1. Pengertian dukungan keluarga
Dukungan keluarga didefinisikan
oleh Gottlieb (1983) dalam Zainudin (2002) yaitu informasi verbal, sasaran,
bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab
dengan subjek didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal
yang dapat memberikan keuntungan emosional atau pengaruh pada tingkah laku
penerimaannya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial,
secara emosional merasa lega diperhatikan,
mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Menurut Sarason (1983) dalam Zainudin (2002). Dukungan keluarga adalah keberatan, kesedihan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita, pandangan yang samajuga dikemukakan oleh Cobb (2002) mendefinisikan dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondinya, dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok.
mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Menurut Sarason (1983) dalam Zainudin (2002). Dukungan keluarga adalah keberatan, kesedihan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita, pandangan yang samajuga dikemukakan oleh Cobb (2002) mendefinisikan dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondinya, dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok.
2.Fungsi Pokok Keluarga
Fungsi keluarga biasanya
didefinisikan sebagai hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga. Adapun
fungsi keluarga tersebut adalah (Fridman,1999 : 24) :
1.Fungsi afektif (fungsi
pemeliharaan kepribadian) : untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling
mengasuh dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung.
2.Fungsi sosialisasi dan
fungsi penempatan sosial : proses perkembangan dan perubahan individu keluarga,
tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar berperan di lingkungan.
3.Fungsi reproduktif :
untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4.Fungsi ekonomis : untuk
memenuhi kebutuhan keluarga,seperti sandang, pangan, dan papan.
5.Fungsi perawatan
kesehatan : untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
3.Tugas Keluarga Dalam Bidang
Kesehatan
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan
kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan
dilakukan. Friedman (1981:12) membagi 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan
yang harus dilakukan, yaitu:
1.Mengenal
masalah kesehatan setiap anggotanya
Perubahan sekecil apapun yang
dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung
jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat
kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya.
2.Mengambil
keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga.
Tugas ini merupakan upaya
keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan
keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan
memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera melakukan tindakan
yang tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika
keluarga mempunyai keterbatasan seyoganya meminta bantuan orang lain
dilingkungan sekitar keluarga.
3.Memberikan
keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya
sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda. Perawatan ini dapat dilakukan
dirumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk
pertolongan pertama atau kepelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan
lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4.Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan
kepribadian anggota keluarga.
5.Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan
(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
4.Bentuk Dukungan Keluarga
a. Dukungan
Emosional (Emosional Support)
Keluarga sebagai sebuah tempat
yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan
terhadap emosi. Meliputi ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap
anggota keluarga yang menderita kusta (misalnya: umpan balik, penegasan)
(Marlyn, 1998).
b.Dukungan
Penghargaan (Apprasial Assistance)
Keluarga bertindak sebagai sebuah
bimbingan umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai
sumber dan validator identitas anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat
(penghargan) positif untuk penderita kusta, persetujuan dengan gagasan atau
perasaan individu dan perbandingan positif penderita kusta dengan penderita
lainnya seperti orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya
(menambah harga diri) (Marlyn, 1998).
c.Dukungan
Materi (Tangibile Assistance)
Keluarga merupakan sebuah sumber
pertolongan praktis dan konkrit, mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk
uang, peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong dengan pekerjaan
waktu mengalami stress (Marlyn, 1998)
d.Dukungan
Informasi (informasi support)
Keluarga berfungsi sebagai sebuah
koletor dan disse minator (penyebar) informasi tentang dunia, mencakup
memberri nasehat, petunjuk-petunjuk, saran atau umpan balik. Bentuk dukungan
keluarga yang diberikan oleh keluarga adalah dorongan semangat, pemberian
nasehat atau mengawasi tentang pola makan sehari-hari dan pengobatan. Dukungan
keluarga juga merupakan perasaan individu yang mendapat perhatian, disenangi,
dihargai dan termasuk bagian dari masyarakat (Utami, 2003).
5.Hubungan dukungan keluarga
dengan harga diri
Dukungan keluarga mempengaruhi
kesehatan dengan melindungi diri penderita kusta terhadap efek negatif dari
stres yang berat. Dukungan keluarga yang baik seseorang dapat mengurangi stres
misalnya dengan menyibukkan diri. Dukungan keluarga yang positif sebanding
dibawah intensitas stres yang tinggi dan rendah, misalnya seseorang dengan
dukungan keluarga tinggi dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi sehingga
tidak mudah terserang stres. Peran keluarga mempunyai pengaruh yang sangat
tinggi dalam harga diri, sebuah keluarga yang memiliki harga diri yang rendah
akan tidak mempunyai kemampuan dalam membangun harga diri anggota keluarganya
dengan baik, keluarga akan memberikan umpan balik yang negatif dan
berulang-ulang akan merusak harga diri bagi penderita, harga dirinya akan
terganggu jika kemampuannya menyelesaikan masalahnya tidak adekuat. Akhirnya
penderita mempunyai pandangan negatif terhadap penyakitnya dan kemampuan
bersosialisasi dengan lingkungannya (Anonimus, 2011).
DAFTAR PUSTAKA
Crandal, R. (1973). The
measurement of self-esteem and related construk, Pp. 80-82 in J.P. Robinson
& P.R. Shaver (Eds), Measures of social psychological attitudes.
Revised edition. Ann Arbor: ISR
Departemen Kesehatan RI. (2007). Buku
Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Penyakit Kusta.
Djuanda A. (2008). Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi kelima, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Emmy S dkk. (2003). Kusta.
Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Friedman. (2002). Buku Ajar
Keperawatan Keluarga Riset, Teori, dan Praktek, Edisi kelima, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Gottlieb, B.H. (1983), Sosial
Support Strategies (Guidelines for Mental Health Practice), Sage
Publications Inc., California.
Mansjoer A dkk. (2000). Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Dua, Penerbit Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Nursalam. (2011). Konsep dan
Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Perry, Potter. (1999). Buku
Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi keempat, Buku Kedokteran EGC.
Salbiah. (2003). Konsep
diri http://duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/konsep-diri.pdf.
Diakses tanggal o4 Januari 2012.
Setiadi. (2008). Konsep dan
Proses Keperawatan Keluarga. Surabaya: Graha Ilmu.
Sriati, A. (2008). Harga Diri
Remaja. Http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/HARGA%20DIRI.pdf.
Di akses tanggal 04 Januari 2012.
Stuart & Sundeen (1995), Principles
and Practice of Psychiatric Nursing 5th Edition, Year Book Mosby
Inc., St. Louis-Missouri.
Sunaryo. (2004). Psikologi
Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Wadyawati (2005). Pengaruh
Dukungan Keluarga Terhadap Perubahan Respon Sosial-Emosional. Skripsi Program
Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
Yanuasti
(2001).DukunganKeluargaNaskahPublikasi: 25 mei 2008. rac.Uii.ac.id (server)
document/public/20080525 ALL.rff.Semarang. Fakultas psikologis Universitas
Katolik Soegi Japranata. Tanggal 15 Desember 2011. Jam 13.45
Sumber:
Tidak ada komentar:
Write komentarAYO BERKOMENTARLAH