Struktur dan
Dinamika Kepribadian
Dalam
teori-teori yang lain-lain dapat dipergunakan rangka pembicaraan struktur,
dinamika dan perkembangan kepribadian. Rangka ini tidak dapat dipakai untuk
membicarakan teori Allport, karena bagi Allport struktur kepribadian itu
terutama dinyatakan dalam sifat-sifat (trais)dan tingkah laku didorong oleh sifat-sifat(traits). Jadi struktur dan dinamika itu pada umumnya satu dan sama.
terutama dinyatakan dalam sifat-sifat (trais)dan tingkah laku didorong oleh sifat-sifat(traits). Jadi struktur dan dinamika itu pada umumnya satu dan sama.
Sikap
eklektis Allport nyata sekali dalam banyak konsepsi(pengertian) yang
diterimanya sebagai
sesuatu yang berguna untuk memahami tingkah laku manusia. Allport berpendapat bahwa masing-masing pengertian seperti refleks bersyarat, kebiasaan, sikap, sifat, diri dan kepribadian itu semuanya masing-masing adalah bermanfaat.
sesuatu yang berguna untuk memahami tingkah laku manusia. Allport berpendapat bahwa masing-masing pengertian seperti refleks bersyarat, kebiasaan, sikap, sifat, diri dan kepribadian itu semuanya masing-masing adalah bermanfaat.
Tetapi
walaupun semua pengertian itu diterima dan dianggap penting, namun tekanan
utama diletakkannya pada sifat (trait), sedang disamping itu sikap (attitude)
dan intensi (intentions) diberinya kedudukan yang kira-kira sama, sehingga ada
yang menamakan psikologi Allport itu adalah “trait psikologi”
A.
KEPRIBADIAN,
WATAK, DAN TEMPERAMENT
1)
Kepribadian
Bagi Allport definisi bukanlah
sesuatu yang boleh dipandang enteng. Allport telah membahas 50 definisi yang
telah dikemukan oleh para ahli dalam bidang tersebut. Setelah itu lalu dia
berusaha mengkombinasikan unsur-unsur yang telah ada dalam definisi-definisi
yang lebih dahulu itu dengan menghindari kekurangan-kekurangan yang pokok.
Secara singkat dia definisikan kepribadian tu sebagai “ What a man really is”.
Tetapi definisi itu kurang memadai dan berlampau singkat. Kemudian Allport
mengemukakan definisi kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu
sebagai system psikofisis yang menentukan caranya khas dalam menyesuaikan diri
terhadap lingkungan . (Allport, 1951, p. 48).
Definisi itu
mempunyai maksud:
a) Organisasi dinamis menekankan kenyataan bahwa
kepribadian iti selalu berkembang dan berubah walupun dalam pada itu ada
organisasi system yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen daripada kepribadian.
b) Psikofisis menunjukkan bahwa kepribadian
bukanlah eksklusif (semata-mata) mental dan bukan pula semata-mata neural.
Organisasi pribadi melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisah-pisah) dalam
kesatuan kepribadian.
c) Menetukan menunjukkan bahwa kepribadian
mengandung tendens-tendens determinasi yang memainkan peranan aktif dala
tingkah laku individu.
d) Khas (unik, unique) menunjuk tekanan utama
yang diberikan oleh Allport pada individualitas.
e) Menyesuaikan diri terhadap lingkungan , Allport
menunjukkan keyakinannya, bahwa kepribadian mengantarai individu dengan
lingkungan fisis dan lingkungan psikologisnya, kadang-kadang menguasainya. Jadi
kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan
menentukan.
2)
Watak (karakter)
Allport
menunjukan bahwa kata watak menunjukan arti normative; dia menyatakan bahwa
“character is personality evaluated and personality is character devaluated “.
3)
Temperament
Pengertian temperament dan
kepribadian juga sering dikacaukan. Namun sebenarnya umum mengakui adanya
perbedaan diantara keduanya. Temperament adalah disposisi yang sangat erat
hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis dan karenanya sedikit
sekali mengalami modifikasi di dalam perkembangan. Peran keturunan atau dasar di
sinilah lebih penting atau besar daripada segi-segi kepribadian yang lain. Bagi
Allport temperamen adalah bagian khusus dari kepribadian yang diberikan
definisi demikian :“ Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat
emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan
serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara
daripada fluktuasi dan intensitat susasana gejala hati; gejala ini tergantung
pada factor konstitusional, dan karenanya teutama berasal dati keturunan”.
B. SIFAT (TRAIT)
a. Sifat
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi
dan diberikan definisi demikian :
“Sifat adalah system neuropsikis yang
digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi
bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku
adaptif dan ekspresif secara sama” (Allport, 1951, p. 289). Yang perlu dicatat dala definisi ini adalah tekanan terhadap individualitas
dan kesimpulan bahwa kecenderungan itu tidak hanya terikat kepada sejumlah
kecil perangsang atau reaksi, melainkan dengan seluruh pribadi manusia. Allport mengikuti pendirian biofisik yang menyatakan bahwa trait adalah kenyataan
terakhir dari organisasi psikologis dan dalam tulisannya (Personality) dia
menyatakan :“ Suatu sifat mempunyai lebih dari hanya eksistensi nominal saja;
sifat itu tak tergantung kepada pengamat, tetapi nyata-nyata ada pada
individu”. (Alport, 1951, p. 289).
Jelasnya :
Pandangan ini tidak beranggapan bahwa tiap nama
sifat mesti mencerminkan suatu sifat, tetapi maksudnya di belakang semua
kekaburan istilah itu, dibelakang ketidaksepakatan pendapat mengenainya dan
terpisah dari kekhilafan dan kegagalan observasi empiris. Ada stuktur batin(mental structure)
pada tiap kepribadian yang mencerminkan keselarasan tingkah lakunya.
b. Perbedaan sifat
dengan beberapa pengertian yang lain
a) Kebiasaan (habit)
Sifat
(trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan
teeapi sifat lebih umum, baik dalam situasi yang dicocokinya, maupun dalam
response yang terjelma darinya.
b) Sikap (attitude)
Kedua-duanya
itu adalah predisposisi untuk berespon, kedua-duanya adalah khas, kedua-duanya
dapat memulai atau membimbing tingkah laku; kedua-duanya adalah hasil dari
factor genetic dan belajar. Namun ada juga perbedaannya diantar kedua hal
tersebut:
1) Sikap (attitude) itu berhubungan
dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sifat lebih umum
daripada sifat ialah bahwa sifat itu hampir selalu lebih besar/luas daripada
sikap: dalam kenyataannya makin besar obyek yang dikenai sikap itu, maka makin
mirip dengan sifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke lebih
umum, tetapi kalu sifat selalu umum.
2) Sikap biasanya memberikan penilaian
(menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapinya, sedangkan sifat tidak.
c) Tipe
Alport
membedakan antara sifat dan tipe. Menurut dia orang dapat memiliki sesuatu
sifat, tetapi tidak dapat memiliki suatu tipe. Tipe adalah konstruksi ideal si
pengamat, dan seseorang dapat disesuaiakn denagn tipe itu tetapi dengan
konsekuensi diabaikan sifat khas pribadi sedangkan tipe malah
menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan
yang tak begitu cocok dengan kenyataan sedangkan sifat adalah refleksi
sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
c.
Sifat
–sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individual
Allport
menyatakan bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai
sifat-sifat yang benar-benar sama. Walupun mungkin ada kemripan dalam sruktur
sigat dari individu-individu namun selau ada corak yang khas mengenai cara
bekerjanya sifat-sifat itu pada individu yang menyebabkan adanya perbedaan
dengan sifat itu adalah individual artinya khas dan hanya dapat dikenakan
kepada satu individu.
Allport mengakui
bahwa karena pengaruh-pengaruh yang sama dari masyarakat dan kesamaan- kesamaan
biologis yang mempengaruhi perkembangan individu, ada sejumlah kecil cara-cara
penyesuaian diri secara kasar (garis besar) dapat dibandingkan. Jadi penyelidik
mungkin menyusun ketentuan-ketentuan (ukuran-ukuran) yang menunjukkan
aspek-aspek yang sama daripada sifat-sifat individual dan mempunyai sifat
prediktif kasar – inilah sifat umum atau sifat nomothetis. Jadi pada umumnya
Allport mengakui bahawa penyelidikan mengenai sifat-sifat umum itu akan
berguna dalam konsepsi yang demikian itu menggambarkan individu
setepat-tepatnya.
d.
Sifat
pokok, sifat sentral dan sifat sekunder.
Allport
membedakan antara sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder sebagai berikut
:
a) Sifat pokok atau cardinat
trait
Sifat pokok ini demikian menonjolnya
(dominanys) sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak dapat
dicari, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu
berlangsung pengaruhnya. Macam sifat ini relative kurang biasa dan kurang
nampak pada tiap orang.
b) Sifat sentral (central
trait)
Sifat-sifat ini lebih khas, dan
merupakan kecenderungan –kecenderungan individu yang angat khas/karakteristik
sering berfungsi dan mudah ditandai.
c) Sifat sekunder (secondary
trait)
Sifat sekunder ini nampaknya
berfungsinya lebih terbatas, kurang menentukan didalam deskripsi kepribadian,
dan lebih terpusat atua khusus pada response-response yang didasarnya serta
perangsang-perangsang yang dicocokinya.
e.
Sifat-sifat
ekspresif
Sifat-sifat
ekpresif ini merupakan disposisi yang memberi warna atau mempengaruhi bentuk
tingkah laku, tetapi kebanyakan orang mempunyai sifat mendorong. Contoh
sifat-sifat ekpresif ini ialah melagak, ulet, dan sebagianya. Adapun tujuan
yang dikejarnya orang sifat-sifat ini dapat bekerja, dapat memberi warana
kepada tingkah lakunya.
f.
Kebebasan
sifat-sifat
Allport
berpendapat bahwa sifat itu dapat ditandai bukan oleh sifat bebasnya yang kaku
tetapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat itu cenderung untuk
mempunyai pusat; di sekitar pusat itulah pengaruhnya berfungsi; tetapi tingkah
laku yang ditimbulkannya juga secara serempak (simultan) dipengaruhi
sifat-sifat lain.
g.
Konsistensi
(consistency) sifat-sifat
Jelas bahwa
kesimpulan-kesimpulan yang dipergunakan untuk menandai sifa adalah
konsisitensinya. Jadi sifat itu tidak dapat dikenal hanya keteraturan atau
ketetapnya di dalam individu bertingkah laku. Kenyataan, bahwa ada banyak sifat
–sifat yang saling menutup satu sama lain yang serempak aktif menunjukkan,
bahawa ketidaktetapan (inconsistency) yang jelas di dalam tingkah laku individu
relative akan sering diketemukan. Selanjutnya, kenyataan bahwa sifat-sifat itu
terorganisasi secara khas individual memberi kesimpulan bahwa sifat-sifat itu
mungkin meliputi unsur-unsur yang nampaknya tidak tetap apabila dipandang dari
segi normative atau dari luar. Jadi, orang mungkin menyaksikan
ketidaktetapan tingkah laku yang sebenarnya mencermikan batin yang tetap yang
terorganisasi secara khas.
h. Intensi (intensio)
Lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan
mengenai intensi atau keinginana individu mengenai masa depannya. Istilah
intensi atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intensi
digunkan dalam arti meliputu pengertian : harapan-harapan, keinginan-keinginan,
ambisi, cita-cita seseorang. Teori Allport menunjukkan, bahwa apa yang
akan dicoba dilakukan oleh seseoramg merupakan kunci dan hal yang terpenting
bagi apa yang dikerjakannya sekarang.
C.
PROPIUM
Allport
mengemukakan hendaknya semua fungsi self atau ego itu disebut fungsi proprium
(propriate fuction)daripada kepribadian. Fungsi-fungsi ini (termasuk kesadran
jasmani, self identity, self esteem, self extention, rational thingking, self
image, propriate striving, danfungsi mengenal ) semauanya adalah bagian-bagian
yang vital daripada kepribadian. Dalam bidang inilah terdapat akar daripada
ketetapan (consistency) yang menandai sikap intensi dan evaluasi. Proprium itu
tidak dibawa sejak lahir tetapi berkembang did lam perkembangan individu.
D.
Otonomi Fungsional (Functional Autonomy)
Pada
pokoknya prinsip dari Otonomi Fungsional menyatakan, bahwa aktivita
tertentu atau bentuk tingkah laku tertentu dapat menjadi akhir atau tujuan sendiri
walaupun dalam kenyataannya mula-mula terjadi karena sesuatu alasan lain.
Tiap tingkah laku, sederhana atau kompleks, walupun mula-mula diasalkan dari
tegangan organis, dapat terus berlangsung dengan sendirinya tanpa adanya factor
bilolgis yang memperkuatnya lagi (tanpa biological reinforcement).
Prinsip otonomi fungsional itu berarti :
1) Bahwa dorongan –dorongan
itu terikat pada prinsip kekinian, jadi dorongan itu mendorong kini, terikat
secara fungsional kepada asalnya atau tujuan yang lebih dulu, tetapi hanya
terikat tujaun yang ada kini.
2) Bahwa sifat
dorongan-doronagan itu dari kanak –kanak ke dewasa itu mengalami perubahan
radikal, sehingga dapat dikatakan dorongan-dorongan pada masa dewasa itu
merupakan tunas daripada dorongan-dorongan masa kanak-kanak.
3) Bahwa kedewasaan orang
diukur dari taraf otonomi fungsional dorongan-dorongan yang telah dicapainya;
dalam pada itu memang ada dalam tiap kepribadian itu sifat-sifat yang archais
(infantilisme, regresi response-response, refleks), namun manusi yang
bekebudayaan dan telah tersosoalisasikan menunjukkan kematangan sampai
taraf-taraf tertentu.
4) Bahwa proses deferensiasi
dalam belajar mempengaruhi temperamen dan bakat ke arah perkembangan yang
devergen, mnyebabakan terbentuknya dorongan-doronagan yang khas individual.
Struktur dinamis tiap kepribadian itu unik,
kendatipun kesamaan karena species, alam kebudayaan, mungkin menimbulkan
kemiripan sampai batas tertentu.
4) Denagan tidak mengingkari kemungkinan adanya instink-instink pada masa
kanak-kanak atau adanya sementara refleks atau tingkah laku instinktif selama
hidup, namun prinsip otonom fungsional tetap menganggap kepribadian yang telak
deasa itu secar hakiki merupakan gejala “post insnctive”.
II.
Perkembangan Kepribadian
a. Kanak-kanak
Neonatus :
Allport memandang neonatus itu semata-mata sebagai
makhluk yang dilengkapi dengan keturunan-keturunan, dorongan-dorongan/nafsu
–nafsu dan refleks-refleks. Jadi belum memiliki bermacam –macam sifat yang
kemudian dimilikinya. Dengan kata lain belum memilikimkepribadian. Pada waktu
lahir ini anak telah mempunyai potensi-potensi baik fisik maupun temperamen,
yang aktualisasinya tergantung perkembangan dan kematangan. Kecuali itu
neonatus telah memiliki refleks-refleks tertentu (mengisap, menelan) serta
melakukan gerakan-gerakn yang masih belum terdiferensiasikan, dimana hamper
semua gerakan otot-otot itu ikut digerakkan.
b. Transformasi
Kanak-kanak
Perkembangan itu melewati
garis-garis yang berganda,. Bermacam-macam mekanisme atau prinsip dipakai untuk
membuat deskripsi mengenai perubahan-perubahan sejak kanak-kanak sampai dewasa
itu :
1) Diferensiasi
2) Integrasi
3) Pemasakan (maturation)
4) “Belajar”
5) Kesadaran diri )self consciousness)
6) Sugesti
7) Self Esteem
8) Inferiority, dan kompensasi
9) Mekanisme-mekanisme psikoanalitis
10) Otonomi fungsional
11) Reorientasi mendadak truma
12) Extension of self
13) Self obyektification ,instink dan humor
14) Pandangan hidup pribadi (personal
Weltanschauung)
Menurut Allport manusia itu adalah
organisme yang pada waktu lahirnya adalah makhluk biologis, lalu
berubah/berkembang menjadi individu yang egonya selalu berkembang, sruktur
sifat-sifatnya meluas dan merupakan inti daripada tujuan-tujuan dan
aspirasi-aspirasi masa depan.
c. Orang
Dewasa
Pada orang dewasa
faktor-faktor yang menentukan tingkah laku adalah sifat-sifat (traits) yang
terorganisasikan dan selaras. Sifat-sifat ini timbul dalam berbagai cara dari
perlengkapan-perlengkapan yang dimiliki neonatus. Biasanya individu normal
mengerti/menyadari apa yang dikerjakannya dan mengapa itu dikerjakannya. Untuk
memahami manusia dewasa tidak dapat dilakukan tanpa mengerti tujuan-tujaun
serta aspirasi-aspirasinya. Motif-motifnya
terutama tidak berakar di masa lampau (echo dari masa lampau) tetapi terutama
bersandar pada masa depan.
Menurut Allport pribadi yang telah dewasa itu pada pokoknya harus memiliki
hal-hal yang tersebut dibawah ini :
( 1 ) Extension of self
Yaitu bahwa hidupnya tidak
harus terikat secara sempit kepada kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya
dengan kebutuhan-kebutuhan serta kewajibankewajiban yang langsung. Suatu hal
yang penting daripada extension of the self itu ialah proyeksi ke masa depan
yakni merencanakan (planning) dan mengharapkan (hoping).
( 2 ) Self Objectification
Ada dua komponen pokok dalam
hal ini, ialah humor dan insight :
1. Insight
Insight adalah kecakapan
individu untuk mengerti dirinya sendiri.
2. Humor
Humor disini tidak hanya
berarti kecakapan untuk mendapatkan kesenangan dan hal yang menertawakan saja,
melainkan juga kecakapan untuk mempertahankan hubungan positif dengan dirinya
sendiri dan obyek-obyek yang disenangi, serta menyadari adanya ketidakselarasan
dalam hal ini.
( 3 ) Filsafat Hidup
(Weltanschauung, philosophy of life)
Walaupun individu itu harus
dapat obyektif dan bahkan menikmati kejadian-kejadian dalam hidupnya, namun
mestilah ada latar belakang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakannya,
yang memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting
dalam hal ini.

Tidak ada komentar:
Write komentar