a. Pengertian
Bimbingan
1) Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).
2) Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni
bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.
3) Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
Dapat disimpulakan bimbingan adalah
1) Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).
2) Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni
bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.
3) Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
Dapat disimpulakan bimbingan adalah
Suatu proses
pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang
dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,
dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat
mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan
potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan
masyarakat”
b. Pengertian Konseling
Konseling berasal dari bahasa latin consillium
berrarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami.
Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan
yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan,
istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan. Menurut para ahli
konseling adalah;
1) Jones, 1951, konseling terdiri atas pengungkapan atau data tentang siswa serta
pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi masalah-masaalah yang dihadapinya,
Bantuan itu diberikan secara langsung kepada siswa, Tujuan konseling adalah
agar siswa dapat mengalami perkembangan yang semakin maju dan baik.
2) Mclean dalam sherter & stone 1974, Konseling merupakan suatu proses pemberian
bantuan, Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka, Individu yang dikonseling
adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah.,Dilakukan oleh
orang yang ahli (profesional) yaitu orang yang terlatih baik dan telah memiliki
pengalaman, Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah atau gangguan.
Berdasarkan pendapat dari para ahli diatas maka
dapat disimpulkan secara singkat pengertian konseling yaitu: proses pemberian
bantuan yang dilakukan melalui wawancara konsleing oleh seorang ahli (konselor)
kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara
pada teratasinya masalah klien.
c.
Pengertian
belajar
Belajar merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku
individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar
perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya
belajar itu ?
1)
Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu
proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru
secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungannya”.
2)
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam
kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk
keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
3)
Jung , (1968)
mendefinisikan bahwa belajar adalah
suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
Dapat
disimpulkan bahwa pelayanan bimbingan belajar adalah untuk membantu murid-murid
yang mengalami masalah didalam memasuki proses belajar dan situasi belajar yang
dihadapinya. Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi:
a.
Mengembangakan pemahaman tentang diri terutama pemahaman
sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat,
kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahannya dan
penanggulangannya dan usaha-usaha pencapaian cita-cita/ perencanaan masa depan.
b.
Mengembaangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkahlaku
dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c.
Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar
dan berlatih secra efektif dan efisien.
d.
Teknik penguassaan materi pelajaran, baik ilmu
pengetahuan teknologi, dan kesenian.
e.
Meembantu memantapkan pilihan karir yang hendak
dikembangkan melalui orientasi dan informasi karier, orientasi dan informasi
dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai
dengan karier yang hendak dikembangkan.
2. Prinsip efisiensi dalam belajar
Ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu
diperhatikan sebagai berikut:
a.
Belajar memerlukan dorongan atau motivasi
b.
Belajar memerlukan pemusatan perhatian pada hal-hal yang
sedang dipelajari
c.
Berusaha untuk lebih mengerti terlebih dahulu sebelum
dihafal
d.
Sering mengulang hal-hal yang telah dipelajari
e.
Yakinkan bahwa yang setiap dipelajari akan berguna nantinya
f.
Yakinkan bahwa hal-hal yang telah dipelajari dapat dimanfaatkan
untuk mempelajari yang lain (transfer pengetahuan)
g.
Belajar dengan ekspresi (mengutarakan kembali dengan bahasa
sendiri)
3. Bimbingan prestasi belajar dengan intelegensi
Ada beberapa pendapat tentang inteligensi,
diantaranya adalah:
1. Claparade dan Stern mengatakan inteligensi adalah
“kemampuan untuk menyesuaikan diri secara
mental terhadap situasi atau kondisi baru”
2. K. Buhler, mengatakan inteligensi adalah “perbuatan yang disertai dengan pemahaman
atau pengertian”
3. David Wechsler, mengatakan bahwa “kapasitas untuk mengerti lingkungan dan
kemampuan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya” Pada kesempatan
lain ia mengatakan “kemampuan untuk
bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya
secara efektif”.
Dari definisi-definisi di atas kita dapat menarik
kesimpulan yang menjelaskan ciri-ciri inteligensi:
1)
Inteligensi
merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara
rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan
harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari
proses berpikir rasional itu.
2)
Inteligensi
tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan
dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya. .
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
1.
Belajar
itu berdasarkan keseluruhan
Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih
memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada
dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu
bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu
masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
2.
Anak
yang belajar merupakan keseluruhan
3.
Prinsip
ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya
mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak
seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan
fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada
dalam diri anak
4.
Belajar
berkat insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman
terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan
demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan
yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
5.
Belajar
berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan
makna kehidupan setiap perilaku individu.
4.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan di dalam belajar
Agar dapat mencapai hasil
belajar yang sebaik-baiknya, haruslah diperhatikan faktor-faktor yang terdapat
di dalam belajar itu. Di dalam belajar akan didapati adanya:
a.
Faktor Anak/Individu
Faktor individu merupakan
faktor paling penting. Anak jadi belajar atau tidak adalah tergantung pada anak
itu sendiri. Individu terbentuk dari fisik dan psikis yang masing-masing tidak
dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Satu dengan lainnya saling
mempengaruhi. Ini berarti kalau ada gangguan baik dalam segi fisik maupun
psikis, hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.
b.
Faktor Fisik
Ini berhubungan erat dengan soal kesehatan
fisik. Untuk menjaga kesehaan badan perlu ada aktivitas fisik (bergerak badan)
sebagai selingan belajar untuk menjaga agar badan selalu dalam kondisi yang
baik. Berhubung dengan hal tersebut maka apabila terasa ada gangguan fisik maka
harus segera mendapatkan perhatian.
c.
Faktor Psikis
Bahwa individu harus mempunyai kesiapan mental
(mental set) untuk menghadapi tugas.
Kesiapan mental (mental set) ini
sangat mempengaruhi motif, minat, perhatian, konsentrasi dan sebagainya.
1)
Motif
Apabila anak mempunyai motif yang cukup kuat
untuk belajar, maka ia akan berusah agar dapat belajar dengan sebaik-baiknya.
Motif ini akan cukup kuat apabila individu mempunyai kesadaran akan makna serta
tujuan dari apa yang harus dilakukannya.
2)
Minat
Apabila anak telah
mempunyai minat maka akan mendorong individu untuk berbuat sesuai dengan
minatnya.
3)
Natural Curiosity
keinginan untuk
mengetahui sacara alami. Kalau dalam diri anak sudah terselip rasa ingin tahu,
ini berarti bahwa anak memiliki dorongan atau motif untuk mengetahui apa
hakikat dari mata pelajaran yang dipelajari itu.
4)
Intelegensi
Faktor ini akan turut
menentukan taktik atau cara apa yang diambil di dalan menghadapi materi yang
harus dipelajari. Belajar dengan pengertian akan jauh berbeda hasilnya apabila
tanpa pengertian, dan pengertian ini erat hubungannya dengan intelegensi.
5)
Ingatan
Tujuan belajar ialah agar apa yang dipelajari
itu tetap tinggal dalam ingatan. Karenanya perlu adanya pengulangan dari apa yang
telah pernah dipelajari. Makin sering apa yang dipelajari itu ditimbulkan di
atas ambang kesadaran maka akan semakin baiklah meteri itu tetap tinggal dalam
ingatan.
6)
Faktor Lingkungan
Dalam proses belajar,
faktor lingkungan juga memegang peran penting. Pengertian lingkungan di sini
adalah termasuk peralatan. Oleh karenanya hal ini harus mendaparkan perhatian
sebaik-baiknya. Faktor
lingkungan ini berhubungan dengan:
a)
Tempat
Tempat belajar yang baik adalah merupakan
tempat yang tersendiri, yang terang, warna dindingnya sebaiknya jangan yang
tajam dan mencolok, dan dalam ruangan jangan sampai ada hal-hal yang dapat
mengganggu perhatian. Perlu pula diperhatikan tentang penerangan yang harus
cukup dan ventilasi udara pun perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
b)
Alat-alat untuk Belajar
Belajar tidak dapat
berjalan dengan baik bilamana tanpa alat-alat yang cukup. Semakin lengkap
alatnya maka akan semakin mudah untuk belajar sebaik-baiknya.
7)
Faktor Bahan yang harus Dipelajari
Bahan yang dipelajari
akan menentukan cara arau metode belajar apa yang akan ditempuh. Hal ini dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a)
Pada umumnya belajar dengan cara keseluruhan lebih baik daripada
belajar secara bagian-bagian.
b)
Sebagian waktu belajar disediakan untuk melakukan
ulangan. Ulangan ini digunakan untuk mengecek sampai di mana bahan yang
dipelajari itu tinggal dalam ingatan.
c)
Atas apa yang dipelajari hendaknya diadakan
ulangan sekerap mungkin. Makin sering diulang maka akan makin baik tinggal
dalam ingatan.
d)
Di dalam mengulangi bahan pelalaran hendaknya dipakai
spaced repetition, yaitu mengulangi
dengan waktu tenggang. Umumya mengulangi dengan spaced repetition itu lebih baik hasilnya daripada dengan massed repetition. Pada spaced repetition, anak mempunyai energi
baru setelah istirahat sebentar.

Tidak ada komentar:
Write komentar