0852-5712-4644

CALL/SMS

Praktek konseling keluarga,Sistematika konseling keluarga, serta Praktek konseling keluarga.

Posted by   on Pinterest

Bab I
Pendahuluan

A.                Latar belakang.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Komunikasi keluarga adalah: kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan. (Friendly, 2002).
Masalah Komunikasi menjadi masalah fundamental yang menentukan kebahagiaan keluarga. Kesenjangan komunikasi sering memicu timbulnya permasalahan lain yang lebih kompleks.
Oleh karena itu jika dalam suatu  keluarga sudah mempunyai permasalahan yang dimana proses  komunikasi tidak bisa meyelesaikan permasalahan maka, diperlukan suatu penanganan yang khusus salah satunya adalah dengan dialog konseling keluarga.

B.                 Pembatasan masalah

Dalam makalah yang akan dibahas adalah tentang bagaimana dialog k konselingkeluarga yang didalamnya mencakup, Praktek konseling keluarga, Sistematika konseling keluarga dan bagaimana Memulai konseling keluarga.

C.                Rumusan masalah

Dalam makalah ini akan dibahas :

1.                  Bagaimana Praktek konseling keluarga
2.        Bagaimana Sistematika konseling keluarga, serta
3.                       Bagaimana Memulai konseling keluarga


Bab II
Pembahasan

A.                Praktek konseling keluarga

Letak perbedaannya
1.                  tujuan konseling: tiap – tiap konseling mempunyai tujuan masing – masing secara spesifik . tujuan yang dimaksud adalah tujuan individu – individu yang terlibat didalam proses konseling. Misalnya si A yang  bermasalah dengan penyesuain diri di tempat kerja, baik dengan rekan maupun atasannya,mendatangi konselor, jelas sekali bahwa ia bertujuan agar mendapat bantuan pribadi yang sedang bermasalah,sehingga ia dapat menyesuaikan diri di tempat kerja sehingga ia merasa puas dan bahagia hidup bahagia hidup bersama dengan lingkungan sosial tempatnya bekerja. Jika bantuan telah diberikan oleh konselor, dan tujuan si A secara pribadi tercapai, maka kualitas kerjanya di tempat kerja akan meningkat dengan signifikan.
Akan tetapi tujuan konseling keluarga tidak sama dengan tujuan konseling individual di atas .
 tujuan konseling keluarga adalah:
a.                   memperlancar komunikasi diantara  sesama anggota keluarga
b.                  membantu anggota keluarga yang mengalami masalah,akan dapat diselesaikan melalui diskusi diantara anggota keluarga atas bantuan konselor, memelihara keutuhan keluarga.
c.                   Membuat keluarga lebih produktif karena setiap diri individu anggota keluarga seperti kreativitas, motivasi tinggi,dan semangat kerja yang tinggi

2.                       Konseling keluarga penuh dengan muatan emosional, karena hubungan diantara keluarga memang terikat hubungan emosional, yang kental suami – istri, ibu – anak, nenek – cucu, ayah – anak, dan diantara anak dalam keluarga tersebut. Karena itu diantara anggota keluarga seperti keaadaan yang sedih, marah, senang, penuh dengan kecurigaan, dan sebagainya.dalam proses konseling seorang konselor harus bisa beradaptasi dengan suasana emosional keluarga sehingga proses konseling keluarga berjalan lancar mencapai tujuan.
3.                       Memanfaatkan konseling individual untuk menyukseskan tercapainya tujuan konseling keluarga. hal ini bisa terjadi ketika seorang anggota  keluarga bermasalah yang mengakibatkan semua anggota keluarga terganggu, maka hal ini akan menular terhadap semua anggota keluargaa. Misalnya seorang remaja SMA terlibat narkoba sehingga berhubungan dengan polisi. Ketika ditangkap polisi saat pesta narkoba, remaja tersebut tidak bisa berkutik karena polisi menapkap semua beserta barang buktinya. Lalu polisi menelpon orang tua si remaja bahwa anaknya dikurung di kantor polisi kearena terlibat nakoba. Betapa terkejutnya orang tua dan seisi rumah menjadi gonjang. Sebabnya si remaja tersebut merupakn anak yang baik dan jarang bermasaah dirumah. Keluarga menjadi gonjang, pekerjaan ayah menjadi terganggu, ibu menangis, adik – adiknya sedih. Dan yang merepotkan si ibu harus bolak – balik ke kantor polisi untuk mengurus surat – surat yang diperlukan.
Jika si remaja tadi sudah pulang kerumah sehabis masa tahanan, maka orang tua akan berinisiatif untuk dua hal;
              Pertama, Meminta kepada konselor untuk agar anaknya diberi knseling individual beberapa kali sampai dia dapat dapat menerima dirinya, keluarganya, dan menerima realistik tanpa kecewa dan sedih lagi. Jika demikian maka keluarga harus menerimanya dengan senang hati, dan mendorongnya supaya mau bersekolah kembali. Jadi konseling individual pada khususnya di atas amat penting diberikan kepada si remaja supaya dengan mudah dia memasuki keluarga dengan hati iklas. Barulah selanjutnya diberikan konseling keluarga oleh konselor dengan tujuan :
a.                        Keluarga dapat menerima dengan iklhas remaj mantan pengguna narkkoba itu. Artinya setiap anggota keluarga harus menjaga sikap agar tidak mengejek, mengolok – ngolok, dan memarahi. Akan tetapi dikembangkan sikap empati, memahami si remaja mantan pengguna narkoba, berdialog dengan baik terutama ibu  agar dia kembali tegar dan menerima keaadaan, biarlah yang sudah lewat berlalu seperti angin.
b.                       Di dalam konseling keluarga yang di laksakan oleh konselor, upayakan agar si remaja berbicara tentang dirinya seperti terucapnyakata maaf  yang mendalam kepada ibu – bapak dan saudaranya. selanjutnya diusahakan oleh konselor agar para anggota keluarga tumbuh sifat kasih sayang dan dorongan untuk memajukan si remaja tersebut. Kadang – kadang si remaj akan menangis meminta maaf  pada  ibu – bapaknya, dan demikian pula semua anggpta keluarga akan bertangisan karena amat terharu.

B.         Sistematika konseling keluarga

       Sistematik konseling keluarga yang sering dilaksanakan oleh para konselor, amat penting diketahui oleh semua mahasiswa. Karena tanpa konseling yang sistematik dan tersetruktur,  maka tujuan konseling tidak akan tercapai. Sistematika konseling keluarga adalah sebagai berikut;
1.                       Panggilan terhadap anggota keluarga untuk mengikuti konseling
Pada awalnya salah satu anggota terutama kedua anggota keluarga menemui konselor keluarga untuk meminta pertemuan di kantor konselor yang dihadiri oleh semua anggota keluarga. Permintaan tersebut dikabulkan oleh konselor dan menentukan waktu dan tempat pertemuan. Selanjutnya konselor meminta kepada orang tua penjelasan masalah ayng akan dibantu, orang tua mengatakan mengenai masalah anaknya Si A yang duduk dikelas II. Yaitu dia sering bolos sekolah, merokok, malas belajar, suka keluyuran dengan teman – teman yang tidak bersekolah. Suka memita uang lebih banyak dari biasanya, dan sering berbohong.
              Setelah jelas masalanya, kemudian konselor bertanya kepada orang tuanya apa pengaruh kelakuaan anak itu terhadap suasana keluarga. Dengan jelas orang tua mengatakan bahwa pengaruh amat buruk terhadap adik – adiknya yaitu ikut – ikutan malas sekolah.saudarahnya yang lebih tua sekarang suka emosioanal melihat kelakuan adik – adiknya. Selanjutnya ibunya kurang sehat melihat kelakuan anak – anaknya. Lalu bapaknya mengatakan dia kurang dapat mengontrol anak – anak karena amat sibuk dengan pekerjaanya.
Setelah penjelasan orang tua Si A, maka konselor memutuskan untuk memberikan konseling individual kepada Si A  ke kantor konselor pada hari yang ditentukan
2.                       Melaksakan konseling individual kepada Si A
Setelah Si A telah dihadirkan di ruang konseling maka konseling individual di mulai. Hal – hal yang akan diungkapkan oleh konselor dari Si A adalah:
a.                       Keadaa emosi klien
              Yaitu mengungkapkan ekspresi – ekspresi emosional seperti perasaan tertekan, marah, tidak diperhatikan oleh orang tua dann guru, bahkan Si A sering mendapat ejekan jika prestasinya kurang memuaskan atau membandingkan prestasinya dengan adiknya. Gurupun suka memarahinya didepan kelasketika Si A sedang tidak sanggup mengerjakan soal . hal itu membuatnya malu, marah, sakit hati, dan dendam.
b.                       Konselor mengungkap pengalaman – pengalaman dengan dunia luar (keluarga, guru, teman). Misalnya konselor menanyakan “apakah yang dilakukan Si A jika dia meras maluh marah dan terhina.” Terhadap  ini Si A mengatakan bahwa dia malas belajar dan bekerja. Makanya Si A membolos pada jam pelajaran atauj tidak masuk sekolah. Selanjutnya Si A mengatakan bahwa dia suka keluyuran, bermain, merokok bersama teman- teman yang tidak sekolah. Kadang kala dia meminum MIRRAS.
c.                       Mengungkapkan pemikiran Si A berdasarkan emosi dan  pengalamannya. Konselor selanjutnya akan mengungkapkan pemikiran dan ide – ide Si A bagaimana dia bisa mengatasi maslahnya, apa kemungkinan – kemungkinan yang akan diupayakan, bagaimana kaitan masalahnya dengan orang – orang diluar dirinyaterutama orang tua,guru, saudarah, dan teman sekolah. Khususnya mengenai hubungan denga keluarga, Si A akan memberikan suatu rencana. Jika rencana itu baik, maka berarti konseling individual sudah dapat diselesaikan. Berarti Si A mau dilibatkan untuk berdikusi dengan keluarga dengan pimpinan konselor keluarga. Jadi konseling keluarga sudah dapat dimulai.
3.                       Melaksanakan konseling keluarga
              Sebelum melaksakan konseling keluarga, konselor keluarga harus menyiapkan semua anggota keluarga agar dapat berkumpul diruang konseling dikantor konselor.
a.                       Pertama, tempat duduk yang nyaman, ruangan yang nyaman suasana dalam ruangan yang menarik misalnya: kebersihan, keindahan, dan kedap suara.
b.                       Kedua, harus diatur agar Si A harus duduk dekat dengan konselor.keadaan tempat duduk melingkar , dan konselor berada diantara anggota keluarga. Tujuan Si A duduk dekat konselor agar timbul rasa aman baginya karena suasana anggota keluarga mungkin masih jengkel, marah, dan kesal terhadap Si A yang disebabkan kelakuannya selama ini.padahal setelah mengikuti konseling individu, terjadi perubahan positif  pada dirinya untuk melibatkan kembali dirinya dalam keluarga. Dan yang paling penting antara konselor dan Si A telah terjadi hubunga yang bersahabat.
c.                       Ketiga,  setelah persiapan proses konseling, maka konselor harus mempersiapan mental para anggota keluarga dengan pengertian bahwa mereka datang untuk mencari suatu solusi keluarga atas berbagai masalah. Karena konselor meminta agar bersedia berbicara jujur, santunn dan saling percaya terhadap sesama.

C.                     Memulai konseling keluarga

              Jika konseling keluarga akan dimulai yang harus diingat oleh konselor adalah,
a.                       pertama, kepada semua anggota keluarga agar semua mengekspresikan semua perasaannya, pengalamannya, dan jalan pemikirin atau jalan keluar terbaik agar terbentuk keluarga sakinah, damai dan ceria, sehingga semua anggota keluarga jadi bermotivasi, kreatif, dan produktif.
b.                       Kedua, barulah konselor mulai mengjukan pertanyaan kepada individu anggota keluarga tersebut.
                        Dalam mengajukan pertanyaan harus dipilih orang yang paling banyak memiliki perasaan terteken selain Si A, yaitu ayah dan ibu. Dalam hal ini menurut dugaan konselor dan melihat kenyataan saatbetemu, maka pertanyaan pertama yang diajukan kepda ibu, misalnya “apa perasaan ibu saat ini ? ” pertanyaan yang begitu luas ini dengan sengaja diajukan agar ibu mengekspresikan semua perasaannya dengan konselor akan dengan mudah memilah perasaan tersebut, lalu menvari inti masalanya. Pertanyaan yang hampir sama juga diajukan untuk ayah. Jika dari orang tua itu sudah ditemukan masalah spesifik terutama yang mengaitkan dengan Si A, maka fokus tersebutdiperluas dengan mendengarkan suara kaka perempuan Si A yang sudah mahasiswa. Selanjutnya barulah pertanyaan diajukan kepada klien.
Untuk lebih jelas, lihat skema alur pertanyaan konselor di bawah ini :

                   Setelah sesmua anggota keluarga diminta tanggapan mengenai perasaan  secara umum, pasti ada yang mengara pada Si A dan Si A juaga di minta mengungkapkan perasaannya,pasti ada juga yang mengarah pada anggota keluarga lainnya, entah ayah, ibu, juga mungkin juga saudarah.
                        Selanjutnya kegiatan konseling yang dilakukan oleh konselor adalah mengembang isu yang diungkap oleh Si A dan anggota keluarga lainnya. Untuk lebih jelasnya akan kita ikuti dialog konseling keluarga berikut ini dengan catatan dialog tersebut adalah rekayaksa penulis namun tetap mengambil pengalam praktek.
Narasi
                        Kasus siswa malas belajar dan suka membolos serta berkelaran pada jam sekolah bersama teman – teman yang tidak lagi bersekolah. Katakanlah anak tersebut bernama Ali duduk di kelas II SMA. Kelakuan Ali mulai menular kepada adik – adiknya. Hal ini membuat ayah – ibu mereka menjadi tegang dan mengganggu tugas mereka.  Karena itu kedua orang tua melaporkan kejadia perilaku Ali kepada konselor keluarga, dan meminta bantua penyelesaian.hal ini disanggupi konselor keluarga.
                        Dalam memmbantu pemecahan kasus ini konselor menetapkan dua cara yaitu:
1.                       Memberikan bantuan individual kepada Ali.
2.                       Melakukan konseling keluarga kepada semuaanggota keluarga termasuk Ali
Berikut adalah dialog konseling individual terhdap Ali
Konselor = ”ko” dan Ali = “A”
Ko
:
Selamat pagi Ali apa kabar.?
A
:
Baik pa terimakasih
Ko
:
Pagi ini rasanya amat baik untu kita berdua untuk dapat berbincang – berbincang. Tentunya perbincangan seputar diri dan keluarga anda. Apakah anda sependapat dengan saya.?
A
:
Ya pak.
Ko
:
Dapat anda mengungkapkan perasaan anda saat ini kepada saya.?
A
:
(diam. Seolah menahan tekan batin yang berat. Wajahnya murung, pendangannya mengarah kebawah, kedua tangan diremas)
Ko
:
Saya memahami perasaan anda.keadaan andatidak menenti, menahan suatu perasaan yang menekan yang membuat anda kebingungan. Dapat anda menceritakan perasaan yang anda rasakan saat ini.?
A
:
Baikalah pak. (matanya berkaca – kaca ). Saya saat ini terancam akan dikeluarkan dari sekolah karena dinggap sering membolos, tidak masuk, dan yang paling menyedikan saya adalah prestasi saya yang menurun, semuanya membuat saya tertekan. Hal ini disebabkan semuanya membeci saya, orangtua, guru, dan saudarh
Ko
:
Saya dapat memahamiperasan anda. Dan saya turut prihatin dengan peristiwa yang menimpamu. Seberapah jauh perasaan tertekan karena anggapan anda semua orang membenci
A
:
Saya rasa semua keluarga memusuhi saya . demikian juga guru. Selanjutnya saya amat benci kepada diri sendiri. Saat – saat seperti ini, rasanya tak ada saudarah, teman, tempat saya mencurakan perasaan dan isi hati. Saya mau kabur saja dari rumah
Ko
:
Saya dapat memahami perasaan kamu.ada beberapa hal yang saya catat dari ungkapan perasaanmu,yaitu merasa semua keluarga memusuhi kamu, kedua, kamu membenci kepada diri sendri ,ketiga, kamu perlu teman untuk mencurakan perasaan, keempat, hidup terasa sempit, kelima, ingin kabur saja dari rumah. Mari kita ungkap satu persatu perasaan kamu tersebut . bagaimana pendapatmu.
A
:
Hmh,.saya sependapat dengan  bapak.
Ko
:
Kalau begitu saya dapat menguraikan satu persatu masalah anda.?
A
:
Saya saya setuju
                        Tampaknya dialog ini tidak akan dilanjutkan, akan tetapi silakan mahasiswa yang melanjutkan dengan kreatifitas sendiri, karena semua ini rekaya.
                        Contoh konseling individual untuk memberikan bantuan terhadap A, dapat dilanjutkan dengan konseling keluarga lainnya yaitu, ayah, ibu, dan dua saudaranya.
                        Hal ini telah dikemukan pada skema alur pertanyaan konselor terhadap anggota keluarga, yang tercantum dihalaman sebelumnya.
              Berikut ini  dialog rekaya konseling keluarga.
Ko
:
Baik , bapak, ibu, serta adik – adik. Selamat pagi dan selamat datang di tempat ini.
Kel
:
Terimakasih
Ko
:
Sebagai awal dari pembicaraan kita, saya akan mengajukan pertanyaan kepada ibu. Dapatkah ibu mengungkapkan perasaan ibu saat ini?
Ibu
:
Saya merasa prihatin dan sedihmengingat keadaan sekolah anak saya A yang akhir – akhir ini menunjukan kesulitan. Dan hasilnya buruk.hal ini disebabkan dia sering meninggalkan bangku sekolah karena berhura – hura dengan teman diluar sekoalh yang tidak bersekolah lagi.
Ayah
:
Saya sependapat dengan ibu, bahkan saya sangat khawatir, kepalah sekolah akan men DO dia jika dalam minggu ini tidak juga masuk sekolah.
Ko
:
Terimah kasih. Sesunggunya keadaan ini cukup memperihatinkan juga.. barangkali saya sebagai konselor keluarga ingin sekali mendengar dari A sendiri apa sebenarnya ia rasakan dan pikirkan saat ini. A bisakah kamu mengemukankan perasaanmu terhadap peristiwa yang kamu alami.?
A
:
(diam, agak ragu menunduk) hmm... saya tidak tahu..
Ayah
:
(Agak emosi), masa kamu tidak tahu, kan kamu yang punya diri dan punya kesalahan, anak sekolah macam apa kamu.?
Ibu
:
Sabar pak. Biar dia berpikir dulu. Beri di kesempatan unutk merenungkan dirinya
Ko
:
Benar pak,tolong beri dia kesempatan untuk berfikir.
A
:
Sebenarnya saya sedih dengan keadaan rumah. Semua orang mencurigai saya. Tidak ada tempat sayauntuk curhat, berbagi perasaan.
Ko
:
Sebenarnya perasaan apa yang membuatmu kesulitan dalam menyesuaikan diri di keluarga, pada hal mereka adalah keluargamu, bisa menjelaskannya kepada saya.
A
:
(diam)
Ko
:
(diam)
Kel
:
(diam)
Beberapah saat kemudian ternyata A berbicara kepada KO
A
:
Pak KO. Maaf saya dimusuhu keluarga. Setiap saya pulang kerumah tidak ada orang yang  menyapa saya, semuanya diam dan tampaknya mereka membenci saya. Bahkan adik saya  yang saya sayangi ikut – ikutan demikian. Rupanya dia sudah terhasut. Dan kakak saya adalah orang yang sibuk. Jarang ketemu saya. Dia tidak ada komentar karena dia kecapean
Mendengar ungkapan perasaan A, semua terdiam, termasuk konselor. Mengapa demikian.? Karena ungkapan A telah mengenai keadaan keluarga yang tidak toleran, terutama ayah dan ibu yang tidak dapat memberi nasihat. Selanjutnya konselor berbicara dan memecakan kesunyian
Ko
:
Dapat anada mengemukan dan menjelasakan rasa kebencian yang anda ungkapkan.?
A
:
Mereka tidak suka kepada saya. Bahkan tampak seakan memusuhi saya
Ko
:
Dengan perasaan tersebut apa yang anda lakukan
A
:
Kebanyakan saya menjauh dari keluarga
Ko
:
Apa yang anda maksudkan dengan menjauh dari keluarga.?
A
:
Saya ikut aktif bersama kawan kawan dari luar sekolah. Mereka tidak bersekolah lagi, mereka preman jalanan. Hidup mereka sama dengan saya, menjauh dari keluarga
Ko
:
Apa saja yang anda lakukan bersama mereka.?
A
:
Minum, merokok, bahkan menghisap ganja
Ko
:
Ada apa geranga kamu mau ikut konseling keluarga, walau hal itu saya yang mengajak.?
A
:
Saya ingin berubah setelah mendengar naseha bapak KO
Ibu
:
Alhamdullillah..
Ayah
:
Apa saya tidak salah dengar nih.
Ko
:
Tidak pak A sungguh – sungguh.


Marih kita dukung, saya harapkan semua keluarga mendukung perubahan  yang akan terjadi pada diri A.
Kel
:
Baik pa KO
Ko
:
A, perubahan macam apa yang akan terjdi dan yang engkau inginkan.?
A
:
(diam, berpikir sebentar), lalu berbicara, “perubahan yang membawa saya seperti yang dulu”
Ko
:
Maksudnya.?
A
:
Saya ingin rajin belajar, yang patuh kepada orang tua, dan taat beribadah.
Ayah
:
Alhamdullillah..
Ko
:
Bagaimana kamu bisa mencapai hal seperti itu,?
A
:
Pertama, saya menjauhi teman – teman preman,kedua menjauhi alkohol dan NABZA, ketiga, saya akan kembali sekolah. Keempat, saya akan rajin beribadah. Dan saya akan meminta maaf kepada orang tua dan guru.
Ko
:
Maukah sekarang kamu meminta maaf langsung kepada orang ayah dan ibu.?
A
:
(menoleh kepada ayah dan ibunya ), ibu, bapak maafkan saya atas semua kesalahan  saya
Kel
:
Seluruh anggota keluarga menjadi terharu melihat kejadian tersebut sambil mengucapakan syukur.
Ko
:
Bagaiman komentar ayah atas peristiwa yang baru anda saksikan
Ayah
:
Saya sangat bahagia saat ini menyaksikan A memperlihatkan jiwa satrianya. Ternyata dia dapat mengakui semua kesalahannya. Dan yang paling saya hargai adalah tekatnya untuk memutuskan hubungannya dengan teman – teman premanya diluar sana, serta bertekad kembali bersekolah. Terimah kasi A ayah sangat memaafkan atas kesalahanmu yang telah lalu.
Ko
:
Kalau begitu apakah sudah cukup sampai disini pertemuan kita.?
Kel
:
Ya, kami kira cukup.
Ko
:
Kalau begitu pertemuan kita tutup dan terima kasih.
Komentar
                        Konseling keluaraga yang baru saja terjadi merupakan bahwa syarat utama lancarnya konseling adalah :
1.                       Kualitas konselor dalam menguasai ilmu konseling dan ilmu – ilmu pendukung lainnya.
2.                       Menguasai ketrampilan konseling.
3.                       Memiliki kepribadian konselor yang empati, memahami, menerima klien apa apadanya, ketrampilan bermain kata, dan mampu memotivasi klien agar berbicara bila diminta konselor.
                        Disamping itu tak kalah penting adalah keinginan keluarga untuk berpartisipasi dalam kegiatan konseling dengan penuh motivasi. Khusus sebagai kasus dalam keluarga ini, telah memberikan adanya motivasi bahwa dia ingin menyelesaikan masalahnya dikeluarga dan dapat menjadi anggota keluarga yang baik.

Bab III
Kesimpulan
             
Konseling keluarga (familly counseling) sangat berbeda dengan praktek konseling lainnya. Letak perbedaannya antara lain, dari tujuannya: memperlancar komunikasi diantara  sesama anggota keluarga, membantu anggota keluarga yang mengalami masalah,akan dapat diselesaikan melalui diskusi diantara anggota keluarga atas bantuan konselor, memelihara keutuhan keluarga, Membuat keluarga lebih produktif karena setiap diri individu anggota keluarga seperti kreativitas, motivasi tinggi,dan semangat kerja yang tinggi.
            Konseling keluarga penuh dengan muatan emosional, karena hubungsn anggota keluarga yang memang terikat emosional. Dalam konseling keluarga bisa Memanfaatkan konseling individu untuk menyukseskan tercapainya konseling keluarga.
Untuk bisa menyelesaikan suatu masalah keluarga dalam konseling keluarga, selain keterampilan dan profesionalisme konselor, juga dibutukan keinginan keluarga untuk berpatisipasi dalam kegiatan konseling keluarga dengan penuh motivasi. Sehingga salah satu keluarga yag terkena kasus atau masalah dengan adanya motivasi dan dukungan dari anggota keluarga lain maslah – masalah salah satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain bisa terselesaikan.

Daftar pustaka

Profesor.Dr.h.Sofyan S. Willis, September 2009, Konseling Keluarga Alfabeta bandung.

Lama Witak

About Lama Witak

Peace and Love

Tidak ada komentar:
Write komentar
Join Our Newsletter