0852-5712-4644

CALL/SMS

Empat pilar utama dalam pendidikan menurut unesco

Posted by   on Pinterest

Komisi pendidikan untuk abad 21 (unesco 1996 ) melihat bahwa hakikatnya pendidikan sesungguhnya adalah belajar (learning).
Sebelumnya sehingga UNESCO mulai tahun 1997 sudah mulai menggali kembali dan memperkenalkan The Four  Pillars  of  Education   untuk   mengantisipasi  perubahan   yang  bukan   hanya   linear   tetapi   mungkin  eksponensial yangdiantisipasi  akan  terjadi  dalam masyarakat yang mengglobal. Secara lebih rinci, keempat pilar tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1.                  Learning To Know
2.                  Learning To Do
3.                  Learning To Live Together, Learning To With Others
4.                  Learning To Be

1.                       Learning to know: 
Learning to know adalah upaya memahami
instrument-instrument pengetahuan baik sebagai alat atau sebagaai tujuan.sebagai alat pengetahuan tersebut diharapkan akan memberikan kemampuan setiap orang untuk memahami berbagai aspek lingkungan agar mereka dapat hidup dengan harkat dan martabatnya.
Learning to Know yang dimaksud disini adalah bukan sebatas mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya,  menyimpan dan mengingat selama-lamanya dengan setepat-tepatnya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang telah diberikan, tetapi kemampuan memahami makna dibalik materi yang telah diterimanya. Misalnya, tidak sulit mengingat peristiwa kemerdekaan 17 Agustus 1945, tetapi kemampuan memahami apa makna sebenarnya dari revolusi kemerdekaan Indonesia. Untuk mengkondisikan masyarakat  belaja yang  efektif  dewasa ini, Diperlukan pemahaman yang jelas tentang “apa” yang perlu diketahui, bagaimana” mendapatkan Ilmu pengetahuan, “mengapa ilmu pengetahuan   perlu  diketahui, “untuk  apa” dan “siapa” yang akan menggunakan ilmu  pengetahuan itu.  Belajar untuk tahu diarahkan pada peserta didik agar mereka memiliki  pengetahuan fleksibel, adaptable, value added dan siap memakai bukan siap pakai. Karena itu hakekat dari “Learning  to  Know”  adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa mengasai teknik memperoleh pengetahuan dan  bukan  semata-mata  memperoleh pengetahuan. 

2.                       Learning  to  Do:  
Belajar untuk mengaplikasikan ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Learning  to  do  merupakan  konsekuensi  logis dari learning to know.  Kelemahan model pendidikan dan pengajaran kita selama  ini  adalah banyaknya mengajarkan “omong” dan kurang menuntun orang untuk  “berbuat”.  
Semangat “retorika” lebih besar daripada semangat “action”. Yang dimaksud dengan learning to do bukanlah kemampuan berbuat yang mekannis dan pertukangan tanpa pemikiran, tetapi action in thinking, berbuat dan berfikir, learning by doing Dengan  demikian, peserta didik akan terus belajar bagaimana memperbaiki dan menumbuh kembangkan   kerja,   juga   bagaimana mengembangkan teori atau konsep intlektualitasnya.  
Dalam  proses  pembelajaran,  ditekankan  agar  peserta  didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna “Active Learning ” peserta didik memperoleh kesempatan belajar dan berlatih untuk dapat menguasai dan memiliki standart kompetensi dasar yang dipersyaratkan dalam dirinya. Proses pembelajaran yang dilakukan mengali dan menemukan informasi (information searching and exploring), mengolah informasi dan mengambil keputusan (information procesing and making skill)   serta memecahkan masalah  secara kreatif (creative problem solving skill).

3.                       Learning  to  live  together:  
Belajar memhami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Learning to live together ini menuntun seseorang untuk hidup bermasyarakat dan menjadi “educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan masyarakatnya, maupun bagi seluruh ummat manusia sebagai amalan agamanya. Prof. Zhou Nan-zhai menyatakan  bahwa dari empat pilar pendidikan, ketiga yang lain mendukung terlaksananya pembelajaran nilai-nilai kehidupan kebersamaan (learning  to  live  together). Learning to know merupakan instrument pemahaman akan diri sendiri dan orang lain, serta wawasan untuk dapat belajar hidup kebersamaan. Learning to do memungkinkan pembelajar untuk mengaplikasikan pemahamannya dan bertindak secara kreatif terhadap lingkungan sehingga tercapai  kehidupan kebersamaan yang damai; learning to be menggaris bawahi dimensi penting dalam  pengembangan hubungan social manusia yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kebersamaan. Learning  to live together menjadi penting khususnya  menghadapi  dunia yang penuh konflik dan banyaknya pelanggaran akan hak-hak asasi manusia. Kehidupan yang  damai  ini  bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi masyarakat, orang  tua, siswa/mahasiswa, guru/dosen dan semua pihak. Dalam lingkup Asia-Pasifik yang ditandai dengan keragaman budaya, bahasa, tatanan geografis, sosio-politik, agama dan tingkat   ekonomi  kaum muda perlu dipajankan kepada keindahan dari keragaman cultural ini. Learning to live together diperlukan dalam globalisasi yang kooperatif tetapi sekaligus juga pelestarian nilai-nilai budaya dan kemanusiaan sedemikian sehingga ada  usaha bersama untuk saling mengasihi dalam kehidupan bersama. 


4.                       Learning  to  be: 
Belajar   untuk  dapat   mandiri,   menjadi   orang   yang  bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Manusia   pada   zaman  ini dapat   hanyut   di telan  masa  jika ia tidak berpegang  teguh pada   jati dirinya. Learning to be  akan menuntun peserta didik  menjadi ilmuan sehingga  mampu menggali dan menentukan nilai   kehidupannya sendiri-cultivating their own end- dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya. Proses pembelajara yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik dengan sikap mandiri. Kemandirian belajar   merupakan kunci terbentuknya rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri untuk berkembang secara mandiri.  Sikap  percaya  diri akan lahir  dari pemahaman dan  pengenalan diri  secara tepat. Belajar mandiri harus  didorong  melalui  penumbuhan motivasi  diri. Banyak  pendekatan  pembelajaran  yang dapat diterapkan dalam melatih kemandirian peserta didik misalnya: Pendekatan sinektik, problem soving, keterampilan  proses, discovery, inquiry,  kooperatif, dan sebagainya Pendekatan pembelajaran tersebut mengutamakan keterlibatan peserta didik secara efektif. Pendekatan-pendektan pembelajaran ini pada dasarnya suatu proses social, peserta didik dibantu dalam melakukan peran sebagai pengamat yang berhubungan dengan permasalahan    yang dihadapi. Meskipun guru dapat memberikan situasi masalah, namun dalam penerapannya, peserta didik mencari, menanyakan, memeriksa dan berusaha menemukan sendiri hal-hal yang dipelajari. Para peserta didik mulai berpikir berdasarkan kemampuan dan pengalamannya masing-masing secara logis. Strategi pembelajaran inkuiri  merupakan salah  satu alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran Strategi pembelajaran  keterampilan proses lebih menekankan  pada kegiatan-kegiatan yang berpusat pada pengembangan kreativitas belajar peserta didik. Penerapan strategi pembelajaran keterampilan proses dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan menciptakan kondisi pembelajaran yang bervariasi dalam menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar lebih dalam, mendorong rasa ingin tahu lebih lanjut dan memotivasi untuk berpikir kreatif. Dapat kita lihat, pilarpilar pendidikan tersebut memang dirancang dengan sangat bagus dan dengan tujuan yang sangat bagus pula. Dengan mengaplikasikaan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di seluruh dunia  termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik. yang menjadi masalah adalah dunia  pendidikan  dindonesia  yang  saat  ini masih minim fasilitas  terlebih lagi di daerah-daerah terpencil, belum meratanya fasilitas pendidikan, tentunya akan menjadi halangan bagi siswa untuk mengembangkan diri mereka, sebagaimana pilar pendidikan  pada  point  pertama  di  atas, “Learning to know”,  bagaimana  siswa  dapat menambah ilmu sebanyak-banyaknya sedangkan fasilitasnya saja tidak memadai? Bagaimana mereka bisa mencari tambahan referensi ilmu sedangkan semua yang mereka dapat sangat terbatas? Lalu, mengarah kepoin kedua, “Learning To Do”, belajar untuk berkarya atau mengaplikasikan ilmu yang didapat oleh siswa, di sini kembali muncul pertanyaan, bagaimana siswa dapat berkarya sedangkan ilmu mereka sangat minim, simpelnya begini, “teorinya aja ngga tau, gimana bisa buat praktekin?”.

Lama Witak

About Lama Witak

Peace and Love

Tidak ada komentar:
Write komentar
Join Our Newsletter