Tentang Subsidi BBM:
Najwa: “Sebagai seorang presiden kelak, anda mesti
mengetahui berbagai persoalan bangsa ini, dan mempunyai pengetahuan dan wawasan
yang luas mengenai dunia internasional.”
“Salah satu persoalan yang kerap melanda bangsa ini adalah
soal subsidi BBM, yang kian lama kian membengkak. Tahun ini APBN tersedot untuk
subsidi BBM itu dipastikan mencapai angka Rp. 222,8 triliun. Bagaimana pendapat
anda mengenai subsidi BBM ini?”
Rhoma: “Wah, saya baru tahu kalau
hanya untuk penggunaan BBM pemerintah menganggarkan subsidi anggaran sampai sedemikian besarnya. Rp. 222,8 triliun itu pasti sangat besar, ya? Ini suatu pemborosan dan kebodohan yang luar biasa dari pemerintah saat ini. Pemerintah tidak mendidik masyarakat akan berperilaku hemat, malah mengikuti pola konsumtif masyarakat kita dengan mengadakan subsidi anggaran sebesar itu hanya untuk BBM. Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka yang menggunakan BBM itu adalah dari kalangan mampu.”
hanya untuk penggunaan BBM pemerintah menganggarkan subsidi anggaran sampai sedemikian besarnya. Rp. 222,8 triliun itu pasti sangat besar, ya? Ini suatu pemborosan dan kebodohan yang luar biasa dari pemerintah saat ini. Pemerintah tidak mendidik masyarakat akan berperilaku hemat, malah mengikuti pola konsumtif masyarakat kita dengan mengadakan subsidi anggaran sebesar itu hanya untuk BBM. Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka yang menggunakan BBM itu adalah dari kalangan mampu.”
Najwa: “Jadi, menurut anda, subsidi BBM itu harus dihapus,
atau bagaimana?”
Rhoma: “Tentu saja harus dihapus. Untuk apa mengsubsidikan
masyarakat mampu hanya untuk penggunaan BBM seperti itu.”
Najwa: “Bagaimana mekanisme penghapusan subsidi BBM
tersebut? Tentu kalau dilakukan secara tiba-tiba akan berpotensi memicu gejolak
sosial dan politik yang tinggi?”
Rhoma: “Secara spesifik, saya sendiri tidak memahami soal
penggunaan BBM. Karena saya sendiri tidak pernah menggunakan BBM. Namun
demikian saya yakin bahwa penghapusan BBM itu harus dilakukan pemerintah.
Karena selain menghemat anggaran, juga mendidik masyarakat untuk tidak
konsumtif. Yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara kafir saja!”
“Tentang gejolak sosial-politik, saya tidak yakin itu bakal
terjadi. Masa hanya menghapus subsidi BBM bisa menimbulkan gejolak sosial dan
politik? Mbak Najwa ini ada-ada saja, kalau bertanya. Bilamana perlu pemerintah
melarang saja penggunaan BBM itu!”
Najwa: “Saya tidak akan bertanya secara spesifik soal
subsidi BBM ini. Tetapi saya terkejut mendengar anda tidak pernah menggunakan
BBM?! Lebih terkejut lagi, anda mengatakan bilamana perlu pemerintah melarang
penggunanan BBM. Apakah itu mungkin? Terus, apa kaitannya dengan penggunaan BBM
hanya menguntungkan negara kafir? Negara mana yang anda maksudkan? … Rasanya,
ada yang tidak beres, nih?”
Rhoma: “Ya, memang ada yang tidak beres. Pemerintah sekarang
ini yang tidak beres. Kalau saya jadi presiden saya akan membereskan yang tidak
beres ini. Masa hanya untuk masyarakat menggunakan BBM harus keluar anggaran
subsidi sampai dua ratusan triliun rupiah itu? Mampu beli barangnya, tetapi
ketika digunakan biayanya harus disubsidi? Benar-benar tidak beres!
Hentikan subsidi BBM! Hentikan masyarakat yang terbiasa
menggunakan BBM! Itu sangat mungkin.
Betul, saya sendiri tidak pernah menggunakan BBM. Kalau mau
mengirim pesan, saya biasa mengirimnya melalui SMS, atau telepon langsung.
Ngapaian harus khusus beli Blackberry lagi untuk menggunakan BBM?! Itu kan
ujung-ujungnya menguntungkan negara kafir, asal BlackBerry itu, Kanada!”
Najwa (berpaling ke kamerawan): “Matikan rekamannya!”
Tentang Dunia Internasional
Najwa: “Sebagai seorang presiden kelak, tentu anda akan
berhubungan dengan dunia internasional. Dengan para pimpinan dari berbagai
negara di dunia ini. Juga dengan investor-investor swasta asing raksasa.”
“Tentu anda tahu siapa itu Ban Ki-moon? Apa pendapat anda
tentang Ban Ki-moon?”
Rhoma: “Mmmm … Dari namanya kelihatannya orang Korea, ya? O
ya, pasti yang empunya lagu dan tarian yang sedang mendunia saat ini, ya… itu
…mmmm …. apa itu namanya? Gang …, Gangnam Style?”
Najwa: “Maaf, Bang. Gangnam Style itu pencipta lagunya dan
pembawa tariannya adalah PSY, nama aslinya Park Jae Sang, bukan Ban Ki-moon.”
Rhoma: “Oh, kalau begitu, saya tidak tahu, siapa itu Ban
Ki-moon. … Seorang presiden, kan bukan
superman yang harus tahu semua semua orang?”
Najwa: “Anda tahu tentang Xi Jinping?”
Rhoma: “Pasti kerabatnya Ahok, ya?!”
Najwa (tepuk jidat, lupa lagi rekaman TV): “Waduh, bukan
Bang!”
Rhoma: “Saya belum pernah mendengar nama itu. Maka itu,
bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. Tapi, kita harus hati-hati dengan etnis
mereka! Mereka sudah mengdominasi ekonomi kita, sekarang mau masuk lagi ke
dunia politik, birokrat. Jangan-jangan Xi Jinping ini sebentar lagi akan
mengikuti jejak Ahok. Hati-hati! Anak bangsa, khususnya umat Islam akan semakin
resah dan cemas! … ” (Najwa segera memotongnya)
Najwa: “David Cameron?”
Rhoma: “Siapa itu?”
Najwa: “Steve Jobs?”
Rhoma: “Tidak kenal.”
Najwa: “Bill Gates?”
Rhoma: “Baru pertamakali ini mendengarnya.”
Najwa: “Anda begitu yakin untuk maju sebagai capres 2014,
tetapi nama-nama itu semua anda tidak tahu?!”
Rhoma: “Sekarang saya balik bertanya kepada anda: Anda tahu
siapa itu Habib Syaiful Ali ?”
Najwa: “Tidak tahu.”
Rhoma: “Ibrahim Nazaruddin?”
Najwa: “Belum pernah dengar.”
Rhoma: “Mulawarman Bakri?”
Najwa: “Siapa itu?”
Rhoma: “Kadir Abdulrachman?”
Najwa: “Tidak kenal.”
Rhoma: “Muhammad Abubakar?”
Najwa: “Baru pertamakali ini mendengarnya.”
Rhoma: “Nah, jadi sama saja, kan? Anda punya teman-teman,
saya tidak kenal. Demikian juga, saya punya teman-teman, dan anda tidak kenal!”
Najwa (sambil berdiri, berkata kepada kamerawan): “Stop
merekam! Semua rekaman ini tidak kita pakai. Kita bikin rekaman baru dengan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih umum. …. “
(Hanya humor)
Sumber : http://hiburan.kompasiana.com/humor

Tidak ada komentar:
Write komentarAYO BERKOMENTARLAH