0852-5712-4644

CALL/SMS

aspek testing yang relevan,tujuan pokok penggunaan alat tes,pembagian alat tes menurut isi,program testing dan penggunaan hasil testing,manfaat penggunaan tes, kebijakan dalam mengkomunikasikan hasil tes.

Posted by   on Pinterest

BAB I 
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Komponen pengumpulan data merupakan salah satu program bimbingan konseling, yang  sekaligus menjadi salah satu layanan bimbingan. Komponen ini mencakup usaha – usaha untuk memperoleh data tentang siswa dan mahasiswa, menganalisa dan menafsirkan data, serta menyimpan data itu. Tujuan dari pengumpulan data ialah mendapatkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkapdan lebih mendalam tentang masing – masing peserta didik, serta membantu siswa atau mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri. Komponen pengumpulan data, sebagaimana diartikan di sini, mencakup penggunaan teknik – teknik, metode – metode, dan alat – alat untuk memperoleh serta menyimpan informasi tentang berbagai aspek pada orang yang dibimbing.

Data yang dikumpulkan dan ditafsirkan itu bersifat data psikologis seperti minat di bidang pekerjaan dan sifat karakter dalam mengambil keputusan, dan data sosial seperti latar belakang keluarga siswa dan status siswa di dalam kelas. Alat – alat pengumpulan data tergolong dalam alat tes dan nontes. Alat tes dipergunakan dalam rangka teknik dan metode testing, yang memberikan tekanan pada dimensi kuantitatif dari berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan mengukur berapa banyak dari aspek tertentu pada seseorang. Alam pembahasan selanjutnya akan dibahas berbagai alat tes yang tersedia untuk memperoleh data psikologis dan data sosial, yang kemudian ditafsirkan dalam hubungannya satu sama lain.
B.                 Rumusan Masalah

1.                  Jelaskan aspek – aspek testing yang relevan!
2.                  Sebutkan tujuan pokok penggunaan alat tes!
3.                  Jelaskan pembagian alat tes menurut isi!
4.                  Jelaskan program testing dan penggunaan hasil testing!
5.                  Apa manfaat penggunaan tes!
6.                  Bagaimana kebijakan dalam menkomunikasikan hasil tes!
C.                Tujuan
1.                  Untuk memahami aspek – aspek testing yang relevan.
2.                  Mengetahui tujuan pokok penggunaan alat tes.
3.                  Mengetahui pembagian alat tes menurut isi.
4.                  Mengerti program testing dan penggunaan hasil testing.
5.                  Mengetahui manfaat penggunaan tes.
6.                  Memahami kebijakan dalam mengkomunikasikan hasil tes.

BAB II
PEMBAHASAN

A.                Alat – alat Tes
1.                  Aspek – aspek testing yang relevan
Testing adalah suatu metode penelitian psikologis untuk  memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Alat yang yang digunakan adalah tes yang distandardisasikan (standardized test), yang memuat koleksi persoalan, pertanyaan atau tugas, yang dianggap representatif bagi aspek yang bersangkutan (sample of  item). Standardisasi berarti bahwa cara penyelenggaraan tes, cara memeriksanya dan penentuan norma penafsiran adalah seragam. Norma penafsiran ditentukan dengan memberikan tes itu kepada kelompok besar orang yang dianggap representatif (sample) bagi subjek – subjek yang akan dikenai tes itu (populasi), dengan menentukan hasil rata – rata (skor rata – rata; skor deviasi). Tes merupakan instrumen penelitian yang obyektif, dalam arti bahwa penyelenggaraan, pemeriksaan atau skoring, dan penafsiran tidak tergantung pada pendapat pribadi orang yang menggunakan alat itu; juga taraf validitas dan taraf rehabilitas keseluruhan tes serta taraf kesukaran dan taraf diskriminasi masing – masing item dalam tes, diketahui dengan melalui penelitian eksprimental sebelum alat tes diedarkan secara luas. Dengan demikian, berdasarkan taraf prestasi yang diperoleh seseorang dalam mengerjakan suatu tes yang distandardisasikan,  dapat ditarik kesimpulan tentang posisi orang itu dalam suatu aspek tingkah laku atau kehidupan batin, bila dibandingkan dengan orang lain yang mengerjakan tes yang sama. Pengertian validitas kesesuaian antara apa yang diteliti dalam tes dengan aspek yang direncanakan untuk diteliti melalui tes itu, misalnya: bila suatu tes intelegensi memiliki validitas yang tinggi, berarti bahwa tes itu benar- benar mengukur kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah,  yang di dalamnya berpikir memegang peranan pokok. Pengertian reliabilitas menunjuk pada keajegan dalam hasil yang diperoleh bilamana seorang mengerjakan suatu tes pada waktu yang berlainan. Bilamana taraf rebilitas tes tertentu tinggi, berarti bahwa hasil yang diperoleh sekarang dan beberapa waktu kemudian tidak berbedah jauh. Misalnya bilamana siswa SMA akan mengambil tes intelegensi yang sama sampai beberapa kali dengan jarak waktu yang cukup lama antara saat – saat mengambil tes, skor total yang diperoleh akan hampir sama. Variasi – variasi kecil dalam dalam skor total itu akan jatuh dalam rentang skor – skor tertentu.oleh karena itu hanyalah tes – tes yang taraf reabilitasnya terjamin dan terandalkan, berguna sebagai alat pengumpul data dalam rangka pelayanan bimbingan disekolah.
Alat – alat tes digunakan dengan tujuan – tujuan tertentu. Tujuan – tujuan yang pokok adalah sebagai berikut:
a)                  Untuk meramalkan atau memperkirakan. Data hasil testing menjadi dasar untuk mengambil ketentuan, yang mengandung peramal atau perkiraan mengenai taraf prestasi atau corak prilaku di kelak kemudian hari. Perkiraan berdasarkan data kuantitatif lebih diandalkan dari pada keinginan saja (wishful thinking).
b)                  Untuk mengadakan seleksi. Data hasil testing digunakan oleh perusahan, kantor – kantor, dan institusi – institusi pendidikan untuk menerima orang – orang tertentu dan menolak orang lain.
c)                  Untuk mengadakan klasifikasi. Data hasil testing digunakan untuk menentukan dalam kelompok mana seseorang sebaiknya dimasukkan untuk mengikuti satu program pendidikan tertentu, bekerja dalam jabatan tertentu, atau dikenai program rehabilitasi tertentu .
d)                 Untuk mengadakan evaluasi. Hasil data testing digunakan untuk memperoleh gambaran deskriptif tentang program – program studi, metode – metode mengajar, program – program rehabilitasi, dan sebagainya yang kemudian akan ditafsirkan.
Keterlibatan seorang konselor sekolah dalam testing terutama berkaitan dengan tugasnya mendampingi siswa dan mahasiswa secara individual untuk mengembangkan diri secara maksimal dan menyusun dan menyusun masa depan yang realistik. Oleh karena itu, tujuan testing meramalkan dan mengadakan klasifikasi paling relevan untuk pekerjaan seorang konselor, yang harus membantu peserta didik untuk memahami diri dari berbagai macam aspek kepribadiannya, memperkirakan gradasi kemungkinan untuk berhasil dalam program studi lanjutan tertentu, serta mengambil keputusan – keputusan yang mengkonkretkan rencana pembangunan masa depan.
2.                  Pembagian alat tes menurut isi
Adapun pembagian alat – alat tes menurut aspek ini adalah sebagai berikut:
a)                  Tes hasil belajar (Achievement Test), yang mengukur apa yang telah dipelajari diberbagai bidang studi. Ada tes khusus yang meneliti penguasaan materi bidang studi tertentu saja; ada pula tes yang meliputi materi beberapa bidang studi dalam lingkup yang lebih luas, yang menghasilkan skor- skor terpisah (subtest) untuk saling dibandingkan (Achievement Battery; survey tes). Tipe tes hasil yang khusus adalah tes kesiapan,  yang bertujuan memperkirakan sampai berapa jauh subjek dapat mengambil manfaat dari suatu program pendidikan, misalnya testing dalam ketrampilan membaca dan penalaran numerik menjelang saat masuk sekolah dasar (readiness test; Prognostic test). Tipe khusus yang lain adalah tes diagnostik yang meneliti sebab - sebab timbulnya kesulitan dalam mempelajari bidang – bidang studi tertentu, agar siswa dapat ditolong dalam mengatasi kesulitan dan melengkapi kekurangannya (Diagnostic test). Akhir – akhir ini dikembangkan tipe yang baru, yaitu tes kompetensi, yang menuntut para siswa untuk menunjukan taraf penguasaan dalam keterampilan – keterampilan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung (competency test).
b)                  Tes kemampuan intelektual, yang mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah (Mental Ability Test; Intelligence Test; Academic Ability Test; Scholoastic Aptitude Test). Meskipun hasil yang diperoleh dalam tes kemampuan tidak selurunya lepas dari pengaruh pengalaman belajar di masa yang lampau, termasuk pendidikan sekolah, namun diusahakan supaya tes semacam ini lebih menonjolkan potensi untuk berhasil dalam belajar di kemudian hari. Ada tes yang diberikan secara individual; ada pula yang diberikan kepada kelompok siswa.
c)                  Tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, yang mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu; lingkupnya lebih terbatas dari tes  kemampuan intelektual (Test of Specific Ability; Aptitude Test).kemampuan khusus yang diteliti  itu mencakup unsur – unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian, yang bersama- sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu. Ada tes yang mengukur potensi disatu bidang saja, seperti kemampuan mekanik, kemampuan musikal, kemampuan artistik, dan kemampuan dalam pengerjaan administratif, ada pula tes yang mencakup sejumlah kemampuan dibidang – bidang yang terpisah, seperti berpikir verbal, penalaran numerik, berpikir abstrak, pengamatan ruang, kecepatan dan ketajaman pengamatan, kemampuan mekanik, penggunaan bahasa dalam hal mengeja dan menyusun kalimat. Masing – masing subtest menghasilkan skor tersendiri yang dapat saling dibandingkan untuk mendapatkan deskripsi tentang posisi relatif dalam masing – masing potensi (Multifactor battery; survey tes).
d)                 Tes minat, yang mengukur kegiatan – kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (tes of vocational interest). Pola jawaban pada item-item dalam memberikan indikasi tentang golongan  pekerjaan yang paling memberikan harapan untuk berhasil (type of  occupation). Subjek dituntut mengecek  (cek list) atau memilih (forced choice) dianatara sejumlah tipe pekerjaan yang disukai atau tidak disukai (interes inventory). Donald E .Super (1949) sudah membedakan pernyataan verbal minat; ungkapan minat dalam melakukan aktivitas tertentu; minat yang terungkap dalam jawaban - jawaban pada suatu tes dengan menunjukan akumulasi pengetahuan disuatu bidang studi atau  bidang pekerjaan; dan minat yang dimunculkan dengan menyatakan pengetahuan sendiri kesukaan atau ketidaksukaannya (preference) terhadap sejumlah aktivitas, bidang pekerjaan atau niai – nilai kehidupan(Interest inventory).
e)                  Tes Perkembangan Vokasioal, yang mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (Vocation); dalam  memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan ciri – ciri kepribadian serta tuntutan sosial – ekonomis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Tes macam ini meneliti taraf kedewasaan orang mudah dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaan (career maturity).
f)                   Tes kepribadian, yang mengukur ciri – ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang- bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Termasuk dalam kelompok tes ini: tes proyektif (projektive test), yang meneliti sifat – sifat seorang melalui reaksi – reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian (personality inventory; adjustive inventory), yang meneliti berbagai ciri kepribadian seorang dengan menganalisa jawaban – jawaban tertulis atau sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang itu. Tes proyektif hanya diadministrasikan oleh  seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahi dalam menafsirkannya. Data yang diperoleh berdasarkan suatu angket kepribadian, yang dimanfaatkan oleh konselor diinstitusi pendidikan, pun harus ditafsirkan dengan sangat hati- hati dan selalu diintegrasikan dengan data lain yang tersedia mengenai orang bersangkutan.
3.                  Program Testing dan penggunaan hasil testing
Secara ideal siswa – siswa di jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah dikenai sejumlah tes yang diberikan pada waktu – waktu tertentu. Ini berlaku bagi seluruh siswa dan merupakan program testing umum. Program testing umum diselenggarakan atas tanggung jawab institusi pendidikan. Pimpinan sekolah bersama staf guru dan staf bimbingan menyusun suatu program testing berkala, dengan memilih tes – tes yang paling relevan berkaitan dengan tujuan pendidikan institusional. Disamping itu dapat juga direncanakan suatu program testing khusus bagi siswa tertentu yang membutukan lebih banyak informasi tentang dirinya sendiri; kebutuhan itu biasnya lebih menjadi nyata dalam rangka proses konseling individual. Dalam keadaan ini  konselor sekolah, bersama dengan siswa atau orang tuanya serta guru berkepentingan, menyusun suatu program testing selama periode waktu yang tidak terlalu lama. Data hasil program testing umum dapat sangat bermanfaat untuk keperluan pelayanan bimbingan. Data program testing khusus ini pasti bermanfaat bagi siswa yang sedang menjalin proses konseling, karena data itu sengaja didayaupayakan supaya proses konseling dapat membawa hasil positif. Maka, seorang  konselor sekolah harus menguasai cara yang mengena untuk menyampaikan data itu kepada peserta didik dan untuk menjamin penafsiran tepat data itu oleh mereka. Konselor diperguruan tinggi biasanya hanya dilibatkan dalam suatu program testing khusus bagi mahasiswa yang ternyata membutuhkan.
Mengingat bahwa kenyataan irama perkembangan dalam berbagai aspeknya bagi masing – masing siswa berbeda dan setiap tes hanya mengukur keadaan siswa pada saat tes itu dikerjakan, sangat tepatlah tes – tes tertentu diberikan secara berulang kali dengan jarak waktu diantara saat –saat testing yang wajar. Shertzer dan Stone (1981) menyarankan, supaya dalam rangka program testing umum selama masa pendidikan di jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang pendidikan menengah diberikan tes kemampuan intelektual paling sedikit empat kali, tes hasil belajar di bidang- bidang studi yang pokok paling sedikit tiga tahun sekali, dan tipe tes hasil belajar tes kompetensi pada waktu – waktu tertentu. Dalam rangka program testing khusus dianjurkan supaya tes diagnostik dan tes kesiapan diberikan secara individual menurut kebutuhan. Demikian pula tes kemampuan khusus, tes perkembangan vokasional, tes minat, dan tes kepribadian menurut kebutuhan yang tampak dalam proses konseling. Namun, saran ini hanya berlaku pada umumnya dan tetap diakui kemungkinan jumlah kali penyelenggaraan testing dan jumlah macam tes ditambah, lebih – lebih dalam rangka program testing umum.
Tes – tes mana yang sebaiknya diberikan, perlu dipertimbangkan dengan seksama. Dalam rangka program teting umum dapat dibentuk sebuah panitia, yang terdiri atas beberapa anggota staf tenaga pendidikan dari kalangan guru dan petugas bimbingan. Dalam hal testing hasil belajar (achievement testing), tenaga pengajarlah yang harus meninjau relevansi isi tes terhadap materi – materi bidabg studi dalam hal testing kemampuan intelektual petugas bimbinganlah yang dapat memberikan pandangan mengenai relevansi tes terhadap tujuan pendidikan institusional. Dalam rangka program testing khusus petugas bimbinganlah yang paling berwenang menilai kegunaan tes kemampuan khusus, tes minat, tes perkembangan vokasional, dan tes kepribadian. Manfaat dari suatu tes diagnostik dan tes kesiapan perlu dikonsultasikan dengan tenaga pengajar dari bidang studi bersangkutan. Bagaimanapun juga, setiap tes yang ditawarkan untuk diberikan kepada siswa, baik dalam rangka program testingu umum maupun dalam rangka program testing khusus, harus dipelajari secara kritis dengan meninjau: taraf validitas dan jenis validitas, taraf releabilitas, relevasi sampel terhadap siswa di institusi pendidikan bersangkutan, macam skor komparatif yang digunakan, besarnya penyimpangan dalam pengukuran (standard error of measurement) untuk dapat memperkirakan skor yang sebenarnya diperoleh siswa, praktikabilitas tes, dan cara hasil dilaporkan serta ditafsirkan. Penawaran sebuah tes oleh pihak luar, yang dikatakan telah memenuhi persyaratan untuk suatu tes yang distandardisasikan, belumlah merupakan jaminan bahwa tes itu sungguh – sungguh memenuhi semua persyaratan itu dan sesuai dengan kebutuhan siswa di lembaga pendidikan bersangkutan. Di samping itu, sebelum kelompok siswa dikenai suatu tes, perlu dijelaskan kepada mereka dengan tujuan apa tes itu. Dengan kata lain, siswa harus diberi motivasi. Kalau tidak, siswa akan mengerjakan tes itu secara serampangan tanpa berusaha sungguh – sunggu, dengan alasan: “Hasil tes itu tidak akan dimasukkan dalam buku rapor, kenapa sih memeras otak tanpa guna?”.
Testing dalam rangka proses konseling dengan siswa dan mahasiswa tertentu, termasuk program testing khusus sebagaimana dijelaskan di atas. Apakah siswa dan mahasiswa sebaiknya menempuh suatu tes, tergantung dari beberapa pertimbangan, antara lain: apakah tes akan menghasilkan suatu diskripsi tentang salah satu aspek dalam tingkah laku atau kehidupan batin konseli yang bermanfaat untuk ditelaah lebih lanjut?, apakah testing akan menyajikan informasi dengan cara yang lebih efisien dari pada metode - metode yang lain?, apakah testing akan meningkatkan pemahaman konseli terhadap diri sendiri dan pemahaman konselor terhadap konseli? Kalau pernyataan – pernyataan di atas dapat dijawab dengan ya, penggunaan suatu tes dapat dipertanggungjawabkan. Dalam keadaan ini testing dapat bermanfaat bagi:
a)                  Konselor, untuk menentukan apakah dia mampu dan cukup berwenang untuk memberikan pelayanan, dan untuk memperoleh gambaran global tentan inti permasalahan serta taraf berat ringannya, sebelum konseling yang sebenarnya dimulai. Untuk itu suatu angket kepribadian atau daftar cek masalah yang terandalkan dapat sangat sesuai.
b)                  Konselor, untuk memperoleh gambaran lebih mendalam dan lebih lengkap tentang berbagai aspek dalam kepribadian konseli dan dengan demikian dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Suatu tes kemamnpuan intelektual dan hasil belajar (kalau belum termasuk program testing umum), tes minat, tes perkembangan vokasional, dan tes kepribadian dapat membantu konselor dalam hal ini.
c)                  Konseli, untuk dapat menentukan apakah suatu program pendidikan lanjutan atau jenis pekeerjaan sesuai baginya atau tidak. Dalam hal ini suatu tes kemampuan intelektual, tes hasil belajar, tes kemampuan khusus, dan tes minat dapat sangat bermanfaat, karena data hasil testingbersama dengan penafsirannya menyajikan informasi yang patut dipertimbangkan dalam membuat pilihan dan mengambil keputusan. Mengingat kenyataan bahwa banyak siswa cenderung membuat ssuatu pilihan berdasarkan kesan subjektif tentang diri sendiri dan kecocokan programstudi atau jenis pekerjaan baginya sebelum diadakan testing, data hasil akan memberikan konfirmasi terhadap pilihannya atau memberikan indikasi bahwa pilihannya sebaiknya ditinjau kembali. Seandainya siswa belum membuat pilihan, data hasil testing bersama dengan penafsirannya yang menyatakan tidak sesuai sangat bermanfaat, karena memberikan indikasi tentang  bidang studia atau bidang pekerjaan yang sebaiknya tidak ditinjau lagi. Dengan demikian, siswa berpikir dengan cara mengesampingkan alternatif - alternatif yang tidak mengandung banyak harapan, sebelum meninjau alternatif – alternatif yang memberikan harapan. Berkaitan dengan validitas peramal, hasil testing yang rendah mengandung daya peramal yang lebih kuat daripada hasil testing yang tinggi. Untuk seorang mahasiswa yang kurang berhasil dalam program studi yang telah dipilihnya, hasil testing dapat memberikanindikasi mengenai persoalan, apakah dia salah pilih pada waktu masuk perguruan tinggi.
d)                 Konseli, untuk memahami dirinya dengan lebih baik, juga sebelum dihadapkan pada keharusan untuk membuat suatu pilihan mengenai program studi atau jenis pekerjaan. Data hasil testing mengenai berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin, yang ditafsirkan secara tepat dan dikomunikasikan kepada konseli secera mengena dan jelas, dapat meningkatkan kemampuan refleksi diri dan mengembangkan ketajaman serta ketepatan evaluasi diri, terutama dalam hal taraf prestasi belajar, kemampuan intelektual, dan minat.
Sama seperti dalam progaram testing umum, konseli harus bermotivasi baik sebelum akan menempuh suatu tes psikologis, supaya bersikap serius dalam mengerjakannya dan lebih siap menerima hasilnya sebagai informasi yang berguna baginya, juga bilamana hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Testing tidak boleh dipaksakan, tetapi boleh dianjurkan bila data yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh dengan cara lain dan tersedia alat ets yang relevan. Konselor harus menjelaskan informasi apa yang dapat diperoleh dari testing  dan untuk apa hasil testing dapat digunakan, dengan menekankan bahwa testing bukan sumber inforamasi rentang dirinya  yang bertaraf sama dengan Wahyu Tuhan secara pribadi, melainkan menyajikan informasi yang nantinya harus diintegrasikan dengan data lain yang tersedia, seperti cita – cita hidup, pandangan orang tua serta saudara, dan keadaan sosial-ekonomis keluarga. Penentuan tentang tes mana yang paling relevan bagi kebutuhan konseli adalah wewenang konselor di institusi pendidikan, yang seharusnya mengetahui kelebihan dan kelemahan dari tes – tes yang tersedia, biarpun bukan konselor sendiri yang mengadministrasi tes itu. Data hasil testing dan laporan hasil etsting yang dikirimkan oleh psikolog atau lembaga yang berwenang, tidak terbuka bagi siapa saja, tetapi hanya untuk mereka yang berkepentingan dan menggunakan informasi itu untuk membantu konseli, misalnya orang tua konseli, guru bidang studi yang bersangkutan, psikolog atau psikiater yang dihubungi kemudian dan dengan dirinya konseli sendiri. Maka, barlakulah suatu etika testing, yang biasanya terumuskan dalam kode etik konselor sekolah. Bahkan, data hasil program testing umum bukanlah milik umum yang terbuka bagi siapa saja tanpa kualifikasi apapun.
Sebagaimana dikemukakan dalam bab III C, 1, pemberian informasi kepada siswa dan mahasiswa tentang hasil testing termasuk juga dalam layanan pengumpulan data. Adalah sangat penting, agar pemberian informasi dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga bersifat akurat, bermakna bagi subjek yang telah menempuh tes, dan tidak menimbulkan salah paham. Panitia staf sekolah yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan program testing umum di sekolah menengah, seharusnya memikirkan juga prosedur untuk menyampaikan hasil testing kepada siswa. Seandainya konselor sekolah diminta bantuannya dalam hal ini, konselor dapat memberikan penjelasan yang bersifat umum di dalam kelas dan mengundang siswa satu per satu untuk melihat serta membicarakan hasil testing di ruang kerjanya. Dalam kasus konseli tertentu, yang telah menempuh suatu program sebelum testing khusus, konselor harus mempelajari keseluruhan hasil testing lebih dahulu sebelum mengundang konseli untuk membicarakan hasil testing. Dalam mempelajari hasil testing, diusahakan untuk menemukan suatu pola, indikasi tentang inti permasalahan, dan indikasi tentang alternatif – alternatif pilihan yang dimungkinkan atau tidak dianjurkan. Dengan kata lain, hasil testing diolah dan ditafsirkan lebih dahulu sebelum siswa diajak berbicara. Dalam diskusi dengan konseli selanjutnya, konselor pada umumnya akan berpegang pada kebijaksanaan sebagai berikut:
a)                  Menghindari penggunaan istilah teknis yang sukar dipahami atau dijelaskan secara memadai.
b)                  Tidak memberitahukan skor mentah tanpa menjelaskan artinya, misalnya “skor sekian berarti hasil tinggi, hasil cukup, atau hasil rendah”. Bahkan sering cukup memberitahukan, misalnya: Dari hasil tes ini tampak bahwa anda mengalami kesulitan dalam bidang ini-itu; Anda cocok atau tidak cocok  untuk bidang ini-itu; anda sebaiknya memikirkan lagi pilihan ini-itu, karena hasil testing memberikan indikasi bahwa....; dan sebagainya.
c)                  Tidak menggunakan kata – kata normal atau abnormal dalam mendeskripsikan posisi konseli terhadap orang – orang  lain yang mengambil tes itu, lebih – lebih pada tes minatdan tes kepribadian. Seandainya tersedia profil testing (testing profile) dan tabel ramalan / perkiraan (expectancy table), posisi konseli dapat dijelaskan sehingga konseli sendiri dapat menarik kesimpulan tentang keadaan dirinya.
d)                 Memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengutarakan pendapat dan perasaannya terhadap informasi yang disampaikan kepadanya, lebih – lebih konselor mendapat indikasi bahwa konseli merasa kecewa, terkejut, dan ragu – ragu serta cenderung untuk tidak yakin akan relevansi data hasil testing baginya. Sikap dan perasaan konseli mengungkapkan makna yang diambilnya.
e)                  Membicarakan hasil testing minat lebih dahulu sebelum membicarakan hasil testing kemampuan. Demikian pula skor – skor tinggisebelum membicarakan skor – skor rendah. Para konseli pada umumnya cenderung lebih bersikap defensif terhadap hasil testing kemmapuan dan kenyataan yang tercermin dalam skor – skor rendah.
f)                   Memperhitungkan kemungkinan, bahwa hasil testing kemampuan dan hasil testing belajar menyimpang dari penilaian yang telah yang telah diberikan oleh guru – guru sebagaimana, misalnya, tercermin dalam nilai – nilai di buku rapor. Hal ini  dapat terjadi karena norma penilaian yang diterapkan oleh guru – guru lebih murah daripada yang diterapkan dalam tes. Bahkan dewas ini banyak guru cenderung untuk semakin murah dalam memberikan penilaian, supaya tidak muncul terlalu banyak nilai kurang dan siswa tidak merasa frustrasi. Sebagai akibatnya, banyak siswa cenderung untuk lebih percaya pada hasil penilaian guru bila hal ini lebih menguntungkan bagi mereka, misalnya berkaitan dengan pilihan program studi di SMA, daripada lebih percaya pada hasil testing yang bertaraf lebih rendah. Pengarang sudah mengalami berkali – klai bahwa siswa menuntut diterima di program studi SMA yang diinginkan bila hasil penilaian guru memungkinkan, meskipun hasil testing memberikan indikasi negatif. 


BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Testing adalah suatu metode penelitian psikologis untuk  memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Aspek aspek testing yang relevan, yaitu standardisasi,objektif, validitas, reliabilitas. Tujuan alat tes yang pokok adalah untuk meramalkan atau memperkirakan, untuk mengadakan seleksi, untuk mengadakan klasifikasi, untuk mengadakan evaluasi. Adapun pembagian alat tes menurut isi adalah tes hasil belajar, tes kemampuan intelektual,tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, tes minat, tes perkembangan vokasional, tes kepribadian. Tes dapat bermanfaat bagi konselor dan konseli. Konselor pada umumnya akan berpegang pada kebijaksanaan adalah menghindari penggunaan istilah teknis yang sukar dipahami atau dijelaskan secara memadai, tidak memberitahukan skor mentah tanpa menjelaskan artinya, tidak menggunakan kata – kata normal atau abnormal, memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengutarakan pendapat dan perasaannya terhadap informasi yang disampaikan kepadanya, membicarakan hasil testing minat lebih dahulu sebelum membicarakan hasil testing kemampuan, dan memperhitungkan kemungkinan, bahwa hasil testing kemampuan dan hasil belajar menyimpang dari penilaian. 
B.                 Saran
Penulis sadar akan kekurangan dan kelemahan dalam menguraikan kata-kata atau kalimat. Penulis mengharapkan masukkan dan kritikan jika ada yang kurang dan ada kesalahan dalam penulisan untuk dijadikan perbaikan di masa yang akan datang agar dapat berupaya untuk jadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Winkel dan Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Lama Witak

About Lama Witak

Peace and Love

Tidak ada komentar:
Write komentar

AYO BERKOMENTARLAH

Join Our Newsletter