau “me”, beserta nilai-nilai yang dihadapi dengan konsepsi ini”.
Di antara diskriminasi-diskriminasi yang dipelajari oleh anak-anak kecil ialah yang memungkinkan dia membedakan dirinya sebagai obyek dari lingkungannya. Setelah dia mempelajari diskriminasi ini kemudian dia mengamat, bahwa beberapa benda termasuk padanya dan benda-benda yang lainnya tidak (termasuk dalam lingkungannya). Selanjutnya dia juga membentuk konsepsi mengenai dirinya sendiri dalam hubungan dengan lingkungan. Pengalaman-pengalaman ini dinilainya, ada yang positif (I like it) ada yang negatif (I dislike it). Struktur self itu selanjutnya merupakan gambaran yang teratur ada dalam pribadi sebagai figure (kesadaran) atau sebagai background (psasadar) beserta nilai-nilai negatif atau positif.
Nilai-nilai tidak hanya menambah gambaran self (self picture) sebagai hasil pengalaman langsung dengan lingkungan tetapi juga diambil dari orang-orang lain dengan cara introyeksi.

10.”Nilai-nilai terikat kepada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian dari struktur self, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintroyeksikan atau diambil dari orang lain,tetapi diamati sebagai dialaminya langsung”.
Anak suka mengerjakan banyak hal, yang mendapat hadiah atau hukuman dari orang tua. Anak yang mendapat hukuman karena mengerjakan sesuatu merasa karena dihadapkan kepada konflik antara keinginan mengejar kesenangan dan keinginan menghindarkan kesakitan. Dalam menyelesaikan konflik ini mungkindia mengubah gambaran mengenai dirinya (self image) dan nilai-nilai dalam dirinya sedemikian rupa, sehingga perasaan dan nilai-nilainya yang sebenarnya dipalsukan. Hal tersebut terdapat misaklnya dalam cara sebagai berikut :
Seseorang anak laki-laki mempunyai gambaran diri bahwa dia adalah anak yang baik dan dicintai oleh kedua orang tuanya, tetapi juga senang menyiksa adiknya dan karena perbuatan itu dia mendapat hukuman. Sebagai akibat dari hukuman ini dia harus meninjau kembali gambaran dirinya dan nilai-nilainya dalam salah satu dari cara-cara yang berikut:
·            “Saya adalah anak yang jahat”
·            Orang tua saya tidajk menyukai saya”
·            Saya tak suka mengganggu adik saya”
Masing-masing sikap di atas itu dapat memalsukan kebenaran. Misalnya saja anak itu mengambil sikap “Saya tak suka menggangu adik”, maka ini berarti dia menolak perasaannya yang sebenarnya. Penolakan ini tidak berarti bahwa perasaan itu lalu hilang;perasaan itu akan tetap  mempengaruhinya dalam berbagai cara, kendatipun itu mungkin tak disadari. Jadi lalu akan ada konflik antara nilai yang diintroyeksikan yang disadari dengan hal yang tak disadari. Apabila nilai yang sebenarnya itu makin banyak diganti oleh nilai yang diambil dari orang lain yang diamatinya sebagai nilainya sendiri, maka self orang itu akan terpecah. Orang yang demikian itu akan merasa tegang,tak tenang. Dia akan merasa seakan-akan tahu apa yang diinginkan.

11.”Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu itu dapat dihadapi demikian :
·                         Dilambangkan,diamati dan diatur dalam hubungannya dengan self;
·                         Diabaikan karena tak ada hubungan yang terlihat dengan struktur self;
·                         Ditolak atau dilambangkan secara palsu oleh karena pengalaman itu tak selaras dengan struktur self”.
Dalil ini menyatakan bahwa pengamatan itu selektif dan kriteria utama untuk seleksi ini ialah apakah pengalaman itu selaras dengan gambaran diri orang pada saat itu. Apabila mempunyai gambaran diri sebagai orang lapar, dia akan memilih stimulus-stimulus yang dialaminya yang penting/berguna bagi pemuasan rasa laparnya dan mengabaikan yang tak berguna.
Menolak dan mengabaikan pengalaman tidaklah sama. Penolakan berarti pemalsuan kenyataan baik dengan menyatakan itu tidajk ada, maupun yang tak wajar. Seseorang mungkin menolak rasa agresifnya, karena hal itu tidak selaras dengan gambaran dirinya sebagai orang suka damai, baik hati. Dalam hal demikian itu orang mungkin dibiarkan menyatakan diri dalam pelambangan tak wajar, misalnya dengan memproyeksikan kepada orang lain. Rogers menunjukkan bahwa orang sering suka mempertahankan dan mengembangkan diri yang menyimpang dari kenyataan (realitas).
Orang yang merasa dirinya tak berharga akan mengeluarkan dari kesadarannya bukti-bukti yang bertentangan dengan gambaran itu, atau akan menafsirkannya sesuai dengan rasa tak berharga itu. Misalnya orang yang mendapat kenaikan tingkat mengatakan “Perbesar saya kasihan pada saya” atau “saya tak mengharapkan hal itu”. Bahkan ada orang yang dalam jabatan baru itu berusaha menunjukkan kepada dirinya sendiri dan orang lain bahwadia tidak baik. Bagaimana orang dapat menolak ancaman terhadap gambaran dirinya tanpa mula-mula menyadari ancaman itu ? Rogers mengatakan bahwa ada taraf diskriminasi yang dibawah pengenalan secara sadar, dan obyek yang mengancam itu mungkin diterima secara tak sadar. Misalnya : obyek atau situasi yang mengancam itu menimbulkan reaksi debaran jantung,yang secara sadar dirasa sebagai gejala ketakutan, tanpa orang mengetahui apa yang ditakutkan itu. Perasaan takut menimbulkan mekanisme penolajkan atau penekanan yang mencegah pengalaman yang mengancam itu menjadi didasari.

12.”Kebanyakan cara-cara bertingkah laku yang diambil orang ialah yang selaras dengan konsepsi self”.
Apabila dalil ini betul,maka cara yang paling baik untuk mengubah tingkah laku ialah dengan mengubah konsepsi self ini. Dalil inilah memang yang dikerjakan oleh Rogers, karena client-centered therapy itu sebenarnya adalah self-centered therapy.

13.”Dalam beberapa hal tingkah laku itu mungkin didorong oleh pengalaman-pengalaman dan kebutuhan-kebutuhan organis yang tidak dilambangkan. Tingkah laku yang demikian itu mungkin tidak serasi dengan struktur self, akan tetapi dalam hal yang demikian itu tingkah laku itu tidak diakui (dimiliki, own) oleh individu yang bersangkutan.”
Jadi ada tingkah laku-tingkah laku yang tidak selaras dengan struktur self. Apabila orang bertingkah laku yang tak selaras dengan struktur self itu maka orang menolak mengaku tingkah laku itu : ”Saya terpaksa”, ”Saya tak bermaksud demikian”, ”Kenapakah itu saya kerjakan?” dan sebagainya.
Kalau dalil 12 dan 13 itu ditinjau bersama-sama maka nyata bahwa Rogers mengakui adanya dua sistem pengatur tingkah laku, yaitu : Self dan sistem organis. Kedua sistem itu dapat bekerja secara selaras dan dapat bertentangan satu sama lain. Apabila kedua sistem itu bertentangan satu sama lain, maka hasilnya adalah ketegangan satu sama lain, maka hasilnya adalah ketegangan dan penyesuaian diri yang  tak baik (tension dan meladjustment) seperti tersebut pada dalil 14. Kalau keduanya bekerjasama, hasilnya penyesuaian, seperti pada dalil 15.

14.”Psychological maladjustment terjadi apabila organisme menolak menjadi sadarnya pengalaman sensoris dan visceral yang kuat,yang selanjutnya tidak dilambangkan dan diorganisasikan ke dalam gestalt struktur self.Apabila hal ini terjadi, maka akan terjadi psychological tension.”


15.”Psychological adjusment terjadi apabila konsepsi self itu sedemikian rupa, sehingga segala pengalaman sensoris dan visceral diasimilasikan pada taraf lambang(sadar) ke dalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self” (bandingkan dengan Freud : ego dan id yang sadar dan tak sadar).

16.”Tiap pengalaman yang selaras dengan organisasi atau struktur self akan diamati sebagai ancaman, dan makin meningkat pengamatan itu akan makin tegas struktur self itu untuk mempertahankan diri”.
Self membentuk pertahanan-pertahanan terhadap pengalaman-pengalaman yang mengancam dengan menolaknya masuk ke kesadaran. Apabila ini terjadi,gambaran diri (self image) itu makin kurang cocok dengan kenyataan organismis dan ini akan berakibat dibutuhkan lebih banyak  pertahanan untuk mempertahankan gambaran palsu yang dibuat self itu. Karena itu self kehilangan hubungannya dengan pengalaman organisme yang sebenarnya dan meningkatnya pertentangan antara kenyataan dan self itu menimbulkan tegangan (tension). Akibatnya pribadi menjadi lebih maladjusted.

17.”Dalam kondisi tertentu,pertama-tama tiadanya ancaman terhadap struktur self, pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self dapat diamati, dan diuji, dalam struktur self direvisi untuk dapat mengasimilasi dan melingkupi pengalaman-pengalaman yang demikian itu”.
Di dalam client centered therapy pribadi merasa dalam situasi yang tanpa bahaya/ancaman karena counselor menerima sepenuhnya pasien. Sikap counselor yang demikian ini mendorong pasien untuk menjelaskan perasaan-perasaan tak sadarnya dan menyadarinya. Lambat laun dia mengenal perasaan tak sadar yang bmengancam keamanannya. Dalam situasi terapi yang baik dapat diasimilasikan ke dalam struktur self. Asimilasi ini mungkin menghendaki reorganisasi yang drastis mengenai konsepsi self daripada pasien dengan maksud supaya sejalan dengan kenyataan pengalaman organismis.
“He will be, in more unified fashion what he organismically is, and this seems to be essence of therapy”.
Keuntungan sosial yang dicapai dengan terapi cara ini ialah bahwa orang yang mengasimilasikan pengalaman yang dulu ditolaknya itu makin mengerti dan menerima orang lain.

18.”Apabila orang mengalami dan menerima segala pengalaman sensoris dan visceralnya ke dalam sistemnya yang intregral dan selaras, maka dia akan lebih memahami orang lain dan menerima orang lain sebagai individu”.
Orang yang defensif cenderung untuk merasa bermusuhan terhadap orang yang tingkah lakunya, dalam penglihatannya, mencerminkan perasaannya sendiri yang ditekannya. Apabila orang merasa terancam oleh impuls-impuls seksual ia akan cenderung untuk mengkritik orang lain yang pada penglihatannya menonjolkan seksualitas. Sebaliknya kalau dia menerima perasaan seksual dan permusuhannya itu dia akan lebih tolerant terhadap orang lain yang mengekspresikan perasaan itu. Akibatnya hubungan sosialnya akan lebih baik.

19.”Kalau individu lebih banyak lagi mengamati dan menerima ke dalam struktur selfnya pengalaman-pengalaman organisnya, dia akan mengetahui bahwa dia mengganti sistem nilai-nilainya kini yang pada umumnya didasarkan pada introyeksi yang telah diterimanya dalam bentuk yang tidak wajar dengan proses penilaian yang terus-menerus (cotinuing valuing procces)”.
Tekanan disini diletakkan pada sistem dan proses. Sistem menunjukkan sesuatu yang tetap, statis, sedang proses menunjukkan adanya perubahan.
Untuk adanya adjusment yang sehat dan integral orang harus selalu menilai pengalaman-pengalamannya untuk mengetahui apakah perlu adanya perubahan dalam sistem nilai-nilai. Tiap struktur nilai-nilai yang tetap cenderung untuk mencegah pribadi untuk bereaksi secara baik (efektif) terhadap pengalaman-pengalaman baru. Jadi orang harus flexible supaya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi kehidupan yang selalu berubah. Apakah proses penilaian terus-menerus secara individual terhadap pengalaman itu tidak akan menimbulkan anarki sosial ? Menurut keyakinan Rogers tidak. Karena semua orang mempunyai kebutuhan dasar/pokok yang sama termasuk juga kebutuhan diterima oleh orang lain. Akibatnya nilai-nilai mereka mempunyai banyak kesamaan.
“Teori ini pada dasarnya bersifat phenomenologis dan terutama berhubungan dengan konsepsi untuk menerangkan. Teori ini menggambarkan titik akhir daripada perkembangan kepribadian yaitu adanya kesamaan pokok antara medan pengalaman phenomenal dan struktur self secara konseptual –suatu situasi yang apabila tercapai berisikan kebebasan dari ketegangan yang potensial, yang akan menunjukkan adaptasi realistis yang maksimum, yang akan berarti pembentukan sistem nilai-nilai individual yang mempunyai kesamaan dengan sistem nilai-nilai orang lain dan menjadi  pribadi yang well-adjusted”.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN HASIL MAKALAH
Pengertian self itu tidak dipakai dalam arti metafisis atau keagamaan, tetapi dipakai dalam arti psikologis ilmiah (positif). Teori self menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyelidiki gejala-gejala dan membuat konsepsi dari hasil penyelidikan mengenai tingkah laku itu. Jadi, di dalam menunjukkan self sebagai proses, itu yang dimaksud tidak lain daripada nama bagi sekelompok proses.
Ego adalah struktur kognitif bermotif ( motivated-cognitive-structure) yang terbentuk di sekitar self. Motif dan pikiran ego memberikan tujuan bagi kegiatan, mempertahankan, menyempurnakan dan memelihara self. Apabila self dibahayakan, maka lalu ego membantunya. Tetapi tidak semua motif dan pikiran orang itu dicakup dalam ego, ada juga bagian kepribadian non-ego yang juga menentukan perbuatan. Akibat dari hal yang demikian itu ialah ada perbuatan-perbuatan yang melibat ego (ego involved) ada yang tidak.

B.     SARAN-SARAN
Selama proses makalah ini dibuat ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis. Catatan ini menjadi hal yang perlu diperhatikan sekaligus sebagai saran, baik bagi pembaca maupun penulis.
Ø  Saran bagi pembaca
Diharapkan kepada pembaca khususnya para pendidik, agar  dapat memahami makalah ini dan menerapkannya bagi dunia pendidkan guna meningkatkan pemahaman siswa dalam pemecahan suatu masalah.
Ø  Saran bagi penulis
Semoga dengan kritik dan saran yang diberikan pembaca kepada penulis, selanjutnya penulis akan membuat makalah yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

                   1.Alwilsol (2004) Psikologi Kepribadian.Malang:UM  press
                   2.Suryabrata, Sumadi (1982), Psikologi Kepibadian.Jakarta:Rajawali
                   3.Garrdner Linzey dan Calvin S.Hall (1993) , Teori-teori Holistik.Yogyakarta:Kanisius

Lama Witak

About Lama Witak

Peace and Love

Tidak ada komentar:
Write komentar
Join Our Newsletter