Pendahuluan
A.
Latar
belakang.
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut
Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua
pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Komunikasi
keluarga adalah:
kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang
menyenangkan maupun yang tidak, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam
keluarga dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan. (Friendly, 2002).
Masalah Komunikasi menjadi masalah fundamental yang menentukan
kebahagiaan keluarga. Kesenjangan komunikasi sering memicu timbulnya
permasalahan lain yang lebih kompleks.
Oleh karena itu
jika dalam suatu keluarga sudah
mempunyai permasalahan yang dimana proses
komunikasi tidak bisa meyelesaikan permasalahan maka, diperlukan suatu
penanganan yang khusus salah satunya adalah dengan dialog konseling keluarga.
B.
Pembatasan masalah
Dalam makalah yang akan dibahas adalah
tentang bagaimana dialog k konselingkeluarga yang didalamnya mencakup, Praktek
konseling keluarga, Sistematika konseling keluarga dan bagaimana Memulai
konseling keluarga.
C.
Rumusan
masalah
Dalam makalah ini akan dibahas :
1.
Bagaimana Praktek konseling keluarga
2.
Bagaimana Sistematika konseling keluarga, serta
3.
Bagaimana Memulai konseling keluarga
Bab II
Pembahasan
A.
Praktek
konseling keluarga
Letak perbedaannya
1.
tujuan konseling: tiap – tiap konseling
mempunyai tujuan masing – masing secara spesifik . tujuan yang dimaksud adalah tujuan
individu – individu yang terlibat didalam proses konseling. Misalnya si A
yang bermasalah dengan penyesuain diri
di tempat kerja, baik dengan rekan maupun atasannya,mendatangi konselor, jelas
sekali bahwa ia bertujuan agar mendapat bantuan pribadi yang sedang
bermasalah,sehingga ia dapat menyesuaikan diri di tempat kerja sehingga ia
merasa puas dan bahagia hidup bahagia hidup bersama dengan lingkungan sosial
tempatnya bekerja. Jika bantuan telah diberikan oleh konselor, dan tujuan si A
secara pribadi tercapai, maka kualitas kerjanya di tempat kerja akan meningkat
dengan signifikan.
Akan tetapi tujuan konseling keluarga tidak sama dengan
tujuan konseling individual di atas .
tujuan konseling keluarga adalah:
a.
memperlancar komunikasi diantara sesama anggota keluarga
b.
membantu anggota keluarga yang mengalami
masalah,akan dapat diselesaikan melalui diskusi diantara anggota keluarga atas
bantuan konselor, memelihara keutuhan keluarga.
c.
Membuat keluarga lebih produktif karena setiap diri
individu anggota keluarga seperti kreativitas, motivasi tinggi,dan semangat
kerja yang tinggi
2.
Konseling keluarga penuh dengan muatan
emosional, karena hubungan diantara keluarga memang terikat hubungan emosional,
yang kental suami – istri, ibu – anak, nenek – cucu, ayah – anak, dan diantara
anak dalam keluarga tersebut. Karena itu diantara anggota keluarga seperti
keaadaan yang sedih, marah, senang, penuh dengan kecurigaan, dan
sebagainya.dalam proses konseling seorang konselor harus bisa beradaptasi
dengan suasana emosional keluarga sehingga proses konseling keluarga berjalan
lancar mencapai tujuan.
3.
Memanfaatkan konseling individual untuk
menyukseskan tercapainya tujuan konseling keluarga. hal ini bisa terjadi ketika
seorang anggota keluarga bermasalah yang
mengakibatkan semua anggota keluarga terganggu, maka hal ini akan menular
terhadap semua anggota keluargaa. Misalnya seorang remaja SMA terlibat narkoba
sehingga berhubungan dengan polisi. Ketika ditangkap polisi saat pesta narkoba,
remaja tersebut tidak bisa berkutik karena polisi menapkap semua beserta barang
buktinya. Lalu polisi menelpon orang tua si remaja bahwa anaknya dikurung di
kantor polisi kearena terlibat nakoba. Betapa terkejutnya orang tua dan seisi
rumah menjadi gonjang. Sebabnya si remaja tersebut merupakn anak yang baik dan
jarang bermasaah dirumah. Keluarga menjadi gonjang, pekerjaan ayah menjadi
terganggu, ibu menangis, adik – adiknya sedih. Dan yang merepotkan si ibu harus
bolak – balik ke kantor polisi untuk mengurus surat – surat yang diperlukan.
Jika si remaja tadi sudah pulang kerumah
sehabis masa tahanan, maka orang tua akan berinisiatif untuk dua hal;
Pertama, Meminta kepada
konselor untuk agar anaknya diberi knseling individual beberapa kali sampai dia
dapat dapat menerima dirinya, keluarganya, dan menerima realistik tanpa kecewa
dan sedih lagi. Jika demikian maka keluarga harus menerimanya dengan senang
hati, dan mendorongnya supaya mau bersekolah kembali. Jadi konseling individual
pada khususnya di atas amat penting diberikan kepada si remaja supaya dengan
mudah dia memasuki keluarga dengan hati iklas. Barulah selanjutnya diberikan
konseling keluarga oleh konselor dengan tujuan :
a.
Keluarga
dapat menerima dengan iklhas remaj mantan pengguna narkkoba itu. Artinya setiap
anggota keluarga harus menjaga sikap agar tidak mengejek, mengolok – ngolok,
dan memarahi. Akan tetapi dikembangkan sikap empati, memahami si remaja mantan
pengguna narkoba, berdialog dengan baik terutama ibu agar dia kembali tegar dan menerima keaadaan,
biarlah yang sudah lewat berlalu seperti angin.
b.
Di dalam konseling keluarga yang di laksakan
oleh konselor, upayakan agar si remaja berbicara tentang dirinya seperti terucapnyakata
maaf yang mendalam kepada ibu – bapak
dan saudaranya. selanjutnya diusahakan oleh konselor agar para anggota keluarga
tumbuh sifat kasih sayang dan dorongan untuk memajukan si remaja tersebut.
Kadang – kadang si remaj akan menangis meminta maaf pada
ibu – bapaknya, dan demikian pula semua anggpta keluarga akan
bertangisan karena amat terharu.
B. Sistematika
konseling keluarga
Sistematik
konseling keluarga yang sering dilaksanakan oleh para konselor, amat penting
diketahui oleh semua mahasiswa. Karena tanpa konseling yang sistematik dan
tersetruktur, maka tujuan konseling
tidak akan tercapai. Sistematika konseling keluarga adalah sebagai berikut;
1.
Panggilan terhadap anggota keluarga untuk
mengikuti konseling
Pada awalnya salah satu anggota terutama
kedua anggota keluarga menemui konselor keluarga untuk meminta pertemuan di kantor
konselor yang dihadiri oleh semua anggota keluarga. Permintaan tersebut
dikabulkan oleh konselor dan menentukan waktu dan tempat pertemuan. Selanjutnya
konselor meminta kepada orang tua penjelasan masalah ayng akan dibantu, orang
tua mengatakan mengenai masalah anaknya Si A yang duduk dikelas II. Yaitu dia
sering bolos sekolah, merokok, malas belajar, suka keluyuran dengan teman –
teman yang tidak bersekolah. Suka memita uang lebih banyak dari biasanya, dan
sering berbohong.
Setelah
jelas masalanya, kemudian konselor bertanya kepada orang tuanya apa pengaruh
kelakuaan anak itu terhadap suasana keluarga. Dengan jelas orang tua mengatakan
bahwa pengaruh amat buruk terhadap adik – adiknya yaitu ikut – ikutan malas
sekolah.saudarahnya yang lebih tua sekarang suka emosioanal melihat kelakuan
adik – adiknya. Selanjutnya ibunya kurang sehat melihat kelakuan anak –
anaknya. Lalu bapaknya mengatakan dia kurang dapat mengontrol anak – anak
karena amat sibuk dengan pekerjaanya.
Setelah penjelasan orang tua Si A, maka
konselor memutuskan untuk memberikan konseling individual kepada Si A ke kantor konselor pada hari yang ditentukan
2.
Melaksakan konseling individual kepada Si A
Setelah Si A telah dihadirkan di ruang
konseling maka konseling individual di mulai. Hal – hal yang akan diungkapkan
oleh konselor dari Si A adalah:
a.
Keadaa emosi klien
Yaitu
mengungkapkan ekspresi – ekspresi emosional seperti perasaan tertekan, marah, tidak
diperhatikan oleh orang tua dann guru, bahkan Si A sering mendapat ejekan jika
prestasinya kurang memuaskan atau membandingkan prestasinya dengan adiknya.
Gurupun suka memarahinya didepan kelasketika Si A sedang tidak sanggup
mengerjakan soal . hal itu membuatnya malu, marah, sakit hati, dan dendam.
b.
Konselor mengungkap pengalaman – pengalaman
dengan dunia luar (keluarga, guru, teman). Misalnya konselor menanyakan “apakah
yang dilakukan Si A jika dia meras maluh marah dan terhina.” Terhadap ini Si A mengatakan bahwa dia malas belajar
dan bekerja. Makanya Si A membolos pada jam pelajaran atauj tidak masuk
sekolah. Selanjutnya Si A mengatakan bahwa dia suka keluyuran, bermain, merokok
bersama teman- teman yang tidak sekolah. Kadang kala dia meminum MIRRAS.
c.
Mengungkapkan pemikiran Si A berdasarkan emosi
dan pengalamannya. Konselor selanjutnya
akan mengungkapkan pemikiran dan ide – ide Si A bagaimana dia bisa mengatasi
maslahnya, apa kemungkinan – kemungkinan yang akan diupayakan, bagaimana kaitan
masalahnya dengan orang – orang diluar dirinyaterutama orang tua,guru,
saudarah, dan teman sekolah. Khususnya mengenai hubungan denga keluarga, Si A
akan memberikan suatu rencana. Jika rencana itu baik, maka berarti konseling
individual sudah dapat diselesaikan. Berarti Si A mau dilibatkan untuk
berdikusi dengan keluarga dengan pimpinan konselor keluarga. Jadi konseling
keluarga sudah dapat dimulai.
3.
Melaksanakan konseling keluarga
Sebelum
melaksakan konseling keluarga, konselor keluarga harus menyiapkan semua anggota
keluarga agar dapat berkumpul diruang konseling dikantor konselor.
a.
Pertama, tempat duduk yang nyaman, ruangan yang
nyaman suasana dalam ruangan yang menarik misalnya: kebersihan, keindahan, dan
kedap suara.
b.
Kedua, harus diatur agar Si A harus duduk dekat
dengan konselor.keadaan tempat duduk melingkar , dan konselor berada diantara
anggota keluarga. Tujuan Si A duduk dekat konselor agar timbul rasa aman
baginya karena suasana anggota keluarga mungkin masih jengkel, marah, dan kesal
terhadap Si A yang disebabkan kelakuannya selama ini.padahal setelah mengikuti
konseling individu, terjadi perubahan positif
pada dirinya untuk melibatkan kembali dirinya dalam keluarga. Dan yang
paling penting antara konselor dan Si A telah terjadi hubunga yang bersahabat.
c.
Ketiga,
setelah persiapan proses konseling, maka konselor harus mempersiapan
mental para anggota keluarga dengan pengertian bahwa mereka datang untuk
mencari suatu solusi keluarga atas berbagai masalah. Karena konselor meminta
agar bersedia berbicara jujur, santunn dan saling percaya terhadap sesama.
C.
Memulai
konseling keluarga
Jika
konseling keluarga akan dimulai yang harus diingat oleh konselor adalah,
a.
pertama, kepada semua anggota keluarga agar
semua mengekspresikan semua perasaannya, pengalamannya, dan jalan pemikirin
atau jalan keluar terbaik agar terbentuk keluarga sakinah, damai dan ceria,
sehingga semua anggota keluarga jadi bermotivasi, kreatif, dan produktif.
b.
Kedua, barulah konselor mulai mengjukan
pertanyaan kepada individu anggota keluarga tersebut.
Dalam
mengajukan pertanyaan harus dipilih orang yang paling banyak memiliki perasaan
terteken selain Si A, yaitu ayah dan ibu. Dalam hal ini menurut dugaan konselor
dan melihat kenyataan saatbetemu, maka pertanyaan pertama yang diajukan kepda
ibu, misalnya “apa perasaan ibu saat ini ? ” pertanyaan yang begitu luas ini
dengan sengaja diajukan agar ibu mengekspresikan semua perasaannya dengan
konselor akan dengan mudah memilah perasaan tersebut, lalu menvari inti
masalanya. Pertanyaan yang hampir sama juga diajukan untuk ayah. Jika dari
orang tua itu sudah ditemukan masalah spesifik terutama yang mengaitkan dengan
Si A, maka fokus tersebutdiperluas dengan mendengarkan suara kaka perempuan Si
A yang sudah mahasiswa. Selanjutnya barulah pertanyaan diajukan kepada klien.
Untuk lebih jelas, lihat skema alur
pertanyaan konselor di bawah ini :
Setelah sesmua anggota keluarga
diminta tanggapan mengenai perasaan
secara umum, pasti ada yang mengara pada Si A dan Si A juaga di minta
mengungkapkan perasaannya,pasti ada juga yang mengarah pada anggota keluarga
lainnya, entah ayah, ibu, juga mungkin juga saudarah.
Selanjutnya kegiatan konseling yang
dilakukan oleh konselor adalah mengembang isu yang diungkap oleh Si A dan
anggota keluarga lainnya. Untuk lebih jelasnya akan kita ikuti dialog konseling
keluarga berikut ini dengan catatan dialog tersebut adalah rekayaksa penulis
namun tetap mengambil pengalam praktek.
Narasi
Kasus siswa malas belajar dan suka
membolos serta berkelaran pada jam sekolah bersama teman – teman yang tidak
lagi bersekolah. Katakanlah anak tersebut bernama Ali duduk di kelas II SMA.
Kelakuan Ali mulai menular kepada adik – adiknya. Hal ini membuat ayah – ibu
mereka menjadi tegang dan mengganggu tugas mereka. Karena itu kedua orang tua melaporkan kejadia
perilaku Ali kepada konselor keluarga, dan meminta bantua penyelesaian.hal ini
disanggupi konselor keluarga.
Dalam
memmbantu pemecahan kasus ini konselor menetapkan dua cara yaitu:
1.
Memberikan bantuan individual kepada Ali.
2.
Melakukan konseling keluarga kepada semuaanggota
keluarga termasuk Ali
Berikut
adalah dialog konseling individual terhdap Ali
Konselor
= ”ko” dan Ali = “A”
Ko
|
:
|
Selamat pagi Ali apa kabar.?
|
A
|
:
|
Baik pa terimakasih
|
Ko
|
:
|
Pagi ini rasanya amat baik untu kita
berdua untuk dapat berbincang – berbincang. Tentunya perbincangan seputar
diri dan keluarga anda. Apakah anda sependapat dengan saya.?
|
A
|
:
|
Ya pak.
|
Ko
|
:
|
Dapat anda mengungkapkan perasaan anda
saat ini kepada saya.?
|
A
|
:
|
(diam. Seolah menahan tekan batin yang
berat. Wajahnya murung, pendangannya mengarah kebawah, kedua tangan diremas)
|
Ko
|
:
|
Saya memahami perasaan anda.keadaan
andatidak menenti, menahan suatu perasaan yang menekan yang membuat anda
kebingungan. Dapat anda menceritakan perasaan yang anda rasakan saat ini.?
|
A
|
:
|
Baikalah pak. (matanya berkaca – kaca
). Saya saat ini terancam akan dikeluarkan dari sekolah karena dinggap sering
membolos, tidak masuk, dan yang paling menyedikan saya adalah prestasi saya
yang menurun, semuanya membuat saya tertekan. Hal ini disebabkan semuanya
membeci saya, orangtua, guru, dan saudarh
|
Ko
|
:
|
Saya dapat memahamiperasan anda. Dan
saya turut prihatin dengan peristiwa yang menimpamu. Seberapah jauh perasaan
tertekan karena anggapan anda semua orang membenci
|
A
|
:
|
Saya rasa semua keluarga memusuhi saya
. demikian juga guru. Selanjutnya saya amat benci kepada diri sendiri. Saat –
saat seperti ini, rasanya tak ada saudarah, teman, tempat saya mencurakan
perasaan dan isi hati. Saya mau kabur saja dari rumah
|
Ko
|
:
|
Saya dapat memahami perasaan kamu.ada
beberapa hal yang saya catat dari ungkapan perasaanmu,yaitu merasa semua
keluarga memusuhi kamu, kedua, kamu membenci kepada diri sendri ,ketiga, kamu
perlu teman untuk mencurakan perasaan, keempat, hidup terasa sempit, kelima,
ingin kabur saja dari rumah. Mari kita ungkap satu persatu perasaan kamu
tersebut . bagaimana pendapatmu.
|
A
|
:
|
Hmh,.saya sependapat dengan bapak.
|
Ko
|
:
|
Kalau begitu saya dapat menguraikan
satu persatu masalah anda.?
|
A
|
:
|
Saya saya setuju
|
Tampaknya
dialog ini tidak akan dilanjutkan, akan tetapi silakan mahasiswa yang
melanjutkan dengan kreatifitas sendiri, karena semua ini rekaya.
Contoh konseling
individual untuk memberikan bantuan terhadap A, dapat dilanjutkan dengan
konseling keluarga lainnya yaitu, ayah, ibu, dan dua saudaranya.
Hal
ini telah dikemukan pada skema alur pertanyaan konselor terhadap anggota
keluarga, yang tercantum dihalaman sebelumnya.
Berikut ini dialog rekaya konseling keluarga.
Ko
|
:
|
Baik , bapak, ibu, serta adik – adik.
Selamat pagi dan selamat datang di tempat ini.
|
Kel
|
:
|
Terimakasih
|
Ko
|
:
|
Sebagai awal dari pembicaraan kita,
saya akan mengajukan pertanyaan kepada ibu. Dapatkah ibu mengungkapkan
perasaan ibu saat ini?
|
Ibu
|
:
|
Saya merasa prihatin dan sedihmengingat
keadaan sekolah anak saya A yang akhir – akhir ini menunjukan kesulitan. Dan
hasilnya buruk.hal ini disebabkan dia sering meninggalkan bangku sekolah
karena berhura – hura dengan teman diluar sekoalh yang tidak bersekolah lagi.
|
Ayah
|
:
|
Saya sependapat dengan ibu, bahkan saya
sangat khawatir, kepalah sekolah akan men DO dia jika dalam minggu ini tidak
juga masuk sekolah.
|
Ko
|
:
|
Terimah kasih. Sesunggunya keadaan ini
cukup memperihatinkan juga.. barangkali saya sebagai konselor keluarga ingin
sekali mendengar dari A sendiri apa sebenarnya ia rasakan dan pikirkan saat
ini. A bisakah kamu mengemukankan perasaanmu terhadap peristiwa yang kamu
alami.?
|
A
|
:
|
(diam, agak ragu menunduk) hmm... saya
tidak tahu..
|
Ayah
|
:
|
(Agak emosi), masa kamu tidak tahu, kan
kamu yang punya diri dan punya kesalahan, anak sekolah macam apa kamu.?
|
Ibu
|
:
|
Sabar pak. Biar dia berpikir dulu. Beri
di kesempatan unutk merenungkan dirinya
|
Ko
|
:
|
Benar pak,tolong beri dia kesempatan
untuk berfikir.
|
A
|
:
|
Sebenarnya saya sedih dengan keadaan
rumah. Semua orang mencurigai saya. Tidak ada tempat sayauntuk curhat,
berbagi perasaan.
|
Ko
|
:
|
Sebenarnya perasaan apa yang membuatmu
kesulitan dalam menyesuaikan diri di keluarga, pada hal mereka adalah
keluargamu, bisa menjelaskannya kepada saya.
|
A
|
:
|
(diam)
|
Ko
|
:
|
(diam)
|
Kel
|
:
|
(diam)
|
Beberapah saat kemudian ternyata A berbicara kepada
KO
|
||
A
|
:
|
Pak KO. Maaf saya dimusuhu keluarga.
Setiap saya pulang kerumah tidak ada orang yang menyapa saya, semuanya diam dan tampaknya
mereka membenci saya. Bahkan adik saya
yang saya sayangi ikut – ikutan demikian. Rupanya dia sudah terhasut.
Dan kakak saya adalah orang yang sibuk. Jarang ketemu saya. Dia tidak ada
komentar karena dia kecapean
|
Mendengar ungkapan perasaan A, semua terdiam,
termasuk konselor. Mengapa demikian.? Karena ungkapan A telah mengenai
keadaan keluarga yang tidak toleran, terutama ayah dan ibu yang tidak dapat
memberi nasihat. Selanjutnya konselor berbicara dan memecakan kesunyian
|
||
Ko
|
:
|
Dapat anada mengemukan dan menjelasakan
rasa kebencian yang anda ungkapkan.?
|
A
|
:
|
Mereka tidak suka kepada saya. Bahkan
tampak seakan memusuhi saya
|
Ko
|
:
|
Dengan perasaan tersebut apa yang anda
lakukan
|
A
|
:
|
Kebanyakan saya menjauh dari keluarga
|
Ko
|
:
|
Apa yang anda maksudkan dengan menjauh
dari keluarga.?
|
A
|
:
|
Saya ikut aktif bersama kawan kawan
dari luar sekolah. Mereka tidak bersekolah lagi, mereka preman jalanan. Hidup
mereka sama dengan saya, menjauh dari keluarga
|
Ko
|
:
|
Apa saja yang anda lakukan bersama
mereka.?
|
A
|
:
|
Minum, merokok, bahkan menghisap ganja
|
Ko
|
:
|
Ada apa geranga kamu mau ikut konseling
keluarga, walau hal itu saya yang mengajak.?
|
A
|
:
|
Saya ingin berubah setelah mendengar
naseha bapak KO
|
Ibu
|
:
|
Alhamdullillah..
|
Ayah
|
:
|
Apa saya tidak salah dengar nih.
|
Ko
|
:
|
Tidak pak A sungguh – sungguh.
|
Marih kita dukung, saya harapkan semua
keluarga mendukung perubahan yang akan
terjadi pada diri A.
|
||
Kel
|
:
|
Baik pa KO
|
Ko
|
:
|
A, perubahan macam apa yang akan terjdi
dan yang engkau inginkan.?
|
A
|
:
|
(diam, berpikir sebentar), lalu
berbicara, “perubahan yang membawa saya seperti yang dulu”
|
Ko
|
:
|
Maksudnya.?
|
A
|
:
|
Saya ingin rajin belajar, yang patuh
kepada orang tua, dan taat beribadah.
|
Ayah
|
:
|
Alhamdullillah..
|
Ko
|
:
|
Bagaimana kamu bisa mencapai hal
seperti itu,?
|
A
|
:
|
Pertama, saya menjauhi teman – teman
preman,kedua menjauhi alkohol dan NABZA, ketiga, saya akan kembali sekolah.
Keempat, saya akan rajin beribadah. Dan saya akan meminta maaf kepada orang
tua dan guru.
|
Ko
|
:
|
Maukah sekarang kamu meminta maaf
langsung kepada orang ayah dan ibu.?
|
A
|
:
|
(menoleh kepada ayah dan ibunya ), ibu,
bapak maafkan saya atas semua kesalahan
saya
|
Kel
|
:
|
Seluruh anggota keluarga menjadi terharu
melihat kejadian tersebut sambil mengucapakan syukur.
|
Ko
|
:
|
Bagaiman komentar ayah atas peristiwa
yang baru anda saksikan
|
Ayah
|
:
|
Saya sangat bahagia saat ini
menyaksikan A memperlihatkan jiwa satrianya. Ternyata dia dapat mengakui
semua kesalahannya. Dan yang paling saya hargai adalah tekatnya untuk
memutuskan hubungannya dengan teman – teman premanya diluar sana, serta bertekad
kembali bersekolah. Terimah kasi A ayah sangat memaafkan atas kesalahanmu
yang telah lalu.
|
Ko
|
:
|
Kalau begitu apakah sudah cukup sampai
disini pertemuan kita.?
|
Kel
|
:
|
Ya, kami kira cukup.
|
Ko
|
:
|
Kalau begitu pertemuan kita tutup dan
terima kasih.
|
Komentar
Konseling
keluaraga yang baru saja terjadi merupakan bahwa syarat utama lancarnya konseling
adalah :
1.
Kualitas konselor dalam menguasai ilmu konseling
dan ilmu – ilmu pendukung lainnya.
2.
Menguasai ketrampilan konseling.
3.
Memiliki kepribadian konselor yang empati,
memahami, menerima klien apa apadanya, ketrampilan bermain kata, dan mampu
memotivasi klien agar berbicara bila diminta konselor.
Disamping itu tak kalah
penting adalah keinginan keluarga untuk berpartisipasi dalam kegiatan konseling
dengan penuh motivasi. Khusus sebagai kasus dalam keluarga ini, telah
memberikan adanya motivasi bahwa dia ingin menyelesaikan masalahnya dikeluarga
dan dapat menjadi anggota keluarga yang baik.
Bab III
Kesimpulan
Konseling keluarga (familly counseling) sangat berbeda
dengan praktek konseling lainnya. Letak perbedaannya antara lain, dari
tujuannya: memperlancar komunikasi diantara
sesama anggota keluarga, membantu anggota keluarga yang mengalami
masalah,akan dapat diselesaikan melalui diskusi diantara anggota keluarga atas
bantuan konselor, memelihara keutuhan keluarga, Membuat keluarga lebih
produktif karena setiap diri individu anggota keluarga seperti kreativitas,
motivasi tinggi,dan semangat kerja yang tinggi.
Konseling keluarga penuh dengan
muatan emosional, karena hubungsn anggota keluarga yang memang terikat
emosional. Dalam konseling keluarga bisa Memanfaatkan konseling individu untuk
menyukseskan tercapainya konseling keluarga.
Untuk bisa menyelesaikan suatu masalah keluarga dalam
konseling keluarga, selain keterampilan dan profesionalisme konselor, juga
dibutukan keinginan keluarga untuk berpatisipasi dalam kegiatan konseling
keluarga dengan penuh motivasi. Sehingga salah satu keluarga yag terkena kasus
atau masalah dengan adanya motivasi dan dukungan dari anggota keluarga lain
maslah – masalah salah satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain
bisa terselesaikan.
Daftar
pustaka
Profesor.Dr.h.Sofyan
S. Willis, September 2009, Konseling
Keluarga Alfabeta bandung.

Tidak ada komentar:
Write komentar