0852-5712-4644

CALL/SMS

KLASIFIKASI ALAT- ALAT ASSESMEN PSIKOLOGIS

Posted by   on Pinterest


Tes dalam pengukuran psikologis sangat banyak ragamnya, tergantung dari cara mengategorikan serta serta tujuan yang dimaksud.
Berdasarkan penggunaan waktunya, terdapat dua klasifikasi, yaitu speed test (tes menekankan pada kemampuan mengerjakan dalam batas waktu tertentu), dan powertest (yang menekankan pada kemampuan penyelesain dengan waktu yang tidak terbatas).
Berdasarkan aspek-aspek psikologis yang diukur, klasifikasi tes psikologi menurut HIMPSI (dalam modul penyegaran psikodiagnostik XII,2003) meliputi:
1.      Pengukuran kemampuan kognitif
a.       Pengukuran kemampuan intelegensi yang meliputi (1) tes intelegensi anak, 2) tes intelegensi dewasa, 3) tes intelegensi khusus (bayi, usia prasekolah, anak retardasi mental, orang cacat, lintas budaya).
b.      Pengukuran kemampuan khusus, meliputi: 1) tes bakat, 2) tes prestasi, 3) tes kerja, dan 4) tes klinis
2.      Pengukuran kemampuan non-kognitif/kepribadian
a.       Pengukuran kepribadian, terdiri atas 1) tes kepribadian inventori, dan 2) tes kepribadian bentuk proyektif.
b.      Pengukuran minat
c.       Pengukuran sikap
d.      Pengukuran konsep diri
e.       Tes situasional
3.      Pengukuran kognitif khusus, meliputi: 1) tes bakat, 2) tes prestasi, 3) tes kerja, 4) tes klinis
Beberapa Contoh Tes Kognitif  Secara Umum
1.      Tes intelegensi anak: a) WISC-R (Wechler Intelligence Scale for children-Revised(6-17 tahun) b) WPPSI (Whechker Preschool & Primary Scale of intelligence (4-6,5 tahun)
2.      Tes intelegensi dewasa: a) WB (Wechler Belleveu), b) SBSIS (Stanford Binet Intelegence Scale (12 tahun sampai dewasa), c) WAIS (Wechler Adult Inteligence Scale
3.      Tes Intelegensi populasi khusus: a) GDS (Gessl Developmental Schedules(4 mg -6 tahun),b) VSMS (Vineland Sosial Mature Scale (0 – 25 tagun), c) ABS (Adaptive Behaviour Scale (Mulai usia 3 tahun), d)BSID (Bayley Scales of infant Development  (2 bulan – 2,5 tahun), e) MSCA (McCarthy scales of children’s Abillities (2,5 – 8,5tahun ).
4.      Orang cacat: a) Hiskey Nebraska test of learnig Aptitude(3-16 tahun) untuk tunarungu, b) The interim Hayes-Binet untuk Tunanetra,c)Progressive Matrices,Picture Vocabolery tes untuk cacat orthopedic.
5.      Tes intelegensi Lintas budaya:a) the Progressive Matrices (5 – 11 tahun) b) CFIT (The Cultural Fair Intelegence Test (4 – 8 tahun, 8 – 13 tahun, 10 – 16 tahun).
Pengukuran Non-Kognitif/Kepribadian
Metode proyektif: Tes Rorschach, The Thematic Apperseption Test (TAT), Children Apperception Test (CAT.)
Pengukuraan Mintan, Sikap, Situsional Dan Konsep Diri
1.      Macam-macam tes minat: a) Minnesota Vocation Interest Inventory (MVII), b) Tes kuder
2.      Pengukuran sikap: Skala Likert, Skala Guttman, Skala Thurstone, dan Skala bugardus
3.      Pengukuran Situsional: Stress test, Role Playing, The Leadership Group, FGD (Focus Group Discussion)
4.      Pengukuran konsep diri: The Adjective Checklist, The Semantic Differetial
5.      Tes untuk ingatan: Weshlesr Memory Scale, Visual Reproduction, Asdociate Learnig).
6.      Kemampuan Verbal/Bahasa:Aphasia Screening Test
Aplikasi/praktek testpsikologi akan dilakukan pada matakuliah tes psikologi oleh Psikolog Rinanda Wardani
Dari contoh di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tes psikologi pada hakekatnya adalah suatu alat bantu dalam pengambilan keputusan, karena itu, hasil tes psikologi hanyalah salah satu masukan dari sekian banyak masukan lain mengenai diri seorang. Dengan adanya informasi dari tes, pengambilan keputusan, baik orang itu sendiri, atau orang lain mempunyai tambahan informasi yang berguna, sehingga putusan yang diambilnya menjadi lebih tepat.
Masih banyak lagi sumber informasi lain yang kita punyai tentang orang yang bersangkutan, baik dari hasil observasi, wawancara, hasil interaksi dan pergaulan kita dengan yang bersangkutan, dan bahkan juga issu – issu atau gosip. Penekan disisini adalah menimbang – nimbang secara cermat semua informasi yang dimiliki, termasuk informasi yang berasal dari tes psikologi.
Tetap terbuka kemungkinan, bahwa informasi dari sumber yang bukan tes psikolgi dapat saja mengandung ketepatan yang lebih tinggi, namun diabaikan karena dianggap kurang ilmiah. Karena itu hasil tes psikologi harus digunakan bersama – sama sumber informasi lainnya sehingga didapatkan putusan yang dapat membantu individu yang bersangkutan. Dalam pengertian ini pula hasil tes psikologi tidak seyogyanya dijadikan sebagai  reference point untuk memberi label bagi individu yang bersangkutan, yang dapat menimbulkan self fulfilling propehecy (jangan sampai orang melambung terlalu tinggi) atau pygmalion effect (menjadi kerdil) yang merugikan individu yang bersangkutan, yang hanya akan dapat timbul apabila hasil tes tidak digunakan secara kritis.

 SUMBER :

Apolo. 2009. Assesment Psikologi Teknik Tes. (Diktat). Madiun: Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala

Lama Witak

About Lama Witak

Peace and Love

Tidak ada komentar:
Write komentar

AYO BERKOMENTARLAH

Join Our Newsletter