Tes dalam pengukuran psikologis sangat banyak ragamnya,
tergantung dari cara mengategorikan serta serta tujuan yang dimaksud.
Berdasarkan
penggunaan waktunya, terdapat dua klasifikasi, yaitu speed test (tes menekankan pada kemampuan mengerjakan dalam batas
waktu tertentu), dan powertest (yang
menekankan pada kemampuan penyelesain dengan waktu yang tidak terbatas).
Berdasarkan
aspek-aspek psikologis yang diukur, klasifikasi tes psikologi menurut HIMPSI
(dalam modul penyegaran psikodiagnostik XII,2003) meliputi:
1.
Pengukuran kemampuan kognitif
a.
Pengukuran kemampuan intelegensi yang meliputi
(1) tes intelegensi anak, 2) tes intelegensi dewasa, 3) tes intelegensi khusus
(bayi, usia prasekolah, anak retardasi mental, orang cacat, lintas budaya).
b.
Pengukuran kemampuan khusus, meliputi: 1) tes
bakat, 2) tes prestasi, 3) tes kerja, dan 4) tes klinis
2.
Pengukuran kemampuan non-kognitif/kepribadian
a.
Pengukuran kepribadian, terdiri atas 1) tes
kepribadian inventori, dan 2) tes kepribadian bentuk proyektif.
b.
Pengukuran minat
c.
Pengukuran sikap
d.
Pengukuran konsep diri
e.
Tes situasional
3.
Pengukuran kognitif khusus, meliputi: 1) tes
bakat, 2) tes prestasi, 3) tes kerja, 4) tes klinis
Beberapa Contoh Tes Kognitif Secara Umum
1.
Tes intelegensi anak: a) WISC-R (Wechler Intelligence Scale for children-Revised(6-17 tahun) b)
WPPSI (Whechker Preschool & Primary
Scale of intelligence (4-6,5 tahun)
2.
Tes intelegensi dewasa: a) WB (Wechler
Belleveu), b) SBSIS (Stanford Binet
Intelegence Scale (12 tahun sampai
dewasa), c) WAIS (Wechler Adult
Inteligence Scale
3.
Tes Intelegensi populasi khusus: a) GDS (Gessl Developmental Schedules(4 mg -6 tahun),b)
VSMS (Vineland Sosial Mature Scale (0 –
25 tagun), c) ABS (Adaptive Behaviour
Scale (Mulai usia 3 tahun), d)BSID (Bayley
Scales of infant Development (2 bulan –
2,5 tahun), e) MSCA (McCarthy scales
of children’s Abillities (2,5 – 8,5tahun ).
4.
Orang cacat: a) Hiskey Nebraska test of learnig Aptitude(3-16 tahun) untuk tunarungu,
b) The interim Hayes-Binet untuk Tunanetra,c)Progressive Matrices,Picture
Vocabolery tes untuk cacat orthopedic.
5.
Tes intelegensi Lintas budaya:a) the Progressive Matrices (5 – 11 tahun) b) CFIT
(The Cultural Fair Intelegence Test (4 –
8 tahun, 8 – 13 tahun, 10 – 16 tahun).
Pengukuran Non-Kognitif/Kepribadian
Metode proyektif: Tes Rorschach, The Thematic Apperseption
Test (TAT), Children Apperception Test (CAT.)
Pengukuraan Mintan, Sikap, Situsional Dan Konsep Diri
1.
Macam-macam tes minat: a) Minnesota Vocation Interest Inventory (MVII), b) Tes kuder
2.
Pengukuran sikap: Skala Likert, Skala Guttman, Skala
Thurstone, dan Skala bugardus
3.
Pengukuran Situsional: Stress test, Role Playing, The Leadership Group, FGD (Focus Group
Discussion)
4.
Pengukuran konsep diri: The Adjective Checklist, The Semantic Differetial
5.
Tes untuk ingatan: Weshlesr Memory Scale, Visual Reproduction, Asdociate Learnig).
6.
Kemampuan Verbal/Bahasa:Aphasia Screening Test
Aplikasi/praktek testpsikologi akan dilakukan pada
matakuliah tes psikologi oleh Psikolog Rinanda Wardani
Dari
contoh di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tes psikologi pada hakekatnya adalah suatu alat bantu dalam
pengambilan keputusan, karena itu, hasil tes psikologi hanyalah salah satu
masukan dari sekian banyak masukan lain mengenai diri seorang. Dengan adanya
informasi dari tes, pengambilan keputusan, baik orang itu sendiri, atau orang
lain mempunyai tambahan informasi yang berguna, sehingga putusan yang
diambilnya menjadi lebih tepat.
Masih banyak lagi sumber informasi lain yang kita punyai
tentang orang yang bersangkutan, baik dari hasil observasi, wawancara, hasil
interaksi dan pergaulan kita dengan yang bersangkutan, dan bahkan juga issu –
issu atau gosip. Penekan disisini adalah menimbang – nimbang secara cermat semua
informasi yang dimiliki, termasuk informasi yang berasal dari tes psikologi.
Tetap terbuka kemungkinan, bahwa informasi dari sumber yang
bukan tes psikolgi dapat saja mengandung ketepatan yang lebih tinggi, namun
diabaikan karena dianggap kurang ilmiah. Karena itu hasil tes psikologi harus
digunakan bersama – sama sumber informasi lainnya sehingga didapatkan putusan
yang dapat membantu individu yang bersangkutan. Dalam pengertian ini pula hasil
tes psikologi tidak seyogyanya dijadikan sebagai reference point untuk memberi label bagi
individu yang bersangkutan, yang dapat menimbulkan self fulfilling propehecy (jangan
sampai orang melambung terlalu tinggi) atau pygmalion
effect (menjadi kerdil) yang merugikan individu yang bersangkutan, yang
hanya akan dapat timbul apabila hasil tes tidak digunakan secara kritis.
SUMBER
:
Apolo. 2009. Assesment Psikologi Teknik Tes. (Diktat).
Madiun: Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala

Tidak ada komentar:
Write komentarAYO BERKOMENTARLAH